prolog

39 18 2
                                        

Jek jek.... Satu dua jeeeekkk.... okey ekhem.

assalamualaikum temen temen!

aku hadir lagi nih, dengan karya baru, nama pena baru, judul baru, semuanya baru, hanya saja ide ceritanya aja agak sama ya dengan yang dulu.

dijamin, untuk karya yang ini, kalian akan tenggelam se-tenggelam-tenggelamnya, hehehe.

Rere pastiin itu akan terjadi😘

sebelumnya happy reading guys💐

🥀

Prolog


“Bagai musim semi yang penuh keindahan namun menyimpan beribu kerumitan di dalamnya”




Zula duduk di tepi ranjang, menekuk lutut sambil memelototi tembok kosong. Kepalanya penuh. Penuh bayangan seseorang.

Seseorang yang bahkan tidak sedang ada di sini—tapi tetap saja merajalela di pikirannya.

“Mbak Zula, ayo waktunya ngaji.”

Ah, suara itu. Dingin. Kaku. Seolah hidupnya dikendalikan oleh seorang lelaki berumur kepala dua yang tugasnya Cuma satu: bikin dia gila.

“Nggak! Aku mau nonton sama Annisa!”

Bayangannya semakin jelas. Sosok Yusuf—teman abangnya—tersenyum sinis, seolah tahu bahwa semua alasan Zula tidak akan pernah berhasil.

“Selama ada saya di pondok ini, kamu nggak akan ke mana-mana. Bundamu dan abangmu sudah kompromi sama saya.”

Zula meremas rambutnya—frustasi, membayangkan betapa muaknya ia jika kejadian itu benar-benar terjadi.

BRAK!

Di dalam pikirannya, ia sudah menggebrak meja. Membentak Yusuf sepuas hatinya.

“HIH! BISA NGGAK SIH GUS YUSUF NGGAK USAH NGATUR-NGATUR! DI MANA-MANA SELALU ADA, NYEBELIN!”

Dan Yusuf—ah, lelaki itu pasti hanya akan menatapnya datar, sambil mengucapkan nama panjangnya yang terdengar seperti vonis mati.

“Nggak bisa, Zulaikha Hanifatus Sa’adah.”

Zula mengerang frustasi.

Kenapa harus Yusuf? Kenapa lelaki itu harus ada di hidupnya?

“Batalkan janji kamu sama Annisa, atau… saya nikahin kamu sekarang juga.”

Gila. Gila!

Pikiran itu terlalu liar bahkan untuk dirinya sendiri.

Zula menggeleng cepat, berusaha mengusir skenario menyebalkan itu dari otaknya.

“Kenapa sih harus ngaji?! Bikin gila aja, huh!” gerutunya, melempar bantal ke tembok.

Namun, bayangan Yusuf tetap bertahan di sana. Bersilang tangan, tersenyum sinis

Seakan berkata, Saya selalu ada, Zula.


🥀

Gimana guys? bagus nggak?

ini masih awal, kalian harus kawal rere sampai nyelesain kisah mereka okey😆

sampai jumpa di bab berikutnya konco konco...

Tertanda.

Gaurey🍭

Sekar jagadWhere stories live. Discover now