Follow me :)
.
.
----------
Ana menatap rumah raksasa dihadapannya. Rumahnya amat besar, berlantai tiga dan lebar. Sejenak Ana ragu untuk masuk kedalam. Ana sudah membayangkan bagaimana rupa-rupa orang didalam sana. Kepala Ana menunduk, memperhatikan baju yang dipakai. Celana jins pudar longgar yang terdapat sobekan dimana-mana. Baju kaos oblong berwarna coklat pudar. Rambut sepunggung yang diikat asal-asalan. Serta wajah tanpa adanya polesan make-up.
Ana ingin mundur, namun bayangan tanda tangannya diatas kertas putih berisi perjanjian membuatnya menghela napas panjang.
"Kamu bisa Ana. Hanya butuh satu tahun dan semuanya selesai. Sabar," ujar Ana menyemangati dirinya.
Dengan tangan kiri menjinjing tas ransel lusuh. Ana mendekati tombol yang berada dipagar dan menekannya. Seketika suara tombol berbunyi. Ana mundur memperhatikan pagar yang bergerak dari dalam. Seorang satpam keluar dan sedikit terkejut melihat Ana. Ana tersenyum datar, pasti beliau ini mengira Ana seorang gembel.
"Ada yang bisa saya bantu, mbak?" Bapak satpam itu bertanya sopan.
Ana mengangguk. "Apakah benar ini rumah Tuan Allard Kallenz?"
Bapak satpam mengangguk ragu. "Benar. Anda siapa yah?"
"Saya Ana. Sebelumnya saya sudah memberitahu Tuan Allard saya mau datang ke sini."
Kepalanya mengangguk. "Bentar, yah, nak. Bapak telpon dulu orangnya." Ana mengangguk memperhatikan bapak itu masuk kedalam pos kecil dan meraih ponsel. Bapak itu berbicara ditelpon sembari memperhatikan Ana yang sedang menunduk memainkan batu kerikil menggunakan sendal jepitnya.
"Mbak, Ana."
Ana tersentak. Ia mendongak dengan mata sedikit melotot efek terkejut tapi wajahnya datar. Ana melamun memikirkan kehidupannya selama setahun tinggal dirumah ini. "Iya, Pak."
"Ayo, mbak, silahkan masuk. Di dalam udah ada Mbok Iyem." Bapak itu mengajak Ana untuk masuk. Ana masuk dengan wajah segan. Dia merasa kecil hati dan minder melihat rumah besar didepannya dengan warna cat dinding emas. Ana sedikit mengutuk pemilik rumah karena telah mengizinkan orang gembel seperti dirinya memasuki rumah mewah ini.
Ana meluruskan pandangannya. Meskipun penampilannya seperti orang gila, ia tidak mau terlihat norak. Cukup model pakaiannya membuat orang-orang menoleh padanya. Tidak lagi dengan tingkahnya.
Ana melihat seorang wanita paruh baya dengan pakaian santai berdiri di-teras rumah. Ini kayaknya Mbok Iyem, pikir Ana. Ana memperhatikan mbok Iyem yang tersenyum ramah kearahnya sampai Ana berhenti didepan Iyem.
"Ini mbaknya." Bapak satpam menunjuk Ana dengan sopan.
Iyem mengangguk. "Iya, Pak. Makasih udah diantar." Iyem menoleh pada Ana. Bibirnya tersenyum keibuan. "Ayo sayang. Ikut, mbok." Iyem merangkul tangan kanan Ana dan keduanya masuk kedalam rumah.
Begitu masuk, hembusan angin yang begitu sejuk membuat Ana memejamkan matanya dengan lega. Hawa panas matahari diluar sana langsung dihempas oleh hawa AC yang menyejukkan. Bulir-bulir keringat Ana langsung menyusut.
"Mbok udah dengar ceritanya dari Den Allard. Nah, selama setahun kamu tinggal disini. Mbok yang akan menemani kamu. Semua kerjaan di rumah ini biar menjadi tugasnya mbok. Kamu cukup ikuti perintah Den Allard." Iyem menjelaskan pada Ana. Namun si empunya malah memandangi seisi rumah dengan datar. Ana sedikit bingung mendapati rumah besar ini begitu sepi. Kemana orang-orang yang ada dibayangan Ana?
