sekolah Madrasah Tsanawiyah kelas 3E, kebiasaan buruk memanggil teman dengan nama bapak adalah hal lumrah. Meski kadang lucu, kebiasaan ini sering jadi pemicu keributan kecil di kelas. Saya, seorang siswa di kelas 3E, sudah terbiasa dengan suasana gaduh ini. Berbeda dengan saya, adik perempuan saya, Tara, adalah siswi di kelas 1A—kelas khusus anak-anak pintar dan sopan. Tapi jangan salah, meskipun Tara terlihat sopan di kelasnya, dia dikenal pemarah dan berani melawan siapa saja yang berani mengejek keluarganya.
Suatu hari, ketika saya sedang bersantai tiduran di meja kelas, Tara tiba-tiba muncul di pintu kelas 3E. Langkahnya cepat dan penuh emosi. Tanpa basa-basi, dia menunjuk ke arah teman-teman sekelas saya dan dengan nada marah bertanya,
“Siapa yang barusan manggil nama ayah saya?”
Seluruh kelas terdiam. Saya, yang sedang menikmati waktu santai, langsung tersentak dan bangun dari posisi tidur. Saya buru-buru mendekati dia sebelum suasana makin panas.
“Dek, dek, sabar dulu!” ujar saya sambil mencoba menarik Tara menjauh dari kerumunan.
Dia tetap bersikeras, menatap satu per satu wajah teman saya dengan tatapan tajam. “Tadi saya dengar jelas ada yang manggil-manggil nama ayah kita. Siapa orangnya?!”
Saya menghela napas panjang, sambil menunjuk ke arah salah satu teman saya yang duduk di belakang, seorang anak kecil berkulit gelap bernama Johansyah.
“Dek, itu bukan manggil ayah kita,” jelas saya dengan sabar. “Itu tadi si Muhyi manggil Johansyah, kawan kakak. Namanya emang mirip sama nama ayah, tapi bukan ayah kita.”
Dia, yang tadinya seperti banteng siap menyeruduk, langsung berubah ekspresi. Wajahnya memerah karena malu, lalu dia buru-buru meminta maaf.
“Oh, maaf, Bang. Kirain tadi abang manggil ayah saya,” ujarnya sambil melirik ke arah Muhyi.
Muhyi, yang dari tadi hanya memperhatikan dengan senyum geli, akhirnya angkat bicara.
“Adik lu galak juga ya, sama kaya lu,” katanya sambil tertawa kecil.
Saya hanya mengangguk dan menjawab, “Turunan, yi. Sorry!” Lalu, saya segera membawa Tara keluar dari kelas sebelum dia membuat keributan lagi.
Namun, cerita ini belum selesai. Begitu saya kembali ke kelas, Muhyi sudah menunggu saya di bangku depan. Dia menyeringai lebar sambil berkata,
“Hai, Johan, hai!”
Seketika, rasa kesal saya memuncak. Tanpa pikir panjang, saya melempar buku tulis ke arah Muhyi sambil berkata,
“Dasar Muhyi! Jangan kebanyakan bercanda lu!”
Kelas kembali riuh dengan tawa teman-teman, sementara saya hanya bisa menggelengkan kepala. Hari itu, saya sadar satu hal: punya nama bapak yang biasa disebut orang bisa jadi sumber masalah, apalagi kalau punya adik seperti Tara!
Disclaimer : kejadian nyata yg terjadi di tahun 1998/1999 yg dialami langsung oleh saya, penulis.
