Hai, Dwi...
Aku suka senja, novel, dan kamu.
Apa kamu juga merasakan hal yang sama?
April Meyzara
______________
Surat dalam amplop merah itu tidak pernah tersampaikan. Tersimpan rapi di dalam loker perpustakaan.
Lagi pula untuk apa disampaikan, sa...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Hai, Dwi...
Aku suka senja, novel, dan kamu.
Apa kamu juga merasakan hal yang sama?
April Meyzara
Surat dalam amplop merah itu tidak pernah tersampaikan. Tersimpan rapi di dalam loker perpustakaan.
Lagi pula untuk apa disampaikan, saat kemungkinan jawaban sudah begitu jelas adanya. Tidak.
_______
Delapan tahun berlalu. Aku kembali mengunjungi sekolah lama itu. Kali ini bukan sebagai murid, melainkan penulis tamu yang diundang untuk mengisi acara bedah buku novel terbarunya.
Acara itu diadakan di perpustakaan. Berjalan lancar dan penuh antusias para peserta didik baru. Tanya-jawab mengalir deras sesekali ditimpa tepuk tangan meriah yang membakar suasana.
Harusnya setelah acara itu berakhir, aku kembali ke kota, bersiap menghadiri acara bedah buku di tempat lain. Namun, loker usang di pojok perpustakaan itu terlalu menarik perhatian. Membuatku tanpa sadar melangkah mendekat.
Hanya sebuah loker besi yang sudah berkarat, seperti sudah lama tidak digunakan mengingat banyaknya debu di atasnya. Seingatku dulu, loker ini menjadi rebutan untuk menyimpan satu-dua novel perpustakaan agar tidak dipinjam orang. Mengamankannya.
Harusnya di nomor 78.
"Ketemu!"
Itu loker milikku. Sengaja tidak dikunci. Hanya ada sebaris nama tertera di bawah nomor loker, sebagai tanda itu loker yang sudah bertuan.
April Meyzara
"Sedang bernostalgia?"
Suara itu menghentikan gerakan tangan. Membuat aku menoleh, mendapati sosok pemuda yang membawakan sebuah ponsel, yang katanya tertinggal di atas meja.
"Begitulah." Aku menyahut singkat. "Apa kita harus pergi sekarang juga, Bi?"
Bian, pemuda itu menggeleng. Masih ada waktu. "Lima menit. Lebih dari cukup untuk mengenang cinta pertamamu, bukan?"
Aku terkekeh. Selain sahabatku, Usna, Bian adalah orang ke-dua yang tahu akan kisah cinta pertama milik seorang April. Juga termasuk drama di dalamnya.
"Berarti loker ini yang kamu maksud?"
Aku mengangguk.
"Menurutmu, apa surat itu masih ada di sini?"
"Harusnya."
"Bagaimana kalau kita bertaruh?" Bian melangkah maju, jemarinya sudah lebih dulu menyentuh pegangan loker. "Aku tebak, surat itu sudah tidak ada lagi di sini."
Aku mengangkat alis. Bian balas mengeluarkan kartu atm dari dompet.
"Kamu bisa menghabiskan saldo di kartu atm ini kalau tebakanku salah. Kalau aku benar, mari kita habiskan liburan satu minggu penuh di Paris dari royalti novel terbarumu."
"Setuju."
Lagi pula, tidak akan ada orang iseng yang akan membuka loker usang milik orang lain. Harusnya begitu, bukan?
"April!"
"Hm?"
"Amplop suratmu berwarna biru atau merah?"
"Merah."
Bian menutup loker. Membuatku menatapnya bingung. Ada apa?
"Sepertinya ini akan menghabiskan waktu lebih dari lima menit."