Rumah Tanpa Pintu ~1

22.2K 451 50
                                        

~Happy Reading~

***

Semua pasang mata menatap bayi mungil yang berada dalam genggaman Larasita. Wanita berusia lima puluh tahun itu tersenyum menatap wajah polos tanpa dosa bayi yang kini terlelap, mengabaikan tatap-tatap tidak suka dari anak dan menantunya yang berkali-kali mendengus sebal.

Diana berdehem singkat untuk menarik perhatian Larasita dari bayi mungil itu. "Bu, kita nggak bisa terima bayi itu. Dia bukan bagian dari keluarga kita," ujarnya ketus.

Larasita mengerutkan dahi mendengar itu. Tatap matanya beralih pada si anak bungsu, Ibra Galantara. "Kenapa tidak kamu tanyakan pada Ibra, Diana. Tanyakan padanya tentang siapa bayi yang tengah ibu timang dengan penuh kasih sayang ini."

Ibra memalingkan wajah kala ibunya menunjuk dengan tatap mata tegas. Kedua tangannya mengepal yang dengan cepat Andini pegang agar tensinya teredam.

Larasita mengusap pelan pipi lembut sang bayi. Dadanya berdenyut kala ia bertemu dengan ibu sang bayi yang menangis tersedu sembari menyerahkan bayi itu padanya. Masih hangat di kepalanya bagaimana cerita tentang awal mula bayi itu ada. Memancing amarah yang kemudian ia redam kuat-kuat dan mencoba berpikir lebih luas tentang masa depan.

Itu adalah bayi laki-laki yang mana adalah cucu kandung keluarga Galantara yang pertama. Lebih tepatnya, cucu laki-laki pertama karena Diana dan Samira keduanya memiliki masing-masing anak perempuan.

"Namanya Svarga." Bibir Larasita tersenyum tipis. "Svarga Galantara, cucu laki-laki pertama keluarga Galantara..."

Ibra menggebrak meja dengan kasar sampai semua mata beralih padanya. Napasnya jelas sekali memburu sampai Andiri berkali-kali mengusap lengannya dan memintanya untuk lebih tenang.

"Dia bukan anakku, Ibu!" Ibra bersuara keras sembari menunjuk Svarga.

"Mas!" Tegur Andini.

Larasita menggeleng. "Dia anakmu, Ibra. Dia lahir dengan darahmu mengalir di dalam tubuhnya," ucapnya jelas.

"Anakku hanya anak yang tengah dikandung Andini. Anakku dan Andini juga anak laki-laki, Bu. Lebih baik bawa bayi itu ke panti saja!" Ibra benar-benar marah sampai tidak peduli kalau ia baru saja membentak sang ibu.

Larasita kembali menggelengkan kepalanya. Didekapnya Svarga lebih erat sebagai isyarat kalau ia tidak ingin ada yang mengambil bayi itu.

"Maafkan saya yang telah menjebak Mas Ibra, Bu. Saya khilaf dan terlena dengan perasaan, saya juga tidak ingin ada bayi yang hadir menjadi penghancur keluarga Mas Ibra..."

Tangis perempuan itu bergaung di kepala Larasita. Mengetuk batin keibuannya yang kembali terluka melihat sorot mata perempuan itu yang penuh penyesalan, juga rasa bersalah pada Svarga yang tidak tahu menahu tentang apa pun yang terjadi pada orang tuanya.

"Keputusan Ibu sudah bulat. Svarga akan segera resmi menjadi cucu keluarga Galantara." Larasita mengecup lembut pelipis Svarga.

Keputusan final itu tentu semakin memantik amarah dari ketiga anaknya yang tidak terima. Namun sebagai yang paling berkuasa, Larasita tetap pada keputusannya dan akan memperlakukan Svarga selayaknya cucu laki-laki pertama dalam sebuah keluarga besar.

Rumah Tanpa Pintu [Completed]Where stories live. Discover now