haloo
happy reading...
"Aku pulang," ucap seorang gadis berambut panjang sepinggang yang dibiarkan terurai saat memasuki rumahnya.
Rumah itu tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil—tapi nyaman untuk ditempati.
Gadis berseragam SMP itu berjalan pelan, mencari penghuni lain di rumah tersebut. Saat langkahnya menuju dapur, ia melihat seorang wanita paruh baya sedang memasak—yang tak lain adalah ibunya sendiri.
Ia melangkah mendekati wanita paruh baya itu. Langkahnya pelan, tapi pasti.
"Ibu masak apa?" tanya gadis itu dengan nada ceria, senyum manis terbit di wajahnya.
Wanita yang dipanggil 'Ibu' itu menoleh ke arah putrinya yang baru pulang sekolah.
"Eh, sayang. Kamu sudah pulang," ucap sang ibu, tersenyum hangat mendapati anak keduanya berdiri di hadapannya.
"Kamu ganti baju dulu ya. Habis itu, kita makan bersama," lanjut sang ibu, menyuruh anaknya untuk berganti pakaian lebih dulu.
"Tapi aku ingin bantu Ibu," balas gadis itu dengan raut wajah memelas, berharap ibunya mengizinkannya ikut memasak.
Wanita paruh baya itu tersenyum lembut. "Tidak usah, biar Ibu saja. Ini juga sebentar lagi selesai," jawabnya lembut.
"Baiklah, aku ke atas dulu," ujar gadis itu, menghela napas pelan. Ia menampilkan senyum kecil sebelum beranjak naik ke kamarnya.
Namun sebelum sampai di lantai atas, ibunya berteriak dari arah dapur.
"Panggil juga adikmu! Suruh segera turun makan!"
Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya akan melakukan apa yang diperintahkan.
Setelah mengganti bajunya di kamar mandi, ia mengetuk pintu kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya.
"Rena, ayo turun. Ibu manggil mu untuk makan!" teriaknya pelan di depan pintu adiknya.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Seorang gadis berambut pendek sepundak keluar—tingginya hampir sama dengan sang kakak.
Melihat adiknya sudah keluar, ia menarik tangan adiknya untuk turun bersama.
Di ruang makan, sang ibu menoleh dan tersenyum melihat kedua putrinya sudah berkumpul.
"Ayo duduk, Nak," pinta sang ibu lembut.
Mereka bertiga pun duduk dan mulai menikmati hidangan yang sudah disiapkan.
Tak ada suara selain dentingan sendok. Mereka makan dalam keheningan yang damai.
---
Kini mereka bertiga tengah berada di ruang tamu, mengobrol ringan tentang hal-hal acak.
"Bang Reno mana, Bu?" tanya gadis berambut panjang itu, heran melihat kakak sulungnya tidak di rumah.
"Belum pulang," jawab sang ibu dengan senyum tipis. Meski usianya hampir menyentuh kepala empat, wanita itu tetap terlihat cantik dan segar.
Namanya Shakira Chalista—seorang janda, ditinggal suaminya saat mengandung anak bungsu mereka karena kecelakaan. Sang suami meninggal di tempat, sementara ia dan bayi dalam kandungannya selamat.
Sejak saat itu, ia membesarkan ketiga anaknya seorang diri. Ia menolak untuk menikah lagi, memilih menjadi janda seumur hidup demi anak-anaknya yang masih sangat membutuhkan sosok ayah.
---
Gadis berambut panjang itu kembali menaiki tangga. Ia ingin ke kamarnya untuk beristirahat. Namun saat membuka pintu, ia melihat sesuatu yang membuatnya mengernyit.
Di atas nakas, tergeletak sebuah kotak kado kecil berwarna hitam.
Bingung, ia melangkah mendekat.
Siapa yang menaruh ini di kamarku? pikirnya.
Ia menatap sekeliling kamar, memastikan apakah seseorang sempat masuk. Pandangannya berhenti di jendela—yang ternyata terbuka.
Keningnya mengerut. Ia yakin betul sebelum turun tadi, jendela itu sudah tertutup.
Tak ingin terlalu ambil pusing, ia melangkah ke nakas dan membuka kotak itu.
Isi di dalamnya membuat matanya membesar. Sebuah foto—fotonya sendiri, saat pulang sekolah.
Hanya itu. Tidak ada apa-apa lagi.
Ia membalik foto tersebut, dan menemukan tulisan dengan tinta merah.
"Mine."
"Ck, gak jelas," gumamnya kesal. Ia merobek foto itu dan melemparkannya keluar jendela tanpa berpikir panjang.
Ia tidak peduli siapa yang menyelipkan kotak itu di kamarnya.
---
Terdengar suara tawa kecil—kekehan yang nyaris menyerupai binatang—dari seorang pria yang sedang menatap layar TV besar di ruangannya.
Wajahnya menyeringai puas melihat rekaman live streaming dari CCTV yang ia pasang diam-diam di kamar sang gadis.
Gadis itu kini sedang bersiap tidur di atas ranjang.
Pria itu kembali tersenyum—lebih tepatnya menyeringai.
pria Gila,
Hanya dua kata untuk menggambarkan dirinya.
Ia terobsesi dengan gadis Smp
"Bagaimana?" tanyanya pada seseorang melalui telepon, walau ia sudah tahu jawabannya.
"Dia membuangnya, Boss," jawab suara pria lain di ujung sana.
"Tak apa. Lanjutkan tugasmu," balasnya singkat.
Ia mematikan telepon, lalu kembali menatap layar.
"Mine," gumamnya lirih, lalu terkekeh pelan.
---
hai, kenalin gw luezi, di sapa ezi ya.
jujur ini cerita pertama gw, semoga suka yaa
ESTÁS LEYENDO
Happiness
Misterio / SuspensoSatu kata yang menggambarkan pikiran gadis itu: kosong. Tak ada arah, tak ada harapan. Dia hancur, baik mental maupun fisik. Setiap tarikan napas terasa berat, seolah dunia tak lagi memihak. Ia ingin mengakhiri semuanya-menutup lembaran hidup yang p...
