Pagi itu cerah dengan udara yang segar. Semua orang tampak bersemangat memulai hari Senin mereka dengan kesibukan masing-masing. Namun berbeda dengan seorang laki-laki bernama Sagara Hendhart yang justru mengawali harinya dengan helaan napas panjang dan rasa kesal.
Tanpa sadar ia memutar bola matanya dengan malas sambil melamun beberapa menit di depan komputernya. Matanya terasa berat karena kurang tidur semalam—akibat pertengkarannya dengan mama tentang perjodohan yang sudah berkali-kali ia tolak.
"Mama, please ngertiin Sagara kali ini aja," Sagara tampak memelas,
"Mama pilih yang terbaik buat kamu," mama Sagara sudah berkali kali menjelaskan ini kepada Sagara,
"Ma..."
"Ga bisa Sagara, keputusan mama sudah bulat. Coba kamu istikharah kan."
Kalau diingat lagi, hal itu membuatnya semakin marah. Apalagi barusan, saat ia sampai di kantor, mamanya mengirim pesan memintanya untuk datang ke rumah calon istrinya itu.
"Muka lo kusut amat, Sa," Sagara tidak menoleh saat mendengar celetukan temannya itu—ia terlalu lelah untuk menanggapi.
"Gara gara perjodohan lagi?" lanjut temannya tadi,
"Menurut lo aja, Pip," kali ini Sagara merespon,
"Terima aja, lagian lo juga pengen banget menyandang title 'anak saleh'. Biasanya pilihan emak itu nggak salah,"
"Kalo salah?"
"Ya, berati udah takdir,"
Lagi-lagi takdir yang menjadi acuannya. Ia juga ingin bertemu cinta yang ditakdirkan, namun bukan lewat perjodohan kuno seperti ini. Memangnya ini zaman apa? Begitu pikirnya.
Tak terasa matahari sudah mulai tenggelam. Lampu merah yang terus ia temui sepanjang jalan entah mengapa terasa menyenangkan—mungkin karena tujuannya kali ini terasa begitu berat. Sebenarnya ia ingin sekali kabur, namun yang ada di pikirannya hanyalah tentang berbakti pada mamanya. Pada dasarnya ia memang tidak berani melawan, tapi akankah mengalah seperti ini akan membuatnya bahagia?
Tak lama, ia sampai di rumah calon isterinya tersebut, ternyata rumahnya tak kalah megah dari rumah milik keluarganya. Sagara masuk, saat di depan pintu utama rumah tersebut yang bersambung dengan ruang tamu ia mengehntikan langkahnya terlebih dulu,
"Assalamualaikum," salamnya sembari mengetuk pelan pintu yang sudah terbuka lebar, Sagara mendapati mamanya dan seorang perempuan, ia duga itulah calon isterinya, mereka berdua duduk manis menunggu kehadiran Sagara,
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka serempak.
Sagara masuk lalu duduk disamping mamahnya.
"Sagara, ini Alaina Teresia, calon isterimu,"
Sagara dan Alaina saling menunduk kecil sebagai sapaan antara satu sama lain,
"Karena Sagara sudah datang, ayo kita mulai bahas tanggal pernikahannya," mendengar mamanya berkata seperti itu Sagara kaget bukan main, "mama engga mikirin perasaan aku atau gimana sih?" Begitu pikir Sagara.
"Sebentar, Ma, seenggaknya Sagara ketemu dulu sama calon mertua 'kan?" Perkataan Sagara tak kalah membuat mamanya kaget juga, sedangkan Alaina malah menahan tawanya, dimatanya Sagara sangat polos,
"Sagara, saya anak tunggal, orang tua saya tunggal juga sudah meninggal, kakek nenek juga sudah ga ada," ujar Alaina lembut, jawabannya mebuat dia kaget bukan main,
"Maaf, Maaf banget," Sagara merasa bersalah, sungguh ini akibat ia tidak mendengarkan mamanya bicara selama berbulan bulan dengan topik 'Alaina Teresia' di rumah,
"Engga apa apa," respon Alaina dengan santai.
Pantas saja perempuan itu tampak punya pendirian kuat, matanya menyorot ke depan seolah tidak ada yang bisa menggoyahkannya, ia tampak begitu dewasa, itu yang ia pikirkan sejak tadi, tapi berusaha Sagara tepis karena rasa kesalnya masih lebih tinggi dari pada itu.
Mereka mulai membicarakan tentang rencana pernikahan Sagara dan Alaina, akhir diskusi di tutup dengan solusi wali untuk Alaina,
"Mama, untuk wali, Alaina sudah kontak hakim pengadilan, Alaina tinggal kirim surat permohonan beserta tanggalnya," ujar Alaina.
Panggilan 'Mama' untuk mama Sagara membuat Sagara heran, sebenarnya sudah seberapa dekat perempuan itu dengan mamanya, seberapa hebat ia merayu mamanya sampai sampai mamanya sendiri tidak ada dipihaknya?
"Sudah jelas ya semuanya, semoga Allah ridhoi pernikahan ini," ujar mama sagara mengakhirnya dengan doa, serempak mereka mengaminkan doa tersebut.
Sagara dan mamanya pulang, sedangkan Alaina, ia sendiri lagi, mungkin bagi Sagara ini adalah situasi yang paling menjengkelkan sepanjang hidupnya. Namun, disisi lain, Alaina sangat bersyukur.
Apa pada akhirnya takdir memihak keinginannya? Apa do'a yang selama ini ia minta benar benar akan terkabul sesuai dengan harapannya? Apa malam malam gelap yang sunyi tidak akan ia lewati lagi setelah ada Sagara disisinya? Alaina selalu menunggu waktu waktu ini, meski beberapa hal hilang, Alaina pikir justru ini akan menjadi sempurna pada akhirnya.
YOU ARE READING
Arutala Surga
RomanceMungkin bagi orang orang ini hanya sekedar perjodohan pada umumnya. Namun, layaknya takdir yang sudah tertulis pada zaman Azalea sebelum hidupnya bumi. Takdir selalu membuat siapapun terkejut saat menerimanya. Sagara pikir perjodohan ini adalah yang...
