prolog

68 23 45
                                        

happy reading...

ruangan gelap yang hanya disinari remang lampu neon, dengan pria yang sedang memantulkan bola voli dilantai, ia kembali memikirkan gadis yang ia temui beberapa minggu lalu. gadis berambut panjang dengan postur tubuh mungil dan suara kecil lucu miliknya dapat menarik perhatian alcius. tak ingin lama-lama hanyut dalam pikirannya, Daniel alcius Williams pria dengan tubuh atletis bermata tajam itu merogoh kantong mencari handphone miliknya, ia mencari kontak dengan nama tante winda yang berada pada panggilan terakhir di daftar panggilan miliknya

"hai tante" ucap al

"hai sayang, ada apa? " winda menjawab dari seberang telpon

"kalo tante lagi ga sibuk, Daniel mau ngajak ketemuan. bisa ga tan? "

"boleh dong, 20 menit lagi kerjaan tante selesai, kita ketemuan di tempat biasa yaa"

"oke tan see you"

alcius memutuskan panggilan, mengambil sweater dan beranjak dari kamarnya. saat menuruni tangga, pria yang mengenakan sweater abu lengkap dengan topi, merasa ada yang kurang, sebelum keluar rumah ia pun pergi menuju dapur untuk memastikan

"bi, ko senyap? " tanya alcius yang kini sedang menuang air ke gelas

"bapak lagi diluar kota bang" ucap seorang wanita yang wajahnya mulai keriput

pantas saja, di jam-jam rawan seperti ini seharusnya percekcokan antara orang tuanya sudah dimulai

"abang keluar dulu ya bi, kalo mama nanya bilang aja lagi main sama temen"

setelah mendapat anggukan dari bi inna, buru-buru alcius menuju bagasi menaiki mobil Mercedes-Benz hitam kesayangan

seperti sore biasanya, jalanan begitu ramai dilalui berbagai kendaraan  suara klakson bergemuruh karna macet, tetapi untungnya alcius punya jalan pintas agar tidak terjebak macet di jalanan Jakarta

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

seperti sore biasanya, jalanan begitu ramai dilalui berbagai kendaraan  suara klakson bergemuruh karna macet, tetapi untungnya alcius punya jalan pintas agar tidak terjebak macet di jalanan Jakarta. ia menginjak pedal santai tidak kebut-kebutan. hanya butuh 15 menit akhirnya alcius tiba di pulse cafe, ia memasuki area cafe seperti sudah mengenal para pekerja disana

"malam kak al, bu winda udah nunggu di atas ya" ucap salah satu waiter disana

"iya makasi ya" senyum tipis al, dan terus berjalan menuju lantai atas.

rooftop pulse cafe adalah tempat yang nyaman dengan sofa serta TV yang biasanya dijadikan winda sebagai tempat kerja namun tempat senyaman ini hanya bisa digapai orang-orang tertentu seperti alcius contohnya.

"hallo tampannya tante" winda menghampiri alcius yang baru saja sampai
"habis denger ribut-ribut nii?" lanjutnya

"hari ini free tan, papa lagi diluar kota" ucap alcius yang baru saja duduk di sofa

winda memiringkan wajahnya " terus mau bahas apa ini? "

"emang Daniel gaboleh ketemuan sama tante sendiri? " alcius bertanya balik

"boleh dong. tapi kan biasanya keponakan tampan tante ini datang bawa curhatan, atau mau ngomongin soal cewe waktu itu ya" godanya pada alcius

"iya lagi tan" senyum alcius merekah

selain pemilik pulse cafe winda juga seorang psikolog di sebuah rumah sakit di Jakarta, karna itu alcius sangat terbuka pada saudara papanya satu-satunya itu.

"jadii? "

"kalo daniel mulai deketin gimana ya tan" alcius menatap mata winda dalam

"boleh.tante liat kamu emang beneran suka sama dia, sering mikirin dia kan?"
alcius hanya mengangguk pasalnya akhir-akhir ini ia memang sering sekali memikirkan gadis ini

"kalo kamu beneran udah lupain yang sebelumnya tante agree kamu sama yang baru" lanjut winda memulai percakapan serius
"dari yang kamu ceritain, perempuan itu kayanya baik, bisa jadi dia juga suka sama kamu, tapi kalo kamu belum selesai sama yang sebelumnya jangan dulu ngasih harapan."

"daniel sama Caitlyn udah selesai tan, kita lost contact dari dua bulan lalu."

"tapi kamu sama dia ga ada problem kan?,kamu masih mikirin dia juga,itu artinya danielnya tante belum nyelesaiin apa-apa. kalian hanya lost contact"

"daniel udah usaha hubungi temennya, sepupunya bahkan orang tuanya cuma ga ada jawaban apa-apa. Daniel bingung tan, Daniel udah suka sama yang lain" jelas alcius

"gini aja deh, kamu coba kenalan dulu aja, kalo kamu deket sama perempuan ini terus ga mikirin Caitlyn lagi, kamu boleh lebih deket"winda menepuk bahu alcius
"tante maunya, kamu ga nyakitin siapa-siapa"lanjutnya

"tante yakin ga kalo dani... " belum selesai alcius bicara winda menyela "kalo kamu yakin sama diri kamu sendiri, yakinnya tante ga perlu".

*****

Violet Garden Tempat yang sangat jarang dikunjungi oleh orang-orang, padahal tempat yang dipenuhi bunga-bunga serta terdapat danau di dalamnya merupakan surga yang begitu indah, seperti gadis berbalut dress biru yang sedang berbaring menatap langit luas yang cerah malam ini. Nova Stephanie Mdison gadis berparas cantik dengan rambut panjang pecinta langit. sejak ia pindah Violet Garden adalah satu-satunya tempat favorite yang selalu dikunjungi nova, selain ia bisa melihat langit malam lebih jelas tempat ini juga selalu sunyi tidak ramai pengunjung, cocok sekali dengan nova yang mencari ketenangan

langit malam cerah dihiasi bulan sabit dan bintang paling terang di sebelahnya. dibawahnya aku sekarang memandangi keindahan yang tak ada duanya, keindahan yang hanya dirasakan orang-orang tertentu, keindahan yang bisa menghilangkan rindu, keindahan yang tidak terkalahkan oleh siapapun, bahkan seseorang yang sudah berhari-hari menguasai pikiranku. mata tajamnya tak sedikitpun membuatku takut, perubahan ekspresinya yang begitu cepat membuatku bertanya-tanya ada apa dengannya?, adakah luka yang disembunyikan olehnya?. ingin sekali aku mengenalnya, berbicara ringan dan tertawa lepas bersama. tidak hanya saling memandang tanpa bicara sedikitpun.

mendengar suara notifikasi dari handphone miliknya nova segera menyudahi tulisannya dan memeriksa notif di handphone miliknya

bunda

pulang sudah malam.

iya bunda

setelah membalas pesan singkat dari bundanya dan memesan taksi, nova segera beranjak berniat menunggu di halte depan. sebelum meninggalkan taman ia kembali memperhatikan langit, entah mengapa nova sangat mencintai langit. "good night moon. see you tomorrow, i love you so much."

to be continue

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.


to be continue

DIARIESWhere stories live. Discover now