8 oktober 1925
"Wabah penyakit yang masih belum diketahui asal usulnya tersebut, terus menyebar ke penjuru pulau. Saat ini kepolisian menemukan warga kota Magior yang terjangkit penyakit tersebut."
Suara penyiar berita pada radio menggema di ruang segiempat yang terkesan senyap, ruangan yang terlihat seperti kamar tidur–namun saat ini kondisinya begitu berantakan. Selimut yang terjatuh ke bawah kasur, kepingan beling dari piring dan gelas yang pecah, dengan beberapa bercak darah yang menempel pada beberapa sudut ruangan itu.
"Kepolisian mengatakan, warga yang terinfeksi tersebut mengaku telah terjangkit penyakit sejak lama. Warga tersebut juga mengaku, ia tidak segera pergi ke Rumah Sakit lantaran takut, dirinya tidak bisa kembali.
"Setelah diinvestigasi, warga tersebut telah menyerang banyak warga sipil lainnya. di antaranya, ada yang telah disantap, tergeletak begitu saja hingga mati membusuk, dan ada pula yang diserang namun berhasil membebaskan diri. Kepolisian meminta untuk warga kota Magior untuk tetap berada di rumah. Hingga polisi dan tentara militer dapat menemukan warga lain yang sudah terinfeksi-"
Radio berhenti mengeluarkan suara, pemiliknya menekan tombol off dengan sangat dalam penuh tekanan. Ia menjauhkan tangannya yang di penuhi darah dari radio, membiarkan nya terjatuh lunglai. Dadanya naik turun cepat, napasnya pun terdengar buru buru, rahangnya mengeras dengan tegang, mata birunya melebar tanpa kilauan, tatapannya mencerminkan trauma.
-
-
-
Terima kasih telah membaca, mohon dukungannya!
YOU ARE READING
PAINT
Historical FictionTime Travel | Historical Mystery | Survival Sebuah tugas akhir semester membawa Asha ke dalam mimpi buruk yang nyata. Semuanya bermula saat Vika, sahabatnya, menceritakan rahasia kelam sebuah pulau mati yang musnah akibat wabah penyakit mengerikan d...
