Night Club
Tiga anak muda sedang duduk sambil menikmati minuman di sebuah club tempat biasa mereka nongki. "Suntuk banget gue," ucap Aqeela. Aqeela, manusia paling imut di antara tiga anak muda tersebut.
"Sama sih," sahut Teresha, ia mengedarkan pandangannya. Tempat itu terlihat sama seperti malam-malam sebelumnya.
"Mana besok masuk pagi lagi," balas Selena memutar bola matanya sambil menggembungkan pipi.
Inilah rutinitas mereka bertiga ketika malam telah tiba. Mereka menghabiskan sore hingga ke malam di club. Berada di club menjadi tempat pelarian bagi mereka.
Aqeela Smith, anak bungsu dari Smith Family. Aqeela adalah seorang gadis nakal nan seksi yang sangat arrogant, paling tidak suka dibentak dan disalahkan, padahal hobi banget nyari masalah.
Teresha Edward, anak tunggal dari Jacob Edward. Tak beda jauh dari Aqeela, ia juga nakal dan sangat arrogant. Jadi, wajar jika ia berteman dengan Aqeela. Dan yang terakhir adalah Selena Walker, pewaris tunggal dari Walker Fams.
Yang paling bernasib menyedihkan adalah Aqeela. Kenapa Aqeela? Karena Aqeela sangat dituntut oleh Chena, selaku orangtua kandungnya untuk belajar dengan rajin dan giat agar dapat melanjutkan perusahaan yang sedang maju-majunya saat ini. Inilah alasan utama kenapa ia menghabiskan waktu di club dan mengusir beban pikirannya, meskipun saat pulang dari club selalu diomeli oleh Chena.
Teresha dan Selena juga berkuliah di kampus yang sama dengan Aqeela. Mereka berdua juga sama dituntut untuk belajar dengan rajin agar dapat menjadi anak yang berguna. Mereka bertiga sangat tidak suka diatur. Itulah alasan kenapa mereka lebih memilih club sebagai tempat pelarian.
Saat ketiga anak itu sibuk dalam pikirannya masing-masing, salah seorang dari mereka akhirnya menghela napas.
"Qeel, pulang yuk!"
Aqeela langsung menoleh pada Selena, memandang heran dengan mengangkat alisnya satu. Tak biasa-biasa Selena mengajaknya pulang padahal jam masih menunjukkan setengah delapan malam.
"Tumben ngajak balik lebih awal?" bingung Teresha.
Aqeela menghela napas lalu menghempaskan tubuhnya kuat ke sandaran sofa. Pikirannya kembali mengarah pada Max, ia masih tak menyangka jika telah diputuskan oleh Max.
"Kenapa bisa sih gue diputusin sama comberan air?" Aqeela membatin.
Baru seminggu hubungannya dengan Max kandas di tengah jalan. Max memutuskan hubungan mereka dengan alasan bahwa mereka memang sudah tidak cocok. Tapi masalahnya, baru sehari mereka putus— Max sudah menggandeng wanita yang lebih bohay dari dirinya.
"Dasar lelaki brengsek!" Aqeela mengucapkan sumpah serapah dengan melempar gelas yang sedari tadi berada di tangannya.
Selena dan Teresha langsung melirik, menatap lekat temannya yang sudah dibanjiri air mata. Mereka berdua mengerti apa yang sedang dirasakan oleh temannya yang satu ini. Untuk itu mereka lebih memilih diam dan kembali sibuk dengan ponselnya masing-masing.
Aqeela menyeka bulir bening yang sedari tadi mengalir dari pelupuk mata indah miliknya. Berkali-kali ia menyeka air matanya, tak membuat air mata itu berhenti mengalir.
Aqeela menjambak rambutnya frustrasi. Ingin ia menampar wajah Max dengan sangat keras sehingga mengeluarkan cairan merah dari sudut bibir milik Max. Aqeela sangat sakit hati diputuskan oleh Max secara sepihak. Hubungan mereka begitu romantis, harmonis tetapi tidak ada angin dan hujan Max memutuskan begitu saja hubungan yang mereka jalin hampir 1 tahun.
"Sial!" umpat Aqeela.
"Udah sih, Qeel." Selena memutar bola matanya dengan malas.
"Gue tadi nyuruh pulang deh perasaan. Yuk, balik." Selena mengambil dompet lalu berdiri sambil merapikan pakaian yang sempat berantakan oleh ulah pacarnya beberapa saat yang lalu.
