Pertemuan Pertama?

129K 366 111
                                        


Di Apartemen,

Rabu, 5 Maret 2014, Pukul Enam Pagi,

"Duh, mana sih bukunya? Dek! Dek! Novel Kakak di mana sih?" teriakku, memecahkan keheningan pagi demi mencari sesuatu yang 'hilang'.

"Cari apa sih, Kak? Berisik banget pagi-pagi," gerutu Salma, Adik semata wayangku dengan matanya yang baru terbuka setengah memasuki kamarku.

"Dek, kemarin pinjem novel Kakak yang judulnya 'Jendela Warna Cokelat 'kan, itu di mana? Temen Kakak udah nagih, gak enak, pinjemnya kelamaan," tanyaku tanpa titik koma, tidak menyadari bahwa ini masih pukul enam pagi.

"Hah? Novel yang mana Kak?" tanya Salma dengan rambut terurai acak dengan wajah bingung.

"Dih, 'kan Adek yang pinjem. Masa lupa? Dua minggu yang lalu Adek ke kamar Kakak, lihat novel itu di meja, terus Adek pinjem," desakku berharap agar jiwa Adikku segera kembali ke dunia nyata.

"Oh, novel itu. Aduh, Adek taro di mana ya? Sepertinya sih di lemari, eh atau Adek bawa ke sekolah Kak. Eh, apa gak jadi ya?" Salma kebingungan.

"Ihs, cari dulu sana. Pokoknya novelnya mesti dibalikin hari ini," titahku.

"Iya, iya," Salma berlari meninggalkan kamar.

Duh, kalo novelnya hilang, gimana nih? Masa aku harus ganti? Huhu, gumamku dalam hati sembari mencari kembali di lemariku.

Ah! Komik-komik zaman kuliah dulu ternyata masih kusimpan rapi. Masih teringat jelas kala sekolah, Kakek tidak mengizinkanku membaca komik, namun aku tetap menyelipkan komik di tengah-tengah buku pelajaran. Namun suatu hari, kutemukan salah satu komikku berada di tempat sampah. Sakit rasanya karena harga komik lumayan untuk kantong jajanku saat itu. Sejak hari itulah, aku tak pernah lagi membawa komik pulang ke rumah lagi. Selain komik, kutemukan juga beberapa album kliping -ku(Guntingan potongan yang diambil dari majalah dan disusun dalam buku atau karton) di lemari.

Ternyata ada selembar foto berwarna kecokelatan menyembul keluar dari salah satu album klipingku.

Foto lawasku bersama Kakek di sebuah Taman...

Taman yang cantik. Tapi ini di mana ya? Sepertinya aku kenal taman ini, ucapku dalam hati yang tetiba kangen Kakek ku.

"Kak! Adek ketemu novelnya. Hore! Ini Kak," teriak Salma menerobos kamarku.

"Aduh untung ketemu. Bikin panik Kakak aja ih," kupegang erat novel itu, kemudian mengenakan blazer cokelat pemberian Kakek dan membawa tas selempang cokelat kesukaanku.

"Ya maaf Kak. Tapi Adek udah selesai baca kok dan novelnya bagus banget Kak. Terharu Adek bacanya," ujar Salma, satu-satunya keluargaku. Karena sejak aku kuliah, Salma ikut denganku dan tinggal di Jakarta.

"Emang tentang apa? Kok bisa terharu?" tanyaku sambil menyisir rambut sebahuku yang berwarna kuning di ujung rambut.

"Ya tentang cowo yang pisah dengan cewenya. Sedih deh pokoknya Kak,"

"Ngawur, ceritanya tentang keluarga besar yang tinggal di rumah kayu berjendela cokelat, judul novelnya aja 'Jendela Warna Cokelat'. Gimana sih?" aku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.

"Ooh gitu. Eh Adek uda telat Kak. Adek mandi trus berangkat ke sekolah ya Kak. Dah Kakak," Salma terburu-buru kembali ke kamarnya.

"Hati-hati ya Dek nanti," balasku.

Kota Seribu Lantai || ❤️ Terbit ❤️Stories to obsess over. Discover now