Chap 1. Bersepeda Berdua

1.2K 45 0
                                        

2024.

CRASH!!!

DUG!!

Seorang gadis dengan potongan rambut pendek menyerupai lelaki itu terhempas setelah sebuah tendangan masuk tepat ke ulu hatinya, membuatnya harus berkontak langsung dengan lantai beton yang dingin.

Setelah beberapa saat, kepalanya terangkat, memperhatikan lawannya yang sudah membuatnya seperti sekarang ini, dengan tatapan datar dia terus memperhatikan musuhnya, lebih tepatnya ke arah karambit yang berada di tangan kanannya, terdapat noda darah pada benda tajam itu yang sudah bisa dipastikan darah milik siapa.

Tanpa mengalihkan pandangannya dia menyeka darah di pipi kanannya, hasil goresan karambit tersebut. "Curang"

Mendengar gumamannya, gadis berambut bob yang menjadi musuhnya hanya tersenyum miring, "Aku tidak tau kita punya peraturan" Dia memainkan karambit tersebut, mengayunkannya perlahan. "Reva Fidela? atau harus gue panggil Adel?"

Gadis yang ternyata bernama Adel itu perlahan bangkit. Berdiri tegap seolah luka di wajahnya tidak memiliki arti apa-apa. "Azizi Asadel, Kembang tujuh rupa"

Sontak senyuman dari gadis bernama Azizi itu melebar, membentuk seringaian. "gue gak akan maafin lo atas apa yang lo perbuat" Dia menghentikan ayunan karambitnya, memasang kuda-kuda seraya senyumannya menghilang digantikan dengan tatapan membunuh. "Kita selesaiin"

Adel sontak mengerakan tangannya ke samping kanan, mengambil sebuah batang besi, beruntung mereka saat ini sedang berada di area konstruksi jadi banyak opsi barang yang bisa dia jadikan senjata.

Ruangan itu cukup luas namun terasa sangat sempit karena kedua gadis itu saling menatap dengan insting membunuh. Adel menjatuhkan tangannya, seolah olah sedang memegang pedang. "Yang harus kamu ketahui", perlahan dia bergerak maju, mengambil langkah demi langkah, "Aku tidak pergi sejauh ini hanya untuk mati"

Ucapan terakhir sebelum yang terdengar hanya dentingan antara batang besi dan karambit yang saling beradu, mengisi kesunyian malam yang dingin di area konstruksi tersebut, keadaan menjadi lebih mencekam karena sumber pencahayaan mereka berasal dari sebuah lampu sorot, membuat bayangan mereka tercetak jelas ditanah.

*

* THE LAST OF US *

*

2018.

Bel tanda berakhirnya jam sekolah berbunyi nyaring bersamaan dengan para siswa SD yang berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing, tidak sabar untuk segera kembali ke aktivitas yang mereka inginkan baik itu main maupun langsung pulang. Tak terkecuali seorang gadis dengan pipi bulatnya yang bersiap untuk mengeluarkan sepedanya dari parkiran.

Tidak seperti kebanyakan siswa yang dijemput oleh orang tua mereka, dia justru bersepeda sendiri, bukan karena apa, karena dia lebih suka langsung pulang tanpa harus menunggu siapa-siapa, karena menurutnya menunggu itu menyebalkan.

"ADEEEL!" Teriak seorang siswa berusaha menghentikannya ketika mencapai gerbang sekolah. "Tunggu bentar!"

"Kenapa?" Tanyanya ketus dan hanya mendapat balasan cengiran dari si siswa.

"Bareng yak? Pliss, aku tadi dianter soalnya buru-buru"

Adel hanya memasang muka kesal, perasaan lelak itu tidak bisa naik sepeda, kemana-mana selalu diantar oleh ayahnya, walaupun terkadang dia ngotot kalo itu semua paksaan ayahnya yang khawatir kalo dia kenapa-napa.

"Flo, aku tau kamu bohong" Yang benar saja, siswa bernama Flo itu bahkan tidak bisa naik sepeda. "Tunggu ayah kamu jemput aja"

Dia hendak mengayuh sepedanya tapi ditahan.

The Last of Us [END]Stories to obsess over. Discover now