1 - Ternyata, dunia orang kaya itu begini, ya?

164 15 0
                                        

Choi Han berdiri kaku di depan gerbang SMA Roan Utama, mulutnya sedikit terbuka.

"Wow."

Persis kayak gambar di brosur beasiswa.

Gerbang setinggi tiga meter itu berkilau di bawah sinar matahari pagi, lengkap dengan lambang sekolah berlapis emas yang bikin mata sakit kalau dilihat terlalu lama. Di belakangnya, gedung utama megah—bak istana di film-film fantasi—menjulang dengan jendela-jendela kaca raksasa, lengkap dengan taman yang dipotong rapi, bahkan lebih rapi daripada lapangan bola di SMP lamanya.

Serius, ini sekolah, bukan hotel bintang lima?

Dia sudah dengar segudang cerita tentang tempat ini. "Sekolahnya anak-anak pejabat!", "Lulusannya pada jadi CEO sebelum umur 25!", "Kalau masuk sini, masa depan dijamin!"

Katanya, sekolah ini hanya menerima yang terbaik dari yang terbaik, entah dari segi akademik, nama keluarga, atau, dalam kasusnya, prestasi yang cukup mentereng untuk membuat mereka membukakan pintu.

Sebuah istana pendidikan yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang terpilih.

Iya ampun, pokoknya, ini sekolah istimewa pake banget—udah kayak martabak telor—bener-bener bukan tempat sembarang orang.

Choi Han, setidaknya, cukup beruntung untuk dapat beasiswa penuh yang bikin dia bisa duduk di bangku sekolah ini tanpa harus memikirkan cicilan sampai pensiun. Gelar juara taekwondo tingkat nasional yang dia kantongi jadi tiket masuk gratis, tanpa perlu jual ginjal demi bayar uang pangkal.

Meski kalau dibilang murni beruntung ... ya, nggak juga. Jalannya ke sini bukan hasil undian atau koin jatuh dari langit. Dia kerja keras, banting tulang—benaran banting tulang, bukan cuma kata-kata.

Siswa-siswa lain lalu-lalang dengan seragam necis, beberapa di antaranya dikawal sopir pribadi atau asisten yang menenteng tas branded, dan gaya jalan macam orang lagi catwalk. Ada yang sibuk ngobrol pakai bahasa Inggris kental, ada yang ketawa-ketiwi sambil pegang Sunbucks.

Choi Han merasa kayak alien yang nyasar di planet orang kaya.

Bukan berarti Choi Han dari sekolah kampung, SMP-nya juga termasuk favorit di kotanya. Tapi, kalau dibandingkan sama tempat para anak sultan gini, ya jelas langit dan bumi, lah. Itu, sih, sama aja kayak bandingin warung nasi padang sama restoran bintang Michelin.

Dia merasakan sesuatu yang aneh di dada, antara kagum, minder, atau mungkin keduanya. Tapi, dia buru-buru mengusir perasaan itu sambil menggeleng.

Choi Han bisa masuk sini karena prestasi, bukan karena punya jet pribadi. Nggak usah lebay.

Dengan langkah yang dibuat santai, walau sebenarnya agak kaku, Choi Han masuk ke lobi utama. Suasana langsung berubah jadi mirip mall, AC dingin bikin merinding, suara obrolan dan tawa bergema, dan layar LED raksasa di tengah ruangan yang menampilkan daftar nama siswa baru.

Cowok itu mendesah dalam hati, sambil mencari namanya di antara ratusan baris teks yang berkedip-kedip. "Choi Han ... Choi Han ...."

Tiba-tiba, matanya tersangkut di satu baris.

Choi Han - Kelas 1-A - Program Beasiswa Prestasi

Dia menahan napas. 1-A. Kelas unggulan.

Waduh.

Entah kenapa, perasaan campur aduk itu balik lagi. Antara bangga bisa masuk kelas top, sama was-was bakal ketemu anak-anak "luar biasa" macam apa di sana.

Dia melirik sekeliling lagi, beberapa siswa lain di dekatnya juga menatap layar dengan ekspresi antara kaget, senang, atau malah pucat kayak baru lihat hantu.

The CouncilDonde viven las historias. Descúbrelo ahora