Prolog

43 7 0
                                        

Netherlands, 1805

Seorang pria duduk memandangi pemandangan luar. Negeri seribu kincir angin yang menjadi tempat perlindungan terakhirnya. Tanah lahir yang indah. Tampak di depannya sebuah buku catatan, tangannya memegang sebuah selendang yang sudah lusuh, ia genggam tanpa enggan melepasnya melukis dalam angan adalah hobi paling menyenangkan baginya, setidaknya untuk tujuh tahun terakhir ini.

Kembali ia teringat seseorang yang sangat dia cintai, mata terangnya menatap sendu langit yang menyelimuti negeri tulip, matanya membendung tangis menahan agar tidak turun menghujani pipi kemerahannya.

Sudah tujuh tahun semenjak kejadian itu membuat bibir merah mudanya enggan menyunggingkan senyuman barang sedetik pun, senyum yang pudar karena kecerobohannya sendiri dalam menaruh hati.

Hatinya kini tertutup, menjadi dingin bak udara Amsterdam. Seolah salju telah turun di hati, mungkin dalam kalender hatinya kini hanya ada dua bulan yang tercatat, Desember dan Januari. Tepat saat salju turun, meskipun hari ini adalah bulan Mei, bulan yang indah dengan tulip memenuhi kebun bunga di seluruh Netherlands.

Memandangi lagi sebuah gambar tangan yang ia hasilkan, membentuk sebuah gambar baju pengantin. Sesuatu yang menohok hatinya kembali ia rasakan, perih menyayat mencekik tenggorokannya. Kini ia gagal, gagal membendung air mata yang ia tahan, bendungan berisi air mata itu jebol. Jatuh menitik membasahi pipi hingga bajunya.

Semakin deras rintikan hujan dari mata yang ia ciptakan saat teringat kenangan-kenangan bersama orang yang ia cintai. Seseorang yang ingin ia genggam selamanya, meskipun gagal pada akhirnya. Mencium selendang dengan bau khas dengan dalam-dalam, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang tercipta. Namun tak sesuai harapan, justru wangi khas itu membuat cekikan dalam dada semakin erat.

Tak sanggup ia melupakan hal yang pernah ia ukir di tanah jajahan bangsanya, bentuk nyata suatu kesetiaan, pengorbanan, dan cinta. Memberi pelajaran hidup yang teramat mendalam dalam seluruh hayatnya. Membuat dirinya belajar tentang kehidupan yang sebenarnya.

Realita pahit pekat yang harus ia telan bulat-bulat, membunuh jiwa renta secara lambat. Menyiksa seolah gladiator singa, sebuah hukuman Tuhan yang terasa amat nyata. Pelajaran bagi manusia yang terlalu berdosa, atau mungkin sebuah kutukan bangsa yang merenggut bahagia bangsa lainnya.

Lelaki itu masih tertunduk, menatap kosong selendang berwarna merah itu, selendang milik orang yang ia cintai. Lelaki itu bersumpah selama hidupnya tak akan menikah, hanya ingin menikahi satu orang yang kini entah bagaimana raganya.

Kembali ia mengingat sebuah cinta, cinta dan karma yang selalu mengikutinya, awal kehancuran jiwa kokohnya. Menjadikan goyah dengan penyesalan hati yang menghukum di tiap-tiap langkahnya.

Sebuah cinta liar yang tumbuh memenuhi benak manusia penuh dosa, rasa yang terbendung hasrat manusia. Memenjarakannya dalam lingkaran setan penuh perjuangan dan tantangan, menjadikan seseorang lebih dewasa dan memberi warna dalam kesaksian hidup mereka.

Land van Java Where stories live. Discover now