Prolog part 01

81 3 2
                                        

Pagi yang dingin,  membuat desa Girah, sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung ini, diselimuti oleh kabut yang tebal. Jarak pandang yang bisa ditembus hanya beberapa meter kedepan. 

Dalam kepekatan kabut tersebut, samar samar terlihat 2 cahaya bulat yang berusaha menembus kepekatan kabut didesa itu. dalam kepekatan kabut itu dua sinar lampu itu seperti sepasang mata Raksasa yang sedang merangkak didalam kabut.

Sebuah mobil Suv berhenti di depan gerbang Desa itu. Dari sinar lampu mobil yang menembus kabut itu, terlihat keanehan di depan gapura Desa Girah ini, dimana di tengah gapura selamat datang ini tertutup oleh gerbang buatan yang menjulang tinggi menutup akses keluar masuk Desa itu.

Dari pintu depan bagian penumpang mobil, turun seorang gadis cantik yang berpakaian seperti seorang penjelajah. Gadis itu memakai kaos tanpa lengan ditutupi jaket denim coklat, celana Jeans cargo juga coklat muda, dan dilengkapi dengan sepatu boots kulit yang berwarna hitam yang agak lecek di ujungnya. Dan sebuah topi kain yang memayungi wajahnya yang agak sawo matang tapi manis

"Kok aneh yah, minggu lalu pas kita kesini, jalannya masih bisa diakses, tadi ditutup, ditambah sekarang gerbang desa juga ditutup total."

"Apa yang terjadi ama tempat ini ? baru ditinggal seminggu ama kita. kakak lu gimana Din ? masih belum bisa dihubungin juga Din?"

Tanya seorang lelaki yang yang berambut pendek dan berkumis tipis yang abis di cukur, namun sudah mulai tumbuh kembali. Laki laki ini turun dari bangku sopir dan berjalan ke arah wanita muda yang baru turun tadi sambil menunjuk pagar tinggi yang dibangun menutup gerbang ke desa itu, sehingga mereka tidak bisa masuk ke desa itu.

"Entahlah Bang Jo. Mas Ario juga ga balas chat gue dari beberapa hari lalu. Gue jadi khawatir ama dia, apalagi sekarang nih gerbang desa aja di tutup."

Jawab Dinda ke orang yang di panggil Bang Jo itu.

"Gua bingung Din, kakakmu kan Dokter, kenapa bisa dipanggil kesini yah ?

Dinda hanya bisa mengangkat bahunya.

"Katanya saat di temukan sebuah peti dari tempat penggalian itu orang orang mulai kesurupan, makanya ada team dokter yang diminta opini medisnya."

Dari belakang mobil turun seorang lelaki, dandanannya Rege abis, rambut panjang sebahu di gimbal abis. Kumis dan jenggot di piara untuk mendukung penampilannya itu. 'Umai' namanya sebenarnya umurnya lebih muda ketimbang dua orang yang duduk di depan itu, namun karena penampilannya itu, membuatnya terlihat paling tua disana, apalagi ditambah kacamata kuning yang bertengger di depan matanya,

Sambil mengernyitkan matanya agak lebih fokus melawan tebalnya kabut ini, Umai ini berusaha memeriksa gapura desa yang terlihat agak chemonk dengan bekas jari jari tangan yang mengering menghitam di dinding gapura desa itu.

"Mba Din, Bang Jo liat nih Dinding gapuranya belepotan dengan jejak jari manusia yang seperti bekas darah kering."

Kedua seniornya itu segera menghampiri Umai dan memeriksa gapura itu. Mereka agak tercengang dan heran melihat hal itu.

"Sebaiknya kita cari jalan masuk ke kampung ini, kita cari tau apa yang terjadi di desa ini, aneh bet dalam seminggu, 1 desa kosong dan aksesnya ditutup"

Kata lelaki ini sambil memandang sekeliling. Kemudian mereka bertiga mengambil tas di tempat duduk belakang dan berjalan kaki untuk mencari jalan untuk masuk ke dalam desa itu.

Mereka mencari celah untuk melewati pagar tinggi yang menutupi gerbang desa tersebut.

Sesampainya mereka di pojokan dinding gapura desa itu. Umai menemukan sebuah lubang got yang sudah kering yang kelihatannya bisa tembus ke dalam desa.

"Bang Jo, Dinda, disini ada lobang got, sepertinya bisa tembus kedalam nih."

Dinda dan Jo segera kesana, sedangkan Umai sudah turun ke dalam got dan berusaha membersihkan lubang got itu dari rerumputan dan ranting ranting yang menghalangi lubang itu. Jo yang barusan menyusul juga segera membantu si gondrong membersihkan lubang masuk mereka dari rumput liar yang menutupinya.

"Aduh !!!"

Teriak Umai itu sembari menarik tangannya yg terlihat berdarah.

"Kenapa tangan lu, Mai, kok berdarah ?"

Dinda kaget melihat tangan Umai berdarah, ia segera memberikan tisu kepada umai untuk membersihkan lukanya itu.

"Lu ga pa pa kan Mai ?"

"Ga pa pa mba, cuma kena ranting berduri, sedikit perih kayak dilukai mantan."

Jawab Umai sedikit bercanda sembari menerima tisu dari Dinda dan menekan lukanya sambil beristirahat. Dinda yang mendengar candaan Umai tersenyum geli.

"Dasar lu, Mai. Ga usah ah di inget inget lagi masa lalu mu."

BangJo yang melihat hal itu hanya tersenyum, dan segera ke mobil dan mengambil kotak p3k. Kemudian membantu Umai membersihkan dan membalut luka yang lumayan panjang di tangan Umai itu.

Setelah insiden kecil itu, ketiga orang itu kembali ke selokan yang mereka bersihkan tadi, disitu terlihat sebuah lubang yang bisa dilalui orang ke balik tembok dengan cara merangkak.

Disini Jo selaku orang yang paling senior di kelompok itu dan sebagai director program penelusuran untuk media stream yang berjudul 'Dinda sang gadis petualang' segera membriefing timnya.

"Din, body cam lu tetap nyala ya, sekalian live biar Restu dan Kania bisa tetap merecord perjalanan kita dari kantor. Mai, lu gpp kan ? Lu tetap pegang kamera seperti biasa, ok ?"

Kata Bang sembari mengecek sinyal dan baterai handphone yang kemudian dipasang ke Harness yang dipakai Dinda.

"Aman bang"

jawab Umai, Dinda juga memberikan tanda ok setelah mengecek kamera dan mic di saku bajunya. Orang orang yang berada di studio di Jakarta yang terhubung melalui vidcall juga memberikan tanda Ok

"Camera rolling and action !!!"

"Hallo sobat Dinda, bertemu lagi bersama Dinda sang Gadis petualang, kali ini kita akan menyusuri Desa Girah, melanjutkan episode kemaren tentang penggalian situs Calon arang bisa kalian klik di sudut kanan atas ini."

Dinda terdiam sejenak kemudian melanjutkan lagi.

Namun sayangnya hari ini, pagi yang berkabut ini, gerbang Desanya di tutup, teman teman seperti yang bisa lihat disini."

Dinda berhenti sebentar dan memberi kesempatan kepada Umai merekam kondisi sekeliling mereka untuk di masukin ke dalam konten. Umai merekam dari posisi mobil mereka di parkir bergerak ke arah gerbang desa yang ditutup kemudian ke arah lubang got yang mereka temui sebagai jalan masuk mereka, kemudian kembali ke arah Dinda.

"Seperti yang kalian lihat teman teman, walaupun gerbang ditutup, namun kami berhasil menemukan jalan untuk masuk kedalam melalui lubang got ini."

Terlihat Bang Jo yang sudah siap di depan lubang got itu segera merangkak kedalam dan direkam oleh Umai. Kemudian mereka menghentikan rekaman mereka dan masuk kedalam desa melalui lubang tersebut.

Sesampainya di sisi dalam desa, pemandangannya terasa lebih creepy lagi. Deretan ruko yang berada di sisi jalan tertutup semua, desa yang biasanya ada aktivitas manusia walaupun tidak rame, berbanding 180 derajat dibanding kondisi hari ini. Suasana sunyi senyap di tambah kabut tebal yang menutupi wilayah ini.

Ketiganya terdiam memandang sekeliling mereka tanpa bisa berkata kata. Umai juga merekam kondisi ruko ruko di depannya tanpa mengeluarkan suara.

Tanpa disadari mereka bertiga sudah berjalan sampai ke perempatan jalan di tengah Desa, pemandangan disini lebih aneh lagi, rumah rumah yang di pinggiran yang sebagian masih terbuat dari kayu, terlihat hangus terbakar.

"Ini apalagi ? Rumah rumah warga disini terbakar habis temen temen."

Spontan Dinda memberikan statemen di kontennya.

Saat Dinda dan Umai yang sedang merekam sekeliling, tiba tiba mereka ditarik oleh bang Jo. Mereka berdua kebingungan namun mengikutinya saja. Mereka berdua diajak bang Jo untuk bersembunyi dibalik tembok sebuah rumah, bang Jo memberi tanda telunjuk di mulutnya untuk mengingatkan mereka untuk tidak berisik.











Jekarde UndeadTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang