#Romance, angst
Sebelum membaca, saya mau ingatkan. Di sini kalian akan dihancurkan sehancur-hancurnya. Bagi yang tak siap, mohon maaf sebaiknya anda mundur sejak awal. Tapi kalian yang nekat, lanjutkan dan rasakan sendiri euforia-nya. Welcome..
**
...
Sebelum baca silahkan tonton dulu Teaser PP [Pemeran Pengganti]!
❃❃❃
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
BUNYI denting ujung heels yang beradu dengan lantai menggema di sepanjang lorong apartemen yang hari ini tampak lengang. Seorang gadis celingukan mencari pintu dengan nomor kamar yang dituju. Kedua sudut bibirnya terangkat bersamaan begitu melihat angka 120. Tinggal beberapa langkah lagi, ia akan mencapai tujuannya.
Jemari lentiknya dengan cekatan menekan password pada door lock digital. Begitu terdengar bunyi klik tanda akses terbuka, ia masuk begitu saja. Melihat tak ada siapapun dalam hunian type 2BR tersebut, matanya menyorot lurus pada salah satu kamar yang pintunya sedikit terbuka. Kakinya dengan leluasa melangkah melewati ambang pintu.
Bertepatan seorang lelaki keluar dari kamar mandi dalam keadaan shirtless. Hanya bagian bawahnya tertutup boxer dengan towel tersampirkan di bahu. Gadis yang sudah terlanjur masuk itu berbalik badan dan refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menghentak-hentakan kakinya beberapa kali, malu sendiri rasanya.
Melihat sekilas abs beserta lengan berotot bagai bakso urat milik pria itu saja berhasil membuat dadanya berdentum-dentum. Berlainan dengan lelaki itu yang justru menghiraukan apa yang baru saja terjadi. Ia memilih menyabet kaus dan shortpants yang tergeletak di ranjang lalu memakainya, baru kemudian bersuara .. "Udah selesai. Kamu boleh buka mata."
"Beneran udah?" tanya gadis itu, memastikan.
Pria itu memutar bola mata jemu, lalu mendekat pada si gadis dan tanpa babibu membalikkan tubuh gadis itu agar menghadapnya.
"Ga usah drama! kamu itu istri saya. Ga masalah kamu mau liat bagian mana pun dalam tubuh Saya. Ga akan melenceng dari etika serta kesopanan," entengnya. Sejujurnya ia paling tidak suka lagi-lagi gadis ini bertingkah.
Gadis itu lantas menjauhkan tangan yang menutupi wajahnya. Ia membuka mata, di depannya berada seorang pangeran tampan yang rambutnya masih basah sisa-sisa mandi, membuatnya menelan saliva.
Kalau tau modelannya kaya begini dari dulu ga bakal nolak. Gadis itu agak menyesal. Ia seolah tersihir oleh keindahan mahakarya Tuhan di depannya.
"Ekhemm.." Lelaki itu berdehem untuk menghilangkan kecanggungan sekaligus membuat gadis itu tersadar dari fantasi liar yang beberapa waktu lalu menggerogoti isi kepalanya.
"Hari ini Saya senggang dan Saya ga mau diganggu!" cetusnya hendak melangkah ke arah pintu untuk segera meninggalkan ruang kamar. Tidak terbiasa berlama-lama di satu ruangan dengan gadis yang saat ini ia pikir sebagai istri sahnya.