1

235 22 4
                                        

Cakrawala yang semula membentang sebiru samudera perlahan berubah menjadi oranye keemasan ketika senja mulai menyapa. Daun-daun dan rerumputan bergoyang bergemirisik tatkala angin sepoi menyentuhnya. Musim gugur seakan milik sang angin yang bergerak bebas kesana kemari menyapa semesta.

Terlihat seorang pemuda tengah fokus berkutat dengan pekerjaannya membuat patung di salah satu bangunan yang dibangun khusus dengan kaca yang mengelilinginya. Tangan kotor karena tanah liat yang juga mengotori beberapa titik di wajahnya tidak mengurangi kadar ketampanan si pembuat patung.

Sasuke Uchiha, si pembuat patung itu fokus dalam pekerjaannya

Oops! Questa immagine non segue le nostre linee guida sui contenuti. Per continuare la pubblicazione, provare a rimuoverlo o caricare un altro.

Sasuke Uchiha, si pembuat patung itu fokus dalam pekerjaannya. Mengabaikan waktu malam yang hampir tiba. Tangannya sangat terampil memahat detail demi detail patung yang akan dibuatnya. Sorot matanya yang tajam bak elang tidak terusik dengan sekitar, hanya fokus pada tanah liat dan juga sesekali melihat ke arah model telanjang yang sedang berpose untuk patung yang akan dibuatnya. Oh, Sasuke selalu menggunakan model telanjang untuk membuat mahakaryanya itu. Uh,

"Sasuke, apa kau masih lama?"

Seorang pemuda bersurai pirang jabrik tiba-tiba datang dan langsung mendudukkan di sebuah sofa yang Sasuke sediakan di galerinya. Itu, Naruto Uzumaki. Satu-satunya sahabat yang dimiliki oleh Sasuke.

Naruto menatap Sasuke yang tidak bergeming meski disapa olehnya. Kemudian netra birunya menatap sang model wanita yang tersipu malu karena kedatangannya. Naruto tersenyum miring menatap si model yang semakin salah tingkah dengan pandangannya yang terlihat jelas sedang menggoda. Menggoda model Sasuke seolah sudah menjadi kebiasaan si kuning ketika menghampiri sang Uchiha yang tengah fokus membuat karyanya.

"Kau bisa mendapatkannya nanti, Naruto," ucap Sasuke yang terusik, semakin membuat si model terlihat salah tingkah karena mengerti akan maksud ucapan Sasuke.

"Dan kau bisa melanjutkannya besok, Sasuke."

Sasuke menghela nafas dan beranjak untuk membereskan pekerjaannya. Setuju dengan ucapan Naruto, dia bisa melanjutkannya esok hari. Karena jika diselesaikan sekarang pun percuma karena si model sudah tidak fokus sejak kedatangan Naruto.

"Kau bisa berkemas, Sakura. Pekerjaan hari ini telah selesai, terimakasih untuk kerjasama yang cukup baik hari ini," ucap Sasuke pada Sakura—si model yang mengangguk dengan ucapannya.

"Terimakasih, Sasuke-kun," ucap Sakura seraya ikut beranjak untuk kembali berpakaian dan berbenah diri.

Sasuke acuh dan tidak akan tergoda oleh mereka meskipun sudah banyak berhubungan dengan model-model telanjang selama ini. Urusannya hanya sebatas model dan pembuat patung saja. Keprofesionalan Sasuke patut diacungi jempol yang membuat dirinya banyak disegani oleh semua orang. Pun demikian banyak orang yang rela mengantri untuk dijadikan model patung yang akan dibuat oleh sang Uchiha. Sayangnya Sasuke memiliki kualifikasi sendiri untuk memilih model yang akan dijadikan dalam sebuah mahakaryanya.

Selesai membereskan pekerjaannya, Sasuke langsung mendudukkan diri di sebelah Naruto. Badannya bersandar pada sandaran sofa dengan tangan yang menopang belakang kepala dan juga mata yang terpejam. Hari yang cukup lelah untuk Sasuke setelah menghabiskan hampir satu hari penuh berkutat dengan pekerjaannya.

"Apa kau akan pulang sekarang, Nona?"

"Uh, ya. Aku akan pulang sekarang."

"Apa kau keberatan jika aku mengantarmu?"

"Terimakasih untuk niat baikmu, Tuan. Tetapi aku sudah memiliki janji akan bertemu dengan ibuku setelah pulang darisini."

"Ah, sayang sekali. Tetapi ibumu lebih penting."

"Maafkan aku, Tuan."

"Tidak perlu meminta maaf, Nona. Aku bisa bertemu denganmu dilain hari ketika kau masih bekerja dengan Sasuke."

"Uhm, ya. Terimakasih."

"Tetapi sebelum itu sudikah kau untuk bertukar nomor ponsel denganku?"

"Tentu saja."

Sayup-sayup Sasuke mendengar percakapan perkenalan antara Naruto dan Sakura di dalam pejaman matanya. Sahabat kuningnya itu selalu pandai menggoda model cantik miliknya yang dapat dipastikan akan berakhir tidur bersama nantinya.

Lain halnya dengan Sasuke, meskipun sering disuguhi tubuh telanjang tetapi pemuda itu yang bukan tipe pria yang sembarangan mengajak orang untuk tidur bersama. Sasuke seringkali mendapat tawaran sukarela dari para modelnya untuk tidur dengannya secara percuma. Tetapi Sasuke tidak minat untuk hal itu dan langsung menolak mereka secara mentah-mentah. Setidaknya hanya satu modelnya yang berhasil membawa Sasuke tidur dalam ranjang bersama akhirnya. Pun satu-satunya model yang menghilang sejak lima tahun lalu sebelum melihat karyanya selesai.

Larut dalam pejaman mata, Sasuke tersentak seraya membuka matanya perlahan ketika merasa ada sesuatu dingin menyentuh pipinya. Si idiot kuning itu terkekeh ketika berhasil membangunkan Sasuke dengan cara seperti itu.

"Aku datang tidak untuk melihatmu tidur, brengsek," ucap Naruto sembari memberi soda kaleng dingin yang sebelumnya ditempelkan pada pipi Sasuke.

Sasuke menghela nafas, tangan lentiknya perlahan membuka kaleng soda dan meneguk isinya hingga tandas hanya dengan tiga kali tegukan.

"Lalu apa maksud kedatanganmu? Kedatanganmu kesini juga bukan hanya untuk menggoda modelku, 'kan?"

Naruto terkekeh, "menggoda modelmu itu hanya bonus," ucapnya dengan alis yang naik turun.

"Terserah apa katamu."

"Sasuke."

"Hn?"

"Apa kau mengenal Sai si pelukis terkenal itu?"

"Maksudmu, Sai Shimura si Tangan Perak?"

"Kau mengenalnya?"

Sasuke menggeleng, "tidak. Aku hanya mengenalnya dari berita saja. Ada apa dengannya?" Tanya Sasuke kemudian.

"Beberapa hari lalu dia mendatangiku."

Sasuke memfokuskan pandangannya pada Naruto, penasaran dengan apa maksud ucapan sahabatnya itu. "Lalu?"

"Dia memintaku untuk bertemu denganmu."

"Untuk apa dia ingin menemuiku?"

Naruto menggeleng, "aku juga tidak tahu. Tapi dia sangat memohon untuk bertemu denganmu," ujar Naruto.

"Ini aneh, aku dan dia tidak saling mengenal tetapi kenapa dia sangat ingin bertemu denganku? Terlebih dia mengetahui dirimu yang bisa menjadi perantara untuk menemuiku."

"Aku juga berpikir demikian. Tetapi aku rasa tidak ada salahnya untuk bertemu dengannya, Sasuke. Oh, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kedua artis dalam bidang seni yang berbeda akan bertemu. Itu pasti akan menjadi berita yang sangat menggemparkan."

"Kau berkata demikian karena sudah menjamin dia untuk bertemu denganku, 'kan?"

Naruto menyengir, "hehe, semudah itukah kau bisa membaca pikiranku?"

"Aku sangat tahu dirimu, bodoh."

"Jadi, kau setuju untuk menemuinya 'kan?"

Sasuke mengedikkan bahu dan beranjak berdiri, diikuti oleh Naruto dibelakangnya yang mengernyit heran. Naruto hendak menuntut jawaban Sasuke sebelum senyumnya melebar mendengar jawaban bagus dari sahabat Uchihanya.

"Kau yang mengatur waktu untuk mempertemukan aku dengan Shimura. Dan pastikan pertemuan itu tidak diketahui pihak luar."

Naruto sedikit bingung tetapi dengan cepat mengangguk setuju dengan ucapan Sasuke sebelum pemuda itu berubah pikiran.

Love Is an Art (SasuIno)La tua prossima ossessione. Scoprilo ora