***
Athar Faizal, seorang dosen dengan kacamata bulat dan tinggi 160 cm, tengah menyelesaikan tugasnya di ruang kerjanya yang berantakan. Buku-buku berdebu dan kertas-kertas berserakan di meja kayunya. Sesekali, ia mengusap kacamata di hidungnya yang melesak sedikit ke bawah. Kacamata itu adalah teman setianya, dan pada malam itu, seolah mengaburkan batas-batas dunia di sekelilingnya.
Kusno Valiant Nugraha, seorang pria tinggi tegap dengan tubuh 180 cm, baru saja memasuki ruang tersebut. Ketenangan dan pesonanya yang tampan membuat seluruh ruangan terasa berbeda. Kusno adalah rekan kerja Athar dalam proyek penelitian. Namun, kehadirannya yang tiba-tiba di tengah malam ini membuat Athar merasa sedikit terkejut.
“Athar, maaf kalau ganggu malam-malam begini,” Kusno memulai dengan senyuman hangat, mencoba mengurangi ketegangan di antara mereka.
Athar menatap Kusno dari balik kacamata, sedikit bingung. “Oh, Kusno. Tidak apa-apa. Ada apa?”
Kusno melangkah mendekat, matanya penuh dengan perhatian. “Aku cuma mau bilang kalau aku butuh pendapatmu tentang data yang baru kuperoleh. Mungkin bisa jadi bahan diskusi yang menarik.”
Athar menatap data yang ada di tangan Kusno, lalu kembali ke Kusno. “Tentu, ayo lihat.”
***
Beberapa minggu berlalu sejak pertemuan itu. Kusno sering datang ke ruang kerja Athar dengan berbagai alasan yang tidak selalu berkaitan dengan pekerjaan. Semakin lama, Athar mulai merasakan ketidakhadiran di dalam dirinya setiap kali Kusno tidak ada di dekatnya. Namun, Athar tidak begitu peka terhadap perasaan itu.
Suatu malam, setelah mereka selesai bekerja lembur, Kusno duduk di sofa kecil di ruang kerja Athar. Athar baru saja memasang kacamata di atas meja, terlihat lelah.
“Kusno, kamu kenapa sih sering datang ke sini?” tanya Athar sambil meregangkan tubuhnya.
Kusno tersenyum lembut. “Karena aku suka. Aku suka ngobrol sama kamu. Kamu punya cara yang unik dalam melihat hal-hal.”
Athar menatap Kusno, bingung. “Kamu bilang begitu?”
“Iya,” jawab Kusno dengan nada yang lebih serius, “Ada sesuatu yang aku rasakan setiap kali aku dekat sama kamu.”
Athar mengerutkan dahi. “Maksudnya?”
Kusno menggigit bibirnya sejenak, mencoba menemukan kata-kata yang tepat. “Aku... aku merasa nyaman, lebih dari sekadar teman. Kadang-kadang, rasanya seperti aku ingin lebih dari sekadar ini.”
Athar masih bingung, tidak sepenuhnya mengerti perasaan Kusno. Ia menyadari ada sesuatu yang salah dalam hubungan mereka, tapi tidak tahu bagaimana menghadapinya. Di sisi lain, Kusno merasa tertekan karena tidak bisa mengungkapkan perasaannya dengan jelas.
Pada suatu sore yang hujan deras, mereka duduk di kafe dekat kampus, mencoba melupakan kekacauan di dalam hati mereka. Kusno mencoba untuk membuka percakapan.
“Athar, aku... aku tahu ini mungkin terasa aneh, tapi aku harus bilang sesuatu. Aku sudah mencoba menghindari perasaan ini, tapi sepertinya tidak bisa lagi.”
Athar menatap Kusno, mengerutkan dahi. “Apa yang ingin kamu katakan?”
“Aku suka kamu, Athar. Lebih dari sekadar teman. Aku ingin kita bisa lebih dekat, lebih dari sekadar ini,” kata Kusno dengan nada penuh harapan dan kekhawatiran.
Athar terdiam sejenak, pikirannya berpacu. “Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak merasa seperti itu.”
Kusno menarik napas panjang. “Aku mengerti. Aku tidak ingin memaksamu. Aku hanya ingin kamu tahu bagaimana perasaanku. Aku harap kita bisa tetap jadi teman, meski aku tahu ini mungkin sulit.”
Waktu berlalu dan mereka berdua mencoba mencari cara untuk mengatasi ketidakpastian ini. Kusno tetap sabar, tidak pernah memaksa Athar, tetapi selalu ada untuknya. Athar mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dalam perasaannya terhadap Kusno. Namun, dia tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan tersebut tanpa merusak hubungan mereka yang sudah ada.
Pada suatu malam, mereka duduk di tepi danau yang tenang. Athar menghela napas, memandang ke arah air yang berkilauan.
“Kusno, aku... aku mulai mengerti apa yang kamu rasakan,” kata Athar dengan suara lembut. “Aku juga merasa sesuatu, tapi aku tidak tahu harus bagaimana.”
Kusno menatap Athar, senyum lembut di wajahnya. “Tidak apa-apa, Athar. Kita tidak perlu terburu-buru. Yang penting adalah kita saling mendukung dan jujur satu sama lain.”
Mereka duduk bersama dalam keheningan malam, merasakan kedekatan yang baru ditemukan. Konflik dan kebingungan perlahan-lahan mereda, memberi ruang bagi perasaan yang lebih dalam untuk tumbuh.
Athar dan Kusno akhirnya bisa menemukan keseimbangan dalam hubungan mereka. Dengan kesabaran dan pengertian, mereka memulai babak baru dalam hidup mereka, menjalin hubungan yang penuh dengan rasa saling menghargai dan cinta.
Setiap hari, Athar semakin merasa nyaman dengan perasaannya, sementara Kusno tetap sabar dan mendukung. Mereka belajar untuk menghadapi tantangan bersama, mengatasi konflik, dan menemukan kebahagiaan dalam kehadiran satu sama lain.
Bersambung....
YOU ARE READING
Oblivion
General FictionDi tengah perjalanan hidup yang penuh dengan cinta dan pengkhianatan, Athar Faizal mendapati dirinya terjebak dalam hubungan yang kompleks dan penuh kepedihan. Ketika masa lalu dan masa depan saling beradu, Athar berusaha mencari arti sejati dari ci...
