Ganti judul Davian -> Secrets in the Shadows ..
Misteri yang belum terungkap, dan banyak rahasia yang tersimpan.
Menceritakan banyak peran yang menyimpan banyak rahasia di setiap tokohnya.
Mari baca dan temukan teka-tekinya.
Proses revisi di bantu:...
Di atas tebing yang menjulang tinggi, menjorok ke atas langit malam yang sedikit bernuansa jingga oleh cahaya kota yang tak pernah tidur, berdiri sosok seorang pria yang mencolok dengan postur tubuhnya yang tinggi jangkung dan tegap. Jaket kulit hitam yang menutupi badannya tampak kencang dan rapi, melapisi setiap lekukan punggungnya dengan kesan maskulin dan misterius.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ia berdiri tegak dengan sikap yang penuh dominasi, kedua tangan terlipat di depan dada sambil pandangannya tertuju jauh ke bawah—menatap lautan gemerlap dari ribuan lampu jalan, gedung pencakar langit, dan aliran kendaraan yang seperti lebah berkerumun di ibu kota Jakarta. Mata pria itu tajam bak pandangan elang yang sedang mengintai mangsanya, memancarkan aura yang mengintimidasi tanpa perlu berkata apa-apa. Raut wajahnya yang tegas dan berbekas garis-garis yang menceritakan pengalaman hidup, kini dihiasi dengan senyum yang bisa disebut sebagai "evil"—suatu ekspresi yang begitu dingin dan penuh makna tersembunyi, hingga cukup untuk membuat siapapun yang berani bertatapan langsung dengannya merasa seperti akan tertekuk lutut karena tekanan yang terpancar dari tatapannya itu.
"I'm back," ucapnya dengan nada yang rendah namun jelas, disertai senyum misterius yang semakin memperdalam kesan misterius di sekelilingnya. Tak seorang pun yang tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan kembalinya lelaki itu, atau apa makna tersembunyi di balik senyumnya yang penuh teka-teki.
*Drrrrt
Suara getaran ponsel yang terdengar dari dalam saku jaketnya menusuk keheningan malam, membuat perhatiannya yang selama ini terpaku pada kota perlahan teralihkan. Ia mengeluarkan ponselnya dengan gerakan yang lancar, dan layar sentuhnya yang menyala menerangi wajahnya sebentar—tertera nama kontak yang cukup unik: "si tua bangka".
Tanpa sedikit pun ragu atau keinginan untuk menjawab panggilan tersebut, lelaki itu hanya menutup layar ponselnya dan menyimpannya kembali ke saku. Setelah itu, ia mulai berjalan dengan langkah yang mantap menuruni jalur kecil yang mengarah dari tepi tebing, menuju area di bawahnya di mana sebuah mobil hitam berwarna pekat terparkir dengan rapi di bawah naungan pepohonan besar yang memberikan sedikit kedamaian dari sorotan lampu jalan raya.
Setelah memasuki mobil dan menyalakan mesinnya, kendaraan itu langsung melaju kencang, dengan lancar membelah aliran jalanan kota yang padat. Namun, tak berjalan jauh, mobil harus terpaksa berhenti saat sampai pada persimpangan yang sedang menunjukkan lampu merah besar yang bersinar terang.
Ting
Bunyi notifikasi pesan masuk terdengar jelas di dalam kabin mobil yang sunyi. Lelaki itu perlahan merogoh saku bagian dalam jaketnya, mengambil kembali ponselnya, dan dengan jari yang tegas membuka pesan yang baru saja datang.
Di bagian atas layar, nama pengirim muncul dengan jelas: TUA BANGKA. Saat ia mulai membaca isi pesannya, otot-otot rahangnya tampak mengeras, dan kedua tangannya perlahan mengepalkan tinjunya dengan erat hingga kulitnya memucat dan urat-uratnya tampak membengkak.
"Cepat! 10 menit kau telat, lihat apa yang aku lakukan," demikian tulis pesan tersebut dengan gaya yang kasar dan penuh ancaman.
Matanya kembali menatap ke depan, melihat sekeliling jalan yang penuh dengan deretan mobil yang tak kunjung bergerak—kemacetan yang khas untuk malam hari di Jakarta. Ia menghela nafas dalam-dalam; bagaimana mungkin bisa mencapai tujuan dalam waktu 10 menit jika kondisi jalanan seperti ini?
Tanpa berlama-lama, lelaki itu langsung menekan beberapa nomor di ponselnya untuk melakukan panggilan telepon. Tak butuh waktu lama, sosok seorang pengendara yang mengenakan jas hitam dan berkendara motor sport berwarna hitam yang mengkilap muncul dari balik lautan kendaraan, lalu berhenti tepat di samping mobilnya. Lelaki itu segera membuka pintu mobil dan keluar dengan cepat, menghampiri pengendara motor tersebut. "Bawa mobil," ucapnya dengan nada yang tegas dan tidak bisa ditawar, sebelum segera melompat naik ke atas motor sport tersebut. Dalam sekejap, motor itu langsung melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, meninggalkan mobil hitamnya di belakang.
Tak menghiraukan aturan lalu lintas, motor tersebut bahkan berani melaju dengan cepat di atas trotoar yang seharusnya digunakan oleh pejalan kaki. Gerakan kencangnya membuat seorang gadis muda yang tengah berjalan santai dengan membawa tas belanja terkejut hingga matanya membelalak besar dan tubuhnya secara refleks mundur ke belakang hingga hampir tersandung trotoar.
"Gila! Sapa sih? Untung gue kagak ditabrak. Lagian ngapa juga sih naik motornya di sini ngebut banget pula? Gue sumpahin nyungsep dah lo," ucap gadis itu dengan nada marah dan sedikit gemetar akibat kejutan, sambil terus mengoceh sambil melanjutkan langkahnya ke depan. "Ngeselin pokoknya," sambungnya dengan sungut penuh kemarahan sebelum akhirnya berbelok ke arah sebuah gang kecil yang masuk ke dalam kawasan pemukiman padat.