Kepulan asap rokok keluar dari mulut lelaki tampan itu, ia menutup matanya sambil meresapi nikmatnya menghisap sepuntung rokok tersebut. Apalagi ditambah alunan musik santai yang memekakan telinga, membuat suasana semakin tenang.
Dua botol anggur merah sudah bertengger dalam keadaan kosong dimeja, ini adalah kegiatan yang sering dilakukan lelaki itu, bersantai di bar milik Papanya sendiri.
Dionysus De Matthijs, lelaki itu tengah menjadi pusat perhatian para gadis yang ada di bar itu, bagaimana tidak kalau lelaki itu berwajah tampan bak malaikat, bahunya yang lebar, alis dan bibir yang tebal ditambah hidung mancung sudah pasti membuat para gadis menjerit.
"Gue udah punya pacar, dia pacar gue!"
Ketenangan lelaki itu terganggu karena suara keras nan lantang yang didengarnya barusan, ia membuka kedua matanya dan mendapati seorang gadis tengah menunjuk kearahnya, kini ia menatap satu gadis dan satu lelaki yang tengah mencengkram tangan gadis itu.
Dio langsung bisa menebak kalau gadis ini pasti pekerja baru di bar ini, karena ini adalah kali pertamanya melihat gadis itu.
Gadis itu menatapnya dengan tatapan meminta tolong, "Iyakan sayang?" ucap gadis itu yang berhasil membuat seorang Dionysus tersenyum dan bersmrik.
Dio, lelaki itu langsung menyentuh lembut tangan gadis yang menunjuknya tadi, dalam hitungan detik ia menarik pelan gadis yang bernasib buruk itu.
Hal itu sontak membuat cengkraman lelaki yang tadi terlepas, ditambah lelaki itu diam terpaku ketika Dio membawa gadis itu duduk ke pangkuannya.
Dio tersenyum kecil sembari menatap name tag yang menempel didada kiri gadis itu. Mentari Daisy Neftilin, gadis bernasib buruk yang tengah duduk dipangkuan seorang Dionysus, semua gadis yang tadi menatap Dio meringis saking irinya kepada Mentari.
Disaat yang lain sedang meringis, Mentari tengah menyesali perbuatannya barusan, darah didalam tubuhnya berdesir ketika usapan lembut menyentuh pundaknya.
"Lo yakin ini pacar lo?" ucap lelaki yang berdiri sedari tadi.
Dio menatap lelaki itu dan tersenyum kecil, setelah itu tangannya terangkat dan mengusap rambut panjang milik Mentari.
Sedetik kemudian, tangannya beralih menyusuri leher jenjang nan putih milik Mentari, gadis itu terkejut dengan perlakuan Dio sekaligus merinding.
Wajah Dio mendekat kearah Mentari membuat jarak diantara mereka menepis, Mentari menatap Dio takut sedangkan sebaliknya, Dio terlihat sangat menikmati permainan ini, malah lelaki itu dengan cepat menempelkan bibirnya ke leher milik Mentari.
Mentari tersentak kecil ketika bibir tebal itu menyentuh dirinya, ia merasakan bulu kuduknya berdiri, nafas lembut milik Dio terasa sangat hangat menabrak kulitnya.
Suasana sekarang semakin terasa panas, aluman musik semakin membawa gairah lelaki itu, sedangkan Mentari tengah kesusahan menelan salivanya.
Dio mengecup lembut leher gadis dipangkuannya itu, bukan hanya sekali kecup, tapi berkali-kali, bahkan lelaki itu tak segan-segan menghisap dan menyapu leher gadis itu menggunakan lidahnya.
Mentari yang diperlakukan seperti itu tak bisa berkutik, sentuhan bibir dan lidah lelaki itu terasa memabukkan, membuatnya tidak bisa menghentikan itu, tapi kemudian lelaki itu berhenti, ia kembali menatap lelaki yang masih berdiri didepannya.
"Kurang?" tanya Dio dengan suara beratnya.
Lelaki yang berdiri tadi tak bisa melakukan apa-apa, ia segera menjauh dan meninggalkan mereka berdua, kini tersisa Mentari dengan beribu alasan dipikirannya.
.
just fiction
don't copy this story
.
YOU ARE READING
DIONYSUS
Teen FictionBukan seorang dewa melainkan manusia biasa yang tampak sempurna, manusia yang penuh dengan kegilaan dan kepuasan dia adalah Dionysus.
