Republik menindas rakyatnya sendiri, melahirkan para Pemberontak yang menyebut diri mereka " gyūhei ". Kelompok tersebut terdiri dari Para Petani dan Pemuda yang menjelma menjadi para Pejuang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Namanya adalah Zelem, pemuda yang antusias dengan revolusi dan Pemberontakan. Dia dulunya adalah Korban kekerasan yang dilakukan oleh Para Serdadu kepadanya, hingga seluruh keluarganya tewas. Usianya baru 16 tahun namun dia sudah menjadi seorang Pembunuh bayaran hebat.
Republik semakin brutal menindas warga sipil, apalagi Partai Nasionalis berkuasa yang didominasi oleh para Politisi dari Suku Prioritas. Mereka membatasi distribusi pupuk sehingga Suku Prioritas bisa memonopoli distribusi pangan diseluruh Republik.
***
#1. Zelem, Si Bocah Pejuang
Republik berencana melakukan Pembatasan lahan Pertanian di Zona Sigma, karena dianggap kurang berkontribusi dalam menyediakan pangan bagi Masyarakat. Hal ini jelas merugikan para Petani yang mengandalkan ladang pertanian mereka untuk hidup.
" Desa 7 sampai 11 akan dibangun Perumahan untuk pendatang dari Pulau Utama, para penduduk Suku Prioritas akan membantu kita dalam mengembangkan dan mengelola sumber daya kita. " Kata Bupati Kōmer. " Lahan pertanian yang sebelumnya itu akan dibeli oleh Pemerintah dan kalian akan mendapatkan jaminan pekerjaan. "
" Kami menolak! Kami tidak akan menjual tanah kami! " Teriak salah satu penduduk Desa. " Itu lebih baik daripada mengelola lahan yang tidak menghasilkan pangan yang sesuai dengan ekspektasi. " Kōmer berargumen. " Bagaimana bisa menghasilkan pangan yang baik, kami terus dipersulit dalam pembelian pupuk, belum lagi pupuk yang didistribusikan ke Pulau ini adalah Pupuk Kelas 3 yang jelas kualitasnya jauh dibawah pupuk yang didistribusikan di Pulau Utama. " Penduduk lainnya membalas. " Itu teori Konspirasi, semua pupuk yang dijual oleh Pemerintah memiliki kualitas yang sama, mungkin kemampuan kita yang belum sebaik para Petani dari Suku Prioritas. " Kata Kōmer. " Itu asumsi! " Salah satunya berseru, kemudian disambar teriakan-teriakan lainnya, hingga terjadi keributan kecil disana. " Dasar anjing suku Prioritas! " Yang lainnya berseru garang, " Pengkhianat bangsa sendiri! Penjajah! Penindas! " Teriakan demi teriakan menciptakan gelombang hura-hara yang semakin menajam hingga menciptakan konflik antara Masyarakat dan Pemerintah. para Penduduk mulai memungut batu dan melempari Kōmer dan ajudan-ajudannya dengan batu. Karena jumlah massa yang terlalu banyak dan sikap mereka yang semakin tidak kooperatif, maka Kōmer dan para Ajudannya meninggalkan tempat itu. " Kalian menyakiti pejabat Pemerintah! Kalian semua akan dianggap sebagai Pemberontak! " Teriak Kōmer sambil menyelinap masuk kedalam mobilnya.
Penduduk Desa Irūn tau betul bagaimana kejamnya Republik terhadap orang-orang yang tidak patuh. Mereka kemudian berkumpul dan membicarakan tentang hal yang akan terjadi. Pilihannya hanya dua, menyerah atau melawan. Sebagian memilih untuk menjual tanah mereka daripada nantinya diambil paksa oleh Republik. Tapi, sebagian lainnya memilih untuk bertahan dan melawan Republik.
Kepala Desa Irūk, Azar Kasdim, menyarankan agar mereka meminta bantuan Gyūhei, untuk mempertahankan hak mereka. Maka, Azar segera mengutus Halik dan Nuz untuk mencari Persembunyian kelompok Gyūhei.