01⚡☁️

7 0 0
                                        

Tidak peduli seseorang dilahirkan untuk apa, tapi tumbuh menjadi apa mereka nanti.” _ JK. Rowling.


Pagi hari yang cerah. Mentari menampakkan cahayanya untuk pertama kali setelah hujan beberapa hari ini tiada reda. Cahayanya berhasil membangkitkan semangat para manusia yang sejak kemarin-kemarin menantikannya. Termasuk seorang gadis berseragam sekolah dengan rambut dikuncir kuda, dan tas selempang berukuran sedang warna orange. Dia keluar dari pelataran rumahnya dengan wajah cerianya, wajah ceria itu bahkan mengalahkan cahaya mentari dipagi hari.

“Tuhan bahkan mendukung hariku pagi ini dengan memberikan cahaya mentari nya yang indah, semoga ini awal yang bagus” Ujarnya sembari mendongak menatap mentari cerah dan langit bersih yang luas. Dia berjalan dengan langkah kecil namun tegas, bahkan kadang-kadang dia sedikit melompat-lompat sanking senangnya. Mungkin bagi semua remaja seumurannya ini bukan hari pertama sekolah, tapi bagi gadis bermata coklat tersebut inilah hari pertama dirinya bisa merasakan sekolah setelah hanya homeschooling di rumah untuk sekian lama. Sejak berumur tujuh tahun dirinya mendekap di dalam rumah, dilarang keluar atau bahkan sekedar jalan-jalan disekitar kompleks perumahan. Setiap kali dirinya meminta izin keluar rumah untuk ikut bermain dengan anak-anak seusianya, ibunya selalu melarang bahkan hendak memukulinya dengan gagang sapu jika membantah. Alhasil, dia hanya bisa pasrah dan kembali ke kamarnya---melanjutkan bermain dengan boneka-bonekanya saja.

Pernah sekali sejak usianya dua belas tahun, dia nekat keluar rumah secara diam-diam tanpa sepengetahuan ibunya. Namun, barusaja membuka pagar, telinganya tiba-tiba ditarik dan diseret paksa memasuki rumah kembali.

“Berani kamu membantah ibu?!, Berapa kali ibu bilang dirumah ya dirumah!, Jangan ngelawan”.

“Sakit ibu” Ringisnya dengan suara lirih. Ibunya sama-sekali tidak ada niat melepaskan telinganya itu malah makin menariknya membuat dia terpaksa menjinjit. “Sakit ibu”.

“Itu hukuman buat anak tuli seperti kamu!, Makin dibiarin makin ngelunjak kamu ya!. Ibu itu malu punya anak kayak kamu, tiap hari ibu jadi bulan-bulanan warga komplek sama teman arisan ibu. Mereka selalu menyindir ibu secara terang-terangan tentang kamu. Tentang kekurangan sialan kamu itu!. Kenapa sih ibu harus punya anak kayak kamu?. Anak yang tuli!, Kenapa?!. Ibu tuh iri sama bu Eva, anaknya cantik dan sempurna, berprestasi lagi!. Lah kamu?, Ngga ada yang bisa dibanggakan dari anak tuli seperti kamu!” Omelan yang terdengar pedas dan menyakitkan tiap saat diterimanya bahkan saat dirinya masih berusia lima tahun. Sejak dini ibunya sering saja mengungkit kekurangannya, mengatakan hal-hal yang selalu sukses menyentil hatinya sampai paling dalam.

Mental anak ini sudah tergoncang sejak dini. Padahal bukan keinginannya seperti ini. Kalau boleh memilih, ia ingin juga terlahir sempurna seperti anak normal lainnya. Tapi ini kan kemauan sang pencipta—kemauan tuhan yang jelas-jelas tidak akan bisa diubah apalagi ditolak. Sudah takdirnya seperti ini.

“Maaf ibu” Hanya kata itu yang setiap saat meluncur keluar dari mulutnya, dia lebih memilih mengucapkan kalimat permintaan maaf dibanding membalas ucapan ibunya—mengeluarkan segala unek-unek dihatinya.

“Maaf-maaf terus saja kamu!, Awas saja kalau kamu berulah lagi!” Tandasnya sembari melepas tangannya pada telinga anak itu, lalu melenggang pergi begitu saja.

Anak itu menangis dengan bahu bergetar. Kedua tangannya menutup wajah—meluapkan kesedihannya dibalik wajah cerianya itu.

Seseorang menepuk punggungnya, sontak saja dia terjingkrak dan nyaris jatuh. “Maaf non, dari tadi saya memanggil non Arun namun non Arun tidak mendengar saya” Ucap seorang bapak sedikit beruban dengan pakaian berwarna hitam khas pakaian seorang supir pribadi.

LANGIT DIBALIK BADAIWhere stories live. Discover now