Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

0/16

1K 43 0
                                        

Hujan gerimis jatuh membasahi rambut lurus yang sedikit memantulkan warna coklat emas ketika terkena cahaya matahari. Tubuhnya sudah cukup basah setelah berdiri di loteng rumahnya selama 30 menit lamanya. Sabiru menatap langit abu itu dengan waktu yang cukup lama

"Hitam" Gumamnya, ia melihat dinding yang terkena cahaya, dan baginya, itu hanyalah warna abu abu terang

Dunianya sudah lama begini. Bahkan sejak ia lahir, sabiru tidak pernah tau dunia yang sebenarnya. Pintu loteng terbuka. Sepasang mata coklat madu menatapnya dibalik pintu, tinggi yang tak sampai di bahunya itu berjalan membawa payung ke arahnya

"Kakak masuk" Ujarnya. Anak lelaki polos berusia 9 tahun itu berusaha menjangkau tubuh kakaknya yang sudah basah kuyup oleh air hujan. "Kalau bunda melihat, dia akan marah besar"

Belum sempat ia menjawabnya, muncul sosok lain dibalik pintu besi itu. Tubuhnya gagah besar, dan tak lupa kumis yang dipotong tipis dan kacamata minus yang selalu menempel di wajahnya. Vian- adiknya langsung bersembunyi dibelakang tubuhnya

Sabiru memegang bahu adiknya, ia tersenyum kecil lalu menuntun nya untuk berjalan masuk kedalam. Suasana itu cukup familiar, dan setelah sampai di lantai dua, sabiru menyuruh adiknya masuk ke kamarnya yang berada tepat di samping kamarnya sendiri

"Nanti saat kamu buka mata kamu, kakak sudah ada di sebelah kamu ya?" Dengan wajah yang khawatir bercampur takut itu, vian akhirnya mengangguk dan meninggalkan kakak perempuan nya itu berdua bersama ayahnya

Tak lama, wanita dewasa yang masih memakai baju kerja kantoran itu keluar dari kamar. Dua mata yang selalu menatapnya sebagai beban. Sabiru menakutkan kedua tangannya dan menundukkan kepalanya. Yang ia lihat hanyalah sepatu hitam kulit milik ayahnya

"Mencari gara gara?" Suara berat itu terdengar

"Bukan ayah" Jawab sabiru. Ia menatap wajah ayahnya seperkian detik namun segera kembali menunduk

"Masuk ruang belajar. Jangan ganti bajumu dan tunggu saya dalam 5 menit" Ujarnya dan dengan tubuh gagah nya itu menghilang kedalam ruang kerjanya. Ibunya hanya diam, lalu kembali masuk kedalam kamar

Sabiru diam cukup lama, ia menoleh ke arah jendela. Disana lampu kota cukup hangat, bahkan hujan itu membuat sedikit polusi disana mereda. Alisnya berkerut, bibirnya ia gigit cukup keras

"Jika tuhan sayang aku, lalu kenapa semuanya harus selalu begini?"

Matanya melirik sebuah laci didekat pojok ruangan. Laci yang selalu ia kunci, lalu perlahan ia berjalan masuk kedalam ruang belajar. Ruangan yang hanya ada meja untuk belajar, dan buku buku di rak besar

Ia duduk dilantai, memeluk tubuhnya sendiri. Akibat ulah dirinya sebelumnya kini ia justru kedinginan. Namun yang paling ia pikirkan bukan tentang tubuhnya akan mati karena kedinginan. Melainkan sosok ayahnya yang perlahan masuk dengan sabuk kulit hitamnya yang tebal

"Kamu harus saya beri pelajaran, sabiru"

Dan malam itu tubuhnya akan penuh warna biru, sama seperti namanya.. sa-'biru'

Where is my home?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang