1 | Pesisir

25 5 1
                                        

"Lebih baik menjadi pembangkang daripada terus mencium kaki sang pengengkang

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Lebih baik menjadi pembangkang daripada terus mencium kaki sang pengengkang."

Laksana menghirup udara asin yang terbawa angin laut saat kakinya menginjak dermaga kayu Banda Neira. Matahari sore menggantung rendah di cakrawala, memulas langit dengan semburat jingga dan ungu. Ombak kecil memukul lambung kapal yang baru saja membawanya dari Batavia, perjalanan panjang yang terasa lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.

Di sampingnya, Aji melompat turun dari kapal dengan gerakan mantap. Wajahnya yang tirus tampak lelah, tetapi matanya tetap menyiratkan semangat yang tak padam. Rambutnya yang agak gondrong tergerai berantakan, tertiup angin laut. Ia melirik Laksana, memberikan senyum tipis yang lebih mirip ejekan.

"Selamat datang di tanah pembuangan," gumamnya lirih. "Ya, setidaknya ini kita tuai setelah apa yang kita tanam."

Ah, si Aji itu, selalu saja gemar bergurau seolah mereka sedang berkumpul ria dengan segelas kopi panas.

Dua serdadu Belanda berseragam biru tua berdiri di dekat mereka, wajah mereka tanpa ekspresi. Salah satunya, pria bertubuh tinggi dengan kumis tebal yang hampir menutupi bibirnya, menyentuh bahu Laksana dengan kasar.

"Kalian boleh berjalan, tapi jangan coba-coba macam-macam," katanya dalam bahasa Melayu yang terdengar kaku.

Laksana dan Aji bertukar pandang, tetapi tidak membalas. Mereka sudah cukup tahu bahwa melawan sekarang hanya akan membuat keadaan semakin sulit.

Saat mereka melangkah di sepanjang dermaga, Laksana memperhatikan keadaan sekitar. Perahu-perahu nelayan tertambat di tepi, beberapa buruh terlihat memanggul karung rempah, dan di kejauhan, bangunan-bangunan tua peninggalan Portugis berdiri seperti saksi bisu sejarah panjang Banda Neira.

Di antara hiruk-pikuk pelabuhan, mata Laksana menangkap sosok seorang perempuan yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Wajahnya halus, dengan kulit sawo matang yang terbakar matahari. Pakaian sederhana yang dikenakannya tak bisa menyembunyikan sorot mata tajam penuh selidik.

Aji menyikut lengannya pelan, menyadarkannya dari lamunannya. "Lak, sepertinya kita tidak sendiri disini," bisiknya.

Laksana mengangguk kecil. Pengasingan baru saja dimulai. Mereka tidak tahu berapa lama akan terkurung di pulau kecil ini, tapi satu hal yang pasti: Belanda mungkin telah membuang raga mereka, tetapi tidak dengan pikiran dan perlawanan mereka.

Laksana dan Aji pun mulai mengikuti langkah serdadu yang menggiring mereka melewati jalanan berbatu dan berpasir. Banda Neira tampak lebih kecil dari yang mereka bayangkan, tetapi keindahannya sulit disangkal. Di sepanjang jalan, rumah-rumah kayu dengan atap rumbia berjejer, beberapa dihiasi tanaman rambat yang menjuntai dari terasnya. Udara di sini lebih segar dibanding Batavia, dengan wangi rempah samar yang terbawa angin.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Mar 16, 2025 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Banda Neira [Historical Series]Stories to obsess over. Discover now