Tak Terduga

10 1 0
                                        


Bab 1

"Raka, lihat ini!" Sinta memanggilku dengan suara riang. Aku menoleh dan melihatnya berdiri di depan sebuah kios kecil yang menjual barang-barang unik di sudut Jalan Braga. Senyumnya yang cerah membuat mataku ikut berbinar.

"Apa itu?" tanyaku sambil menghampirinya.

Dia memegang sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati. "Bukankah ini indah? Aku selalu suka hal-hal yang sederhana tapi bermakna."

Aku tersenyum dan mengangguk. "Sangat indah, seperti mata indahmu," jawabku, mencoba membuatnya tersipu.

Sinta tertawa kecil dan memukul pundakku dengan lembut. "Kamu selalu tahu cara membuatku tersipu."

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Braga, menikmati suasana sore yang hangat. Sinta bercerita tentang mimpinya untuk membuka toko buku kecil di Bandung, tempat di mana orang-orang bisa datang, membaca, dan berbagi cerita. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian, terpesona oleh semangat dan antusiasmenya.

"Mimpi itu luar biasa, aku yakin kamu bisa mewujudkannya," kataku dengan penuh keyakinan.Dia menatapku dengan mata yang berbinar. "Terima kasih, Raka. Kamu selalu mendukungku. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpa kamu."

Aku merasakan kehangatan di hatiku mendengar kata-katanya. Kami melanjutkan jalan-jalan kami, berbicara tentang berbagai hal—dari buku-buku favorit hingga rencana liburan bersama. Setiap momen bersamanya terasa begitu berharga, begitu hidup.

Malam itu, kami duduk di Taman Balai Kota Bandung, menikmati suasana malam yang tenang. Lampu-lampu taman berkelap-kelip, menciptakan suasana yang romantis. Sinta bersandar di bahuku, dan aku memeluknya erat.

"Raka, apa kamu pernah berpikir tentang masa depan kita?" tanyanya tiba-tiba.Aku menoleh dan menatapnya. "Tentu saja, aku selalu membayangkan kita bersama, menjalani hidup yang penuh kebahagiaan."

Dia tersenyum dan mengangguk. "Aku juga, aku ingin kita selalu bersama, apapun yang terjadi."Aku mengecup keningnya lembut. "Aku janji, aku akan selalu ada untukmu."

Aku Raka, pria awal 30-an yang lebih suka berkutat dengan kode-kode pemrograman di layar komputer daripada bergaul. Aku bekerja sebagai insinyur perangkat lunak di sebuah perusahaan teknologi di Bandung. Sehari-harinya, aku lebih banyak berkomunikasi lewat email atau pesan instan, dan jarang sekali terlihat di acara-acara sosial.

Hobiku? Membaca buku fiksi ilmiah dan nonton film. Rak buku di kosan kecilku di Dago penuh dengan novel dan biografi tokoh-tokoh teknologi. Di luar pekerjaan, aku lebih suka menikmati waktu sendirian atau dengan teman dekatku, Dimas.

Tahun 2035, di sebuah kafe kecil di Braga, Bandung, aku dan Dimas duduk sambil menikmati kopi sore. Suasana santai dengan alunan musik jazz di latar belakang.Dimas asyik scroll media sosial di ponselnya, lalu tiba-tiba matanya berbinar. "Hey, Rak, lihat ini," katanya, sambil menunjuk layar ponselnya.

aku mengangkat pandangan dari cangkir kopiku. "Apa itu?" tanyaku, meski tak terlalu tertarik."Ada aplikasi baru namanya 'RememberMe'. Aplikasi ini bisa menirukan suara dan karakter orang yang sudah meninggal. Kamu bisa berkomunikasi dengan mereka lewat telepon dan video call, semacam aplikasi pemanggil hantu gitu ya" jelas Dimas antusias.

Aku mengernyitkan dahi, sedikit skeptis. "Serius? Itu kedengarannya agak menyeramkan."Dimas tertawa kecil. "Iya, tapi menarik juga, kan? Bayangkan bisa ngobrol lagi dengan orang-orang yang kita sayangi."

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. "Mungkin. Tapi kurasa itu cuma salah satu dari banyak inovasi teknologi yang muncul dan hilang begitu saja."Dimas mengangkat bahu. "Mungkin. juga sih" patahnya menutup obrolan.


Bab 2

Di salah satu kedai kopi yang nyaman di Bandung, aku duduk sendirian di sudut dengan buku novel fiksiku, menikmati aroma kopi yang menguar di udara. Di meja sebelah, seorang wanita muda dengan senyuman cerah tengah memilih buku-buku tentang seni dan film dari rak.

Wanita itu yang sebelumnya sudah beberapa kali melihatku yang fokus pada bukuku, akhirnya memberanikan diri untuk menyapa, "Hai! Bukunya bagus?"

Aku yang sedikit terkejut dengan kehadirannya tiba-tiba ini, menoleh dengan sedikit canggung, "Oh, iya. Ini salah satu favorit saya."

Wanita itu tersenyum ramah sambil mengamati rak buku di dekatku. "Maaf ya kalau mengganggu. aku lihat kamu sering ke sini, selalu asyik baca buku."

Aku mengangguk, mataku masih terfokus pada halaman bukuku. "Oh, iya, saya suka suasana di sini. Tenang dan nyaman."

Wanita itu meraih satu buku dari rak. "Aku Sinta, senang bertemu kamu. Apa ini buku favoritmu?"

Wanita itu adalah Sinta

Raka menoleh dengan senyum kecil. "Iya, saya suka sama buku ini. Ceritanya seru. Nama saya Raka"

Obrolan kami berlanjut dengan alur yang alami, dari buku favorit hingga minat kami terhadap film dan seni. Sinta yang ramah dan mudah bicara dengan cepat mengatasi kecanggunganku yang lebih pemalu. Waktu terasa berlalu begitu cepat, dan di kedai kopi itu, kami menemukan kecocokan dan kenyamanan yang sulit kami temukan di tempat lain.

Suatu sore di Taman Balai Kota, saat matahari mulai terbenam dan langit berubah warna menjadi jingga, Sinta menatapku dengan tatapan yang lembut. "Raka, aku senang bisa bertemu denganmu. Kamu membuat hari-hariku lebih berwarna."

Aku tersenyum, merasakan kehangatan yang jarang aku rasakan. "Aku juga, Sinta. Kamu membuatku melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda."

Seiring berjalannya waktu, kebersamaan kami berubah menjadi hubungan yang lebih dalam. Sifat kami yang saling melengkapi membuat hubungan itu semakin kuat, aku menemukan sisi baru dalam diriku yang lebih terbuka dan hangat, sementara Sinta merasa aman dan dihargai.Kami resmi berpacaran setelah beberapa bulan berkenalan. Setiap hari bersama Sinta adalah kebahagiaan tersendiri bagiku.

Aku masih terpesona oleh senyum Sinta ketika kami bertemu seminggu yang lalu. Kami telah bersama cukup lama untuk tidak lagi terjebak dalam rutinitas mengantar jemput setiap hari. Hubungan kami tumbuh lebih dewasa, di mana kami menghargai ruang pribadi satu sama lain. Sinta memiliki kemandiriannya dalam perjalanan ke kantornya sendiri, dan aku percaya dia bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik.

Pagi itu, seperti biasa, aku mengirim pesan singkat padanya setelah dia sampai di kantor untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Dia membalas dengan senyum emoji dan memberitahuku bahwa dia baik-baik saja. Aku tersenyum lega, merasa hangat di dalam hati bahwa dia telah tiba dengan selamat.

Aku duduk di meja kerjaku, memikirkan pertemuan kami seminggu lalu di kafe favorit kami. Kami berbicara tentang impian-impian kami, tentang rencana-rencana masa depan yang kami punya bersama. Sinta ceria seperti biasa, berbagi cerita lucu tentang apa yang terjadi di kantornya minggu ini. Kami tertawa bersama, menyadari betapa beruntungnya kami bisa menemukan satu sama lain.

Ponselku berdering dengan keras, dan suara gemetar dari polisi di ujung telepon merobek ketenangan pagiku.

"Selamat sore, apakah ini Bapak Raka?" tanya polisi.

Dengan suara gemetar, aku menjawab, "Ya, ini Raka. Ada apa?"

"Maaf, kami dari kepolisian ingin memberitahukan bahwa ibu Sinta mengalami kecelakaan saat pulang bekerja dan dia tidak selamat. dan sudah bla..bla..bla" suara polisi tersebut mulai memelan di kupingku

Tak lagi kudengar setelah kalimat duka itu, aku mematung seakan tak percaya.

Sulit menerima kenyataan ini. "Tidak mungkin... Bagaimana ini bisa terjadi?" tanyaku dengan suara bergetar.

Aku mematikan telepon dan duduk termangu, hati hancur, tidak percaya dengan kabar yang baru saja kudengar. Dunia seolah berhenti sejenak. Kami baru saja bertemu seminggu lalu, dan sekarang dia pergi begitu cepat. Sulit mempercayai bahwa ini sedang terjadi.

Aku terdiam, dunia terasa berhenti sejenak. Tidak mungkin ini benar. Kami baru saja bertemu seminggu lalu, dan sekarang dia pergi begitu cepat. Aku tidak bisa mempercayai bahwa ini sedang terjadi.

Kami tidak menghabiskan banyak waktu bersama sehari itu, tetapi setiap momen bersama Sinta berarti begitu banyak bagiku. Hatiku hancur saat mendengar berita duka ini. Aku merindukan kehadirannya yang penuh semangat, senyumnya yang menghangatkan hati, dan cerita-ceritanya yang selalu membuatku tertawa.

Sekarang, yang ada hanya rasa hampa yang tak terucapkan. Aku mencoba mengingat suara Sinta dari pesan suara yang tersimpan di ponselku, mencoba menemukan sedikit kenyamanan dalam kenangan-kenangan kami bersama.

Kehidupan terasa begitu tidak adil. Bagaimana mungkin semuanya bisa berubah begitu cepat? Aku merasakan kekosongan yang mendalam, dan rindu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.



Bersambung...

ILUSIStories to obsess over. Discover now