Prolog

28 11 4
                                        

Aku menyusuri kota sendirian bukan karna tidak punya teman, hanya saja sendiri lebih baik untuk sekarang

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Aku menyusuri kota sendirian bukan karna tidak punya teman, hanya saja sendiri lebih baik untuk sekarang. Berdamai dengan pikiran yang berkecamuk dan hati yang berantakan, entah kemana arahku pergi ditengah kota seperti ini. Hanya ada malam yang sepi bintangnya dan rembulan yang redup sinarnya, seolah tau bahwa ini bukan hari baik untukku. Seseorang yang berdiri dipinggir trotoar sambil menatap langit luas, sambil sesekali bertanya dalam hati.

Aku salah apa?

Kenapa aku harus kaya gini?

Kalau akhirnya gini kenapa dari awal nggak usah aja?

Kenapa susah banget sembuhnya?

Ada apa disana sampai aku harus sejatuh ini?

Namun diantara pertanyaan demi pertanyaan itu tidak ada satupun yang tersahut untuk mendapat jawaban. Dan aku tidak pernah menyesal bertanya, meskipun aku tahu aku tidak akan pernah mendapat jawabannya aku tetap kembali kesini sambil menanyakan pertanyaan yang sama.

Bukan untuk mendapat jawaban, hanya saja..

Entah.

Bahkan dengan pikiranku sendiripun aku tidak paham.

Dengan cara dunia berputar, dengan cara hukum timbangan berlaku. Aku tidak paham. Mana yang disebut hidup itu berputar mana yang disebut hidup itu setimpal. Bukankah jika setimpal harusnya aku mendapat bahagia atas apa yang aku usahakan pada orang lain? Bukankah jika berputar aku akan merasakan rasanya diusahakan oleh orang lain? Tapi apa? Apa yang kudapat?

Berulangkali aku merutuk pada dunia, bertanya berbagai macam hal yang fana. Dengan lagu yang kuputar di ponsel lalu mengalun di telinga, semua yang telah berlalu itu semakin jelas. Semakin nyata ketika alunan nada itu mengingatkanku pada hari-hari dimana kita bersama.

Aku tertawa, ternyata aku setidak pantas itu untuk bahagia.

Ternyata aku. Akulah yang tidak pantas mendapati arti sempurna, tidak pantas mendapat cinta dari seorang pria atau bahkan keluarga. Ternyata aku, gadis yang disebut-sebut sebagai kemalangan yang tidak pernah menjumpai kesempatan.

Ternyata aku, gadis yang disebut-sebut sebagai nasib yang gagal.

BERTEDUHStories to obsess over. Discover now