Jatuh cinta pada mu adalah ketidak sengajaan yang ku syukuri
...
Sore itu langit terlihat mendung bersama mega berwarna hitam yang menggumpal menghalau sinar matahari. Di sebuah kamar minimalis dengan dinding bercat soft pink, tanpak seorang gadis sedang membaca tulisan di atas kertas. Bibir si gadis sesekali bersenandung merdu mengikuti instrumen musik yang ia dengarkan melalui hedset di kedua telinga nya.
Inara menendang bantal guling sampai benda empuk tersebut jatuh di lantai. Gadis itu bahkan memukul kasur saat dirinya membaca sebuah adegan romantis di dalam sebuah novel. Tersenyum, bahkan berteriak seperti orang tak waras.
"Aaaaa gue juga mau di perlakukan kayak ratu. Kapan sih gue se beruntung itu, gimana caranya gue dapat cowok fiksi?!"
Inara ter lonjak kaget saat cahaya dari kilatan petir masuk ke melalui celah jendela selama 0,5 detik. Gadis itu memejamkan mata sembari menutup telinga yang masih tersumpal hedset. Inara takut suara petir. Tetapi gadis itu lebih takut pada suara mama yang menggelegar mengalahkan suara petir di langit.
Inara melempar novel ke sembarang arah, mengambil posisi rebahan sembari menutup kelopak mata saat mama membuka pintu bercat putih milik nya. Gadis itu pura-pura terlelap meski usahanya sia-sia, mama sudah tahu bahwa anak sulung nya ini sedang bersandiwara.
"Inara Aletha"
Tujuh belas tahun Inara tinggal di rumah ini, gadis itu sangat tahu bagaimana sifat semua penghuni rumah. Papa yang suka minum kopi sebelum berangkat bekerja, Fathur yang super usil, dan mama yang menyebut nama lengkap jika sedang marah.
Mama sedang marah!
Membuka mata dan mengambil posisi duduk. Inara sudah di sambut dengan pemandangan mama yang berkacak pinggang, mata cantik wanita itu terbuka lebar menampilkan ekspresi garang, namun tetap cantik di mata Inara.
"Iya ma? " Tanya gadis takut-takut, paham bahwa sebentar lagi omelan pedas akan mama keluarkan.
"Kamu ini kalau gak main HP, rebahan, makan, ya baca novel terus kerjaan nya. Kamu anak gadis Ina. Coba liat El, mama liat dia tiap hari bantu ibunya ke dapur, nyapu teras, masa kamu kalah sih sama anak laki-laki? "
Tuh kan!
Inara hafal betul omelan mama tiap hari. Mulai dari mengomentari sifat malas dirinya, sampai membandingkannya dengan anak tetangga. El, Inara muak harus mendengar nama itu setiap hari. El, El, El dan El! Apa hanya laki-laki itu yang mama lihat di dunia ini? Gadis itu tidak masalah jika dirinya di bandingkan dengan anak tetangga yang lain seperti Seira dan Fifian. Gadis itu juga tidak masalah jika dirinya di bandingkan dengan adik nya sendiri. Karena menurut Inara lebih baik dirinya di bandingkan dengan orang lain dari pada harus di bandingkan dengan El.
Inara benci El.
...
"Ina"
"Apa lo?! "
Sore itu awan tidak jadi menumpahkan tangisan di muka bumi. Meski mendung dan sejuk mulai terasa, hujan belum membasahi permukaan tanah. Hufft padahal Inara berharap sekali hujan akan turun. Gadis itu sudah lama tidak bermain hujan, dirinya ingin berlari di halaman sembari menikmati air yang tumpah dari langit.
YOU ARE READING
Ambivalen
Teen FictionSebuah kisah klasik antara benci jadi cinta. Inara tidak pernah menyangka jika anak tetangga yang dulu teramat di bencinya kini berubah menjadi kekasihnya. El, sosok pemuda berhati dingin bagai kutub utara mampu menarik Inara "si gadis suka tantru...
