DUAR!
Ledakan bom mengguncang tanah di medan perang. Suaranya semakin nyaring, semakin dekat, seolah menggema tepat di dalam dada. Camp pengungsi yang sebelumnya menjadi tempat berlindung kini dibombardir tanpa ampun oleh tentara dari distrik musuh. Tenda-tenda terbakar, puing-puing beterbangan, dan teriakan para korban bercampur dengan suara sirene yang putus-putus.
"Mundur! Semua mundur!" teriak seorang tentara melalui pengeras suara di tangannya.
Orang-orang berlarian ke segala arah. Tidak ada yang sempat menoleh ke belakang; setiap orang hanya ingin menyelamatkan diri sebelum ledakan berikutnya menghantam mereka.
"Maddie, cepat!" Samantha menarik lengan Madeline dengan panik. "Kita tidak bisa membawa korban melebihi kapasitas mobil!"
Bom-bom kini jatuh semakin dekat ke arah mereka. Dengan napas tersengal dan tangan gemetar, Madeline akhirnya masuk ke dalam mobil. Namun, ketika ia menoleh ke belakang, pandangannya mendadak terpaku.
Seorang anak perempuan berlari sendirian di antara asap dan reruntuhan. Kaki kecilnya terus bergerak, meski langkahnya goyah dan lambat dibanding orang-orang dewasa yang berlalu tanpa memedulikannya.
"Samantha, berhenti!" suara Madeline pecah. "Tolong berhenti sekarang, Sam! Tinggalkan aku di sini!"
Samantha tidak menghiraukan permintaan itu. Ia justru mempercepat mobil, berusaha menjauh dari area serangan.
Namun Madeline membuka pintu mobil.
"Hei! Maddie!" teriak Samantha.
Madeline melompat keluar.
BOOM!
Dunia seketika dipenuhi cahaya menyilaukan, panas yang membakar kulit, dan suara ledakan yang menelan segalanya. Sebelum kelopak matanya benar-benar tertutup, Madeline hanya menyimpan satu harapan kecil dalam hatinya:
Jika ada kehidupan lain, semoga aku dicintai oleh seseorang-atau oleh siapa pun-dengan perasaan yang sungguh-sungguh.
•••
"Dunia memiliki jutaan, bahkan miliaran sudut pandang dari setiap isinya."
YOU ARE READING
Must Be Happy Ending
FantasySelama lima tahun pernikahannya dengan Reinhart, seorang pria yang penuh dengan rahasia, Madeline selalu merasakan kekosongan dalam hidupnya. Meski sudah menikah, Reinhart tak pernah menunjukkan cinta yang tulus padanya. Ia sering meninggalkan Madel...
