prolog (revisi✓)

36.6K 1.6K 10
                                        


Kaki jenjang tanpa alas itu berjalan dengan pelan, diam dan tanpa banyak suara. Wajah indah yang merupakan ukiran terindah dari tangan Tuhan itu dipenuhi lebam- caelus hanya bisa meratapi nasib tanpa kata kata.

--

Cael selalu dikenal pembenci. Seorang pemuda dengan mulut yang kadang tertutup namun jika terbuka akan seperti bisa ular dan mata yang terlalu tajam. Meski dengan dirinya yang pendiam, sikap caelus selalu blak blakan dan sangat tidak memiliki kontrol emosi yang bagus.

Ia pembangkang, liar dan tidak memiliki batas dalam berkomunikasi.. atau bersosialisasi?

Tidak, ia tak pernah minum minum, bermain wanita, tawuran maupun bermasalah seperti itu. Ia bermasalah di mata orang orang hanya karena sikapnya yang jujur- terlalu jujur.

Caelus Kenjio Van Eloisè. Pemuda berusia 18 tahun yang terabaikan oleh keluarganya ini benar benar tumbuh sebagai pribadi yang.. jauh. Matanya indah, heterochromia dengan perpaduan antara merah dari sang ayah dan abu abu dari sang ibu. Rambutnya hitam seperti sang ayah namun wajahnya sangat memiliki lekukan lembut dari sang ibu. Dengan perpaduan lengkap dari keduanya, harusnya ia sempurna. Namun tidak.

Cael sendiri. Ia selalu sendiri- tidak juga.

Ada sergio- tapi pria yang menjadi asistennya itu terpaksa meninggalkannya karena kesalahan fatal yang tak ia perbuat sama sekali. Sergio bersama caelus sejak ia kecil, tentu saja caelus akan sangat menempel padanya sehingga rasa sakit akan ditinggalkan saat ia berusia 15 tahun masih terasa hingga sekarang.

Ia benar benar sendiri.

--

Mata indah itu menatap kosong kearah taman bunga yang bermekaran indah, dipenuhi bunga peoni yang sangat disukai oleh sang ibu.

Ibu yang meninggalkannya karena kanker saat ia berusia 2 tahun.

"...." Ia hanya bisa diam, lelah.

Cael bangkit dan memasuki mansion. Pikirannya kosong, matanya sibuk menatapi seluruh bagian mansion yang sekarang hanya sekedar bangunan bernamakan 'rumah'.

"CAELUS!"

Bentakan keras mengambil perhatiannya dan sebelum ia bisa menjawab, tamparan keras mendarat tepat diwajahnya.

Panas.

Ia terdiam, mematung dan menatap sosok pria didepannya dengan wajah tanpa ekspresi. Wajahnya yang dihiasi lebam kini memerah.

"..dad?" Panggilnya lirih.

"Bajingan sialan- kau benar benar kelewatan batas!" Javier- sosok yang dipanggil ayah oleh cael namun sikapnya sangat jauh dari kata tersbut.

Javier mencengkram kerah baju cael dengan sangat keras hingga jari jari tangannya memutih.

"Sudah cukup, aku benar benar muak dengan sikap sialan mu! Kau sangat mengecewakan ku, cael." Ucap Javier tajam, penuh benci.

Cael menatapnya sakit, tangannya bergetar- mencoba meraih tangan kekar yang ayah yang sedari dulu terasa sangat jauh.

"Dad.. percaya cael.. please.."

"DIAM!" pria paruh baya itu kembali membentak.

"Kau selalu mengambil kebahagiaan ku, cael. Aku membiarkanmu hidup sangat lama. Terlalu lama untuk mu kembali berbuat keji! Untuk apa?! Bukankah cukup ku membiarkanmu hidup 18 tahun ini?! Hah?!"

Mata berbeda warna itu memerah, berair dengan pedih.

Lagi dan lagi.

"Dad," suara lain menyahut.

Javier tidak menoleh. Ia masih menatap benci sosok anak yang merebut nyawa sang istri- padahal ia tau betul bahwa kenyataannya sangat berbalik. Tapi Javier butuh pelampiasan, jalan keluar untuk kabur dari kenyataan pahit bahwa memang putra bungsunya tak bersalah.

"Dad." Panggil putra kedua dari Javier lagi- Liam.

"Hentikan sebelum kau berbuat lebih jauh. Lebih baik kita menunggu Lucia siuman." Liam menepuk pundak sang ayah, mengabaikan sang adik yang sudah kacau.

"..kak Liam.."

Panggilan lirih itu diabaikan liam- ia sudah terlalu jauh. Terlalu jauh untuk kembali digapai.

Cael bernafas dengan berat, ia menyentuh lengan sang ayah, mencoba mendapatkan kembali perhatiannya. "Dad- please.. aku nggak ada dorong Lucia.. cael dijebak.. tolong.." bibirnya bergetar, ia sangat putus asa.

"Kau membuat cia masuk rumah sakit dan sekarang berharap aku akan mempercayai mu?.." dengus javier, ia menendang perut cael menggunakan lututnya dengan keras.

Cael seketika terjatuh, menahan rasa sakit yang luar biasa. Nafasnya tersendat seketika, ia merintih pelan.

Javier menunduk, mencengkram sekepal rambut yang sialnya mirip dengannya.

"Aku muak. Sangat muak melihat mu masih tidak menyesal hingga sekarang, cael." Ia membungkuk, menatap caelus penuh benci. Rasa sakit di dadanya membuatnya semakin membenci cael- ia tak menyukai perasaan menyesal yang selalu menghantui nya hingga sekarang.

"Kau harus diberi pelajaran agar mengerti, cael."

Dan pukulan kembali terdengar. Perlawanan lemah hanya dapat cael berikan, ia lemah. Benar benar lemah.

Mata kosongnya menatap sang kakak yang masih terdiam menonton- tidak memiliki niatan untuk membantu sama sekali.

"..d..dad..please.." panggil cael putus putus. Ia menarik lemah baju sang ayah- berharap ia menatap cael sejenak saja. Sejenak untuk dapat melihat bahwa ia adalah darah dagingnya.

Emosi membuncah didalam pikiran Javier. Ia berhenti memukul wajah cael dan beralih mencekiknya dengan sangat kuat.

"Diam, diam, diam- DIAM!" Javier menatap tajam cael yang melemah dibawahnya.

Cael memucat, ia tak bisa bernafas. Dengan panik ia memukul lengan Javier, ia bergetar hebat.

"Kgh- d-dad-!" Panggilnya tidak jelas. Kakinya menendang angin, pasokan angin diparu paru nya semakin menipis.

Pikiran Javier kosong. Ia benar benar tak bisa ditolong.

Pandangan cael mulai kabur. Pukulannya melemah, gerakannya semakin kaku hingga...

"DAD! FUCK- STOP!"

Pandangan caelus menggelap seluruhnya saat suara retak terdengar.

Krek.

Sunyi.

Cengkraman Javier terlepas saat ia ditarik dengan paksa oleh putra pertamanya- jax.

"Cael! Cael, cael?" Jax terduduk, menarik tubuh sang adik dengan panik. Ia menepuk pelan pipinya, tangannya bergetar pelan.

Tak ada respon, tak ada jawaban lembut yang biasa ia dengar.

Tubuhnya terasa kaku.

Jax terdiam. Ia menatap wajah cael, mata indah itu tertutup rapat.

"..cael.." suaranya bergetar.

"CAEL!"

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Prolog, selesai.

Caelus Kenjio V.E (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang