"Kalau udah besar nanti Rega jaga ibu ya. " seorang pria paruh baya mengelus surai anak kecil yang duduk dipangkuannya.
Rega kecil menatap ayahnya lekat, pria penyayang nan tegas menjadi idola bagi Rega. Ayahnya hanya seorang biasa, bukan DPR ataupun Mentri , ia hanya seorang pedagang buah yang mampu menghidupi keluarga kecilnya.
"Kan ayah bisa jagain ibu kenapa harus Rega? " tanya Rega dengan polos.
"Rega kan anak baik, enggak mau kan jadi durhaka?, nanti kalau jadi durhaka kayak malin kundang dikutuk jadi batu mau? "
"Enggak mau, Rega bakal jagain ibu. " Rega menggeleng pelan.
"Pinter, sayang ayah enggak? "
"Sayang ayah banyak-banyak, besok Rega ulang tahun, kado mobil-mobilan ya? " pinta Rega.
"Iya, pokoknya besok jadi kado terindah Rega." Tega kecil sangat bersungut-sungut.
"Ayah ngantuk Re, ayah bubuk ya? "
"Masih sore yah, nanti dimarahin ibu loh, katanya enggak boleh tidur kalau mau maghrib, " tutur Rega kecil.
"Pinter banget jagoan ayah. Bentar aja, " pinta ayah bersungut-sungut.
"Iya deh iya, kalau dimarahi ibu nanti Rega kebagian ketawa aja, " cerca Rega.
Ayah tersenyum kecil lalu mencium Rega lama. "Maafin ayah ya nak, " bisik ayah.
Ayah menyadarkan badannya ke dinding, berniat mengusir lelahnya dengan cara tidur selama-lamanya. Rega kecil masih setia duduk dipangkuan ayah tercinta menanti dirinya bangun yang katanya hanya sebentar.
"Nak ayah kamu mana? " tanya seorang wanita paruh baya datang dari arah dalam rumah membawa sepiring nasi untuk menyuapi anaknya makan.
"Lagi tidur, " jawab Rega kecil.
Piring yang ia bawa terjatuh ke lantai menjadi serpihan kecil-kecil kala melihat wajah sang suami yang pucat. Ragu-ragu ibu Rega mengecek nafas sang suami, ternyata tidak ada tanda kehidupan, pria yang ia cintai sudah berpulang.
Ini hanyalah mimpi tidak mungkin orang yang ia cinta meningalkan dirinya secepat ini. Namun, ini lah takdir, kita hanya bisa menjalani sesuai alur yang sudah dibuat kuasa.
Sekumpul memori tentang ayahnya kembali terulang.
12 tahun yang lalu, ayahnya berpulang disaat ia masih 5 tahun. Hatinya serasa diiri-iris menjadi kecil-kecil ketika memori itu terulang.
"Eh bagiin buku ini ketemen-temen lo, dari bu Rara tadi. "
Ucapan dari seorang perempuan membuat lamunan Rega buyar. Rega menatap perempuan tersebut yang berdiri di depannya dengan tatapan datar. Tatapan teduh itu berhasil membuat Rega betah memandangnya lama.
"Hello, " ujar perempuan tersebut dengan melambaikan tangannya di depan muka Rega.
Rega menggeleng pelan lalu mengambil alih buku tugas dari tangan perempuan tersebut.
"Banyak pikiran ya?, kasian banget mana masih muda," celetuk Zea.
"Kurang ajar, " batin Rega. Dilihatnya perempuan di depannya ini tidak ada rasa takutnya sama sekali dan kalem, tapi entah kalau dugaannya salah.
"Zea Anatasya Sari, " ujar Zea, berniat ingin mengenal tetangga kelasnya ini.
"Rega Adhitia Wijaya, " balas Rega.
"ZEZE KE SINI BENTAR! " panggil bu Mega yang kebetulan hari ini mengajar di kelasnya, kelas 11 IPA 5.
"Gue pergi dulu ya, berbahagialah, " pesan Zea sebelum pergi dari hadapan Rega.
Tatapannya mengingat akan sosok ayahnya.Rega tersenyum tipis, menatap punggung Zea dari arah belakang. Sepertinya Rega ingin lebih mengenal perempuan tersebut.
SMATA dengan perempuannya.
.....
KEDIRI, bagian bahagia.
YOU ARE READING
Denting Senja
RandomIni tentang Rega yang harus memilih ceritanya antara Zea dan Amelia. Kedua perempuan tersebut memiliki peran dalam kehidupannya, Rega menyayangi Amel tapi cintanya habis untuk Zea. Amel selalu ada untuk Rega, perempuan itu selalu menunggunya sampai...
