Sakitnya luka bukanlah hal yang kecil. Apalagi luka batin.
Itu adalah hal yang membuat kita kehilangan jati diri
_
Ledasadak
Jam 03:00.
Kriiing..... Kriiiiing..... Tulalut tulalut lut lut tulalut tulalut.
Telinga seorang gadis bernama Rana terganggu oleh alarm ponsel yang menggelikan.
"Aish, pasti kak Ahmad yang ganti nada deringnya" gerutunya sebal sambil membuka matanya sedikit dan mematikan alarm yang terus berbunyi di ponselnya, matanya masih menahan kantuk, tetapi dia melawannya dengan membaca doa bangun tidur.
Ia pun duduk dan mengerjapkan matanya berkali-kali, dia sesekali menguap.
Gadis itu turun dari tempat tidur, namun langkahnya terhenti tak sengaja melihat sesuatu- seperti foto polaroid. Ia mundur dan melihat ke bawah."Apa itu? Kayak foto" gumamnya, lalu mengambilnya.
Matanya berubah menjadi sendu ketika melihat seseorang yang di dalam foto itu "Kakek dan dia--?" gumamnya sambil tersenyum, dia mengingat momen di masa lalunya.
"Nara Rana, lihat Kakek bawa apa?" Seorang Kakek memanggil kedua anak perempuan sambil membawa makanan favoritnya- ikan lele. Mereka berdua langsung menyerbu makanan tersebut.
"Wah, makanan! Makasih, Kek!" ucap mereka berdua pada sang kakek.
"Yuk Kek, kita makan bersama-sama!" ajak salah satu anak kecil itu.
"Oh iya, Bang Miftah nggak ikut, Kek?" Tanya anak kecil itu kepada sang kakek.
"Ikut kok, cuma dia tidur di mobil. Sana kalau mau bangunin," jawab sang Kakek.
Ia berlari menuju mobil dan menemukan seorang anak laki-laki seumurannya yang tengah tertidur, lalu mencubit lengan anak laki-laki itu.
"Aaakh... Nara.... Sakit... Wuaa... Kakek..."
"Ih, cuma dicubit doang nangis!" ejek anak kecil itu yang bernama Nara lalu berlari tertawa menghampiri sang Kakek.
"Nara, kamu apakan Abang kamu sampai nangis?" tanya Kakek.
"Habisnya Bang Miftah tidurnya ngorok Kek, kan jelek" adu Nara ke kakeknya.
"Jahil ya kamu" ucap seorang anak kecil itu mendorong pundak Nara pelan.
"Nara nggak boleh ngatain Abang kayak gitu, minta maaf sekarang" sang Kakek menyuruhnya untuk meminta maaf, Nara merengut kesal.
"Ayo minta maaf sama abang" tarik Rana kecil.
"Iya iya aku minta maaf, nggak usah di tarik juga aku datang minta maaf."
"Nggak, aku nggak percaya."
Batinnya menyeruak rindu, tak kuasa menahan air mata. Ingin berteriak tapi suaranya seperti tercekik, ingin berkata tapi tak terucap. Air mata yang terthan sejak melihat foto itu akahirnya luruh, dengan luruhnya air mata Rana terduduk lemas tak berdaya .
"Kenapa.... Kenapa harus terjadi?."
Air matanya semakin deras, rasa sakitnya tak tertandingi oleh apapun. Dia memukul dirinya sendiri, menyalahkan diri terus menerus.
"Ra.. sakit.. Ya Allah...." Dada sesak menyelimutinya, nafasnya tak beraturan dan hampir habis, ia segera mengambil botol oksigen agar nafasnya kembali normal.
YOU ARE READING
Lebih Dari Sekedar Aku Dan Kamu
RomanceRana Alara Belvara- seorang perempuan yang mempunyai rahasia besar di balik hijab syar'i nya, setiap langkah yang ia tempuh harus di pikirkan dengan matang sebelum melangkah lebih jauh. "Aku berani mengambil langkah ini demi kamu, izinkan aku menjad...
