BAGIAN 1: SAH!

1.7K 39 2
                                        

Assalamulaikum, apa kabar semua? Gimana sama puasa kalian? Lancar, kan?

Ini cerita niatnya aku post di awal bulan Ramadhan, tapi ternyata aku baru bisa up-nya sekarang

Mohon maaf banget masih banyak kesalahan dalam penulisan ini. Lebih-lebih karena ini adalah novel religi pertama yg aku post di wp🙏

Semoga kalian suka dan bisa nemenin waktu puasanya kalian!

Selamat membaca!

***

"Menikah?"

Almeera dibuat kaget lantaran mendengar kabar kalau dirinya barusaja dikhitbah oleh laki-laki yang tak lain adalah putra dari Kyia –nya di pesantren.

"Iya, nduk. Semalam Pak Yai sama Ibu Nyai rawuh ke sini. Ibu juga kaget pas lihat beliau datang. Ibu kira kamu habis melakukan kesalahan di pondok. Tidak taunya beliau datang dengan maksud lain, yaitu untuk melamarmu," jelas Aminah—ibu kandung Almeera.

"Lalu? Ibu sama Bapak udah kasih jawaban?" tanya Almeera panik.

Aminah menggeleng lalu berkata, "Bapakmu hampir mengiyakan lamaran tersebut atas dasar ngalap barokahe Pak Kyai. Tapi ibu bilang sama bapak buat menunda keputusan itu. Yang mau menikah, kan, kamu, nduk. Kamu juga punya hak untuk menolak ataupun menerima."

"Memangnya bisa ditolak, Buk?" tanya Almeera, lagi. "Alasannya apa, Ibu? Karena Almeera baru lulus sekolah makanya Almeera menolak lamaran dari Pak Yai? Atau karena Almeera tidak suka sama gusnya makanya Almeera tolak? Atau mungkin karena Almeera belum bisa masak jadi Almeera belum siap menikah?"

Sungguh! Almeera tidak biasanya secerewet ini ketika sedang berbincang dengan ibunya. Ini semua terjadi karena Almeera panik. Teramat panik karena habis dilamar sama gusnya di pondok.

"Satu-satunya alasan yang bisa diterima Abah sama Umi, adalah kalau Almeera sudah punya calon makanya Almeera menolak lamaran dari gusnya. Tapi .... Ibu tau sendiri kalau Almeera tidak mungkin bisa memakai alasan itu, kan?"

Jangankan calon, teman cowok saja Almeera tidak punya. Lebih tepatnya Almeera tidak memiliki teman dekat cowok.

"Sabar nduk sabar," kata Aminah menocoba menenangkan putri semata wayangnya itu.

"Kamu coba sholat istikharah dulu. Minta petunjuk sama Allah. InsyaAllah, semua yang sudah ditetapkan sama Allah adalah keputusan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya."

***

"Kamu dilamar, Ra? Sama Gus Kafa? Sungguh? MasyaAllah!"

Lain halnya dengan Almeera, teman-temannya justru merasa sangat senang mendengar kabar tersebut.

Beberapa di antara mereka bahkan ada yang merasa iri dengan Almeera. Karena ya .... siapa sih yang nggak mau dilamar sama gus yang ganteng terus paham ilmu agama?

"Jadi kamu udah terima lamaran itu, Ra?" tanya Hana—teman sekamarnya Almeera.

Almeera menunduk lesu. Memang hanya itu yang bisa Almeera lakukan. Menolak pun seolah sudah tidak ada harapan.

"Yang happy dong, Ra!" seru Hana. "Mau nikah sama gus ganteng tuh harus seneng dan disyukuri dengan sepenuh hati."

"Aku merasa masih terlalu muda buat menikah, Hana. Ilmuku juga masih dangkal sekali," ujar Almeera dengan suara pelan.

"Kamu mengkhawatirkan soal umur? Hmm, dua belas tahun emang lumayan jauh sih. Tapi loh nggak papa banget, Ra. Kamu bakal kelihatan awet muda kalau nikah sama cowok yang umurnya jauh lebih tua dari kamu," Hana mengatakannya demi bisa membuat Almeera tersenyum.

"Kenapa harus aku? Mbak pondok lain yang lebih-lebih dari aku, kan, banyak. Ya lebih pintar, ya lebih cantik, ya lebih soal nasabnya juga," heran Almeera termenung lesu.

"Karena Gus Kafa lebih tertarik padamu, Ra"

Almeera masih tidak yakin dengan jawaban tersebut. Ia sama sekali belum pernah bertegur sapaa dengan Gus Kafa. Bagaimana bisa beliau tertarik sama Almeera?

Ya Allah .... bolehkah hambamu yang lemah ini kembali mengeluh? Pantaskah hamba mengeluh karena akan menikah dengan putra sulung Pak Yai?

***

Hari-H Pernikahan

Wajah cantik Almeera terpantul di depan cermin panjang yang ada di hadapannya saat ini. Balutan gaun warna putih dengan warna hijab yang senada membuat wajah Almeera terlihat bersinar.

"Cantik banget kamu, Ra! Udah kayak ratu dari timur tengah sana," puji Hana karena takjub dengan penampilan Almeera.

"Aku deg-degan, Han. Tanganku dari tadi tremor terus. Nggak mau berhenti," Almeera menunjukkan kedua tangannya yang sejak tadi bergetar hebat.

"Biasanya calon pengantin memang seperti itu mbak. Apalagi kalau pas mau akad. Tapi nanti kalau udah salaman sama suaminya jadi ndak tremor lagi kok mbak," ucap salah satu mbak-mbak MUA yang tadi merias wajah Almeera.

"Nanti mbak pengantinnya bisa duduk di ruang sebelah, ya. Habis acara akad baru nanti pindah ruangan bareng sama mas pengantinnya."

Almeera mengangguk paham usai mendengar penjelasan dari salah satu kru WO yang stanby di ruangan ini.

"Hana," panggil Almeera. "Kira-kira, Gus Kafa beneran suka sama aku nggak, ya?"

"Pasti suka to, Ra. Dia lho yang minta Pak Yai sama Ibu Nyai buat melamarmu. Udah pasti sukanya sama kamu," jawab Hana sangat yakin.

Selang lima belas menit dari perbincangan tersebut, Almeera sudah berdiri di ruangan khusus yang sudah disediakan. Ia didampingi Hana dan dua perempuan lain dari keluarga ndalem.

"Bismillah, aku niatkan pernikahan ini karena ingin mengharap ridhomu Ya Allah."

Suara penghulu mulai terdengar jelas di telinga Almeera ketika akad nikah akan segera berlangsung.

"Ankahtuka wazawwajtuka makhtubataka Almeera Kaamil Majeeda binti Ahmad Kaamil bil mahri adawati as-shalati hallan!"

"Qobiltu nikahaha watazwijaha bil mahri madzkur hallan!"

"SAH?"

"SAH!"

"Alhamdulillahirobbil 'alamiin. Barakallahhulakumma wabaroka 'alaikuma wajama'a bainakuma fii khoir."

Tangis haru tak lagi bisa Almeera bendung. Almeera sudah tidak mendeskripsikan bagaimana perasaannya saat ini. Menikah dengan seorang gus sama sekali tidak pernah terpikirkan dalam kehidupan Almira.

"Ayo, Ra. Aku temani buat ketemu sama suamimu," ajak Hana sembari menggandeng tangan Almeera.

Gus Kafa ... perasaan Almeera seperti campur aduk tak menentu. Masih tidak yakin kalau dirinya sudah sah menjadi istri dari putra sulung ....

"Selamat Gus Nabil! Doa terbaik untuk keluarga barunya njenengan, Gus"

"Akhirnya nikah juga kamu, Gus. Bahagia terus buat Gus Nabil dan istri."

"Gus Nabil sama Ning .... . Duuh aku lupa sama nama istrimu, Gus. Namanya terlalu cantik. Apalagi dengan wajahnya?"

Almeera secara mendadak menghentikan langkah kakinya tepat saat ia sudah berada di ambang pintu.

Tunggu dulu. Almeera tidak salah dengar, kan? Kenapa ada nama laki-laki lain yang diselamati dalam acara pernikahannya saat ini?

"Gus Nabil? Memangnya Gus Nabil nikah sama siapa?"

***

Takdir CintaWhere stories live. Discover now