BAB 1: Kembali Untuk Siapa?

55 8 1
                                        

Rana Anindira, nama yang sebenarnya sudah kumiliki seutuhnya sejak 28 tahun yang lalu. Nama yang biasanya digaungkan oleh ayah sebagai nama anak yang paling beliau cintai. Tapi, biar ku ralat sedikit. Aku memiliki seorang saudara perempuan yang tentunya juga ayah cintai. Namanya Raisa. Namun, memang ada perbedaan khusus yang mungkin memang membuat ayah lebih menyukaiku dibanding dengan dia. Sejak kecil aku memang senang belajar, membaca buku, dan selalu ingin tahu tentang dunia pengetahuan. Sehingga, aku lah yang sering ikut ayah untuk pergi mengajar anak-anak yang saat itu tinggal di pemukiman sekitar danau. Benar, ayah memang abdi sejati danau itu, dan biarlah aku mengatakan demikian. Karena ayah dalam kondisi seperti apapun rela meluangkan waktunya untuk pergi ke danau itu lalu mengajari anak-anak yang kurang beruntung mengenyam dunia pendidikan, tentunya tanpa ada pemungutan uang satu rupiahpun. Sejak saat itu pula sebenarnya aku sudah mulai menyadari ada kesenjangan antara aku, ayah, ibu, dan saudara perempuanku.

Ibu selalu menuntut ayah untuk tinggal lebih lama di rumah saat ada hari libur di perusahaan, atau setidaknya ibu ingin ayah mengistirahatkan tubuhnya sesaat baru tiba dari kantor. Namun, begitulah ayah. Beliau tidak mendengar perintah ibu. Raisa, saudara perempuanku juga demikian. Ia adalah seorang ballerina sejak kecil. Dia suka menari, dia suka menyanyi dan dia lebih ceria dibanding aku. Suatu ketika saat kami duduk di bangku kelas 6 SD, dia mengikuti sebuah kontes balet. Tentunya, anak mana yang tidak ingin hobinya itu disaksikan oleh orang tuanya saat tampil. Namun, lagi-lagi ayah tidak mau datang saat pertunjukan itu dimulai dari awal hingga akhir. Aku tahu Raisa kecewa, raut wajahnya yang dengan polesan bedak tipis itu menampilkan wajah murung dan sesekali menggerutu kepada ibu kenapa ayah tega tidak hadir saat itu. Dia menatapku sinis lalu berkata Huh, lagi-lagi karena kamu. Kenapa kamu hadir di sini, pulang saja sana! Kalimat darinya saat itu masih membekas kuat dalam pikiranku.

Ah, kenapa aku terbawa arus mengingat riuhnya kenangan masa lalu. Bukankah aku kembali bukan untuk mengingatnya?

“Kemana selanjutnya saya harus mengantar Ibu?” tanya supir yang memang sudah disiapkan untuk menjemputku dari bandara. Aku menyodorkan maps dari ponselku kepadanya. Mengarahkan untuk menuju pada sebuah tempat di mana menjadi tempat terakhirku bertemu seseorang 12 tahun yang lalu.

Aku memang sudah pergi dari tanah air selama itu, dan saat kepergian ku dulu aku berniat untuk tidak kembali. Namun, nyatanya aku mengingkari niatku itu. Sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu secara pasti aku kembali untuk bertemu siapa dan mengapa. Hanya saja ada beberapa hal yang memang harus aku urus di sini yang berkaitan dengan masa laluku.
Selama lebih dari sepuluh tahun aku telah tinggal di sebuah tempat di mana aku belajar dan memulai banyak hal sendirian. Shanghai, Cina. Kota besar yang menjadi pusat perekonomian, perdagangan, finansial dan komunikasi terpenting di Tiongkok. Rasanya saat pertama kali aku menapakkan kaki di sana aku sama sekali tidak mempunyai harapan lebih untuk merubah kehidupanku sebelumnya. Karena memang kepergianku hanyalah sebuah pelarianku dari tekanan yang semakin menjadi pada kehidupan masa mudaku dulu. Untungnya, ada keluarga Liu yang memang sejak awal membantuku. Tuan Liu Tan adalah teman baik ayah yang dulu sempat juga tinggal di rumah ayah karena kebetulan istrinya adalah orang Indonesia. Aku sengaja meminta bantuan dari keluarganya lewat anaknya yang bernama Liu Shen Li. Kami berteman akrab sejak kecil karena dia kerap ditinggal oleh orang tuanya yang saat itu bolak-balik Indonesia-Cina, sehingga dia sempat dititipkan kepada orang tua ku semasa kecil. Hadirnya aku saat ini juga atas bantuan mereka. Entah apa dasarnya mereka begitu baik kepadaku sampai-sampai mereka mengurusku sampai saat ini tanpa mengajukan pernyataan Apakah kamu mau menjadi bagian dari keluarga Liu? Sama sekali aku tidak menemukan suatu hal di luar kepalaku di mana mereka meminta balasan sesuatu dariku yang memang tidak memiliki apa-apa ini. Saat aku bertanya mengapa mereka begitu baik kepadaku, jawabannya selalau sama Bukankah sesama manusia memang harus saling membantu?

Ponselku berdering, layarnya menyala menampilkan sebuah walpaper dengan tema bunga Asoka. Alih-alih mengangkat telepon dari seseorang, aku justru memandangi gambar bunga Asoka itu. Gambar itu telah menjadi penghuni tetap layar utama ponselku selama empat tahun terakhir. Dulu sebelum aku memasang gambar itu, aku sempat terpikirkan oleh seorang lelaki paruh baya yang juga menyukai bunga itu. Mengapa dia menyukai bunga Asoka sepertiku?  Ada sebuah jawaban dari pertanyaan itu yang sampai saat ini masih menjadi alasan mengapa aku mengasingkan seseorang di hidupku sampai saat ini dan mungkin sampai nanti di kemudian hari.

Mengapa Bapak begitu menyukai bunga Asoka? Padahal banyak sekali bunga yang lebih cantik dari pada ini.” Aku berkata sambil merapihkan bunga Asoka yang baru saja aku bawa ke dalam sebuah vas bunga yang sebelumnya aku isi dengan air. Sesekali aku memandangi juga tubuh lelaki paruh baya yang tertidur di ranjang rumah sakit ini. Bagaimana bisa beliau begitu menyukai bunga ini sampai-sampai kamar VIP yang dia pilih juga bernama ruang kamar Asoka.

Selalu aku ulangi kalimat itu setiap satu minggu sekali, namun tidak pernah aku sekalipun mendapati jawaban darinya. Entah telah berapa lama lelaki paruh baya itu tertidur lama di rumah sakit. Aku hanya menjadi pengantar bunga rutinan setiap satu minggu sekali ke kamar beliau. Namun, selama itu pula aku tidak pernah melihat siapa saja keluarganya yang pernah datang berkunjung karena letak ruangan ini juga sepertinya di desain khusus hanya untuk beliau. Hmm.. memang orang yang memiliki uang banyak bisa melakukan dan meminta permintaan khusus apa saja selama mereka bisa mengatasinya dengan uang. Seperti hal ini contohnya.

Napasku keluar dengan berat. Kenapa lagi-lagi kenangan masa lalu bisa bermunculan satu per satu di otakku. Padahal itu bukan menjadi bagian dari rencanaku untuk menampilkan kembali masa-masa yang sampai saat ini aku benci. Terakhir kali aku datang ke rumah sakit pada masa itu aku tidak menampilkan wajahku yang ceria, justru sebaliknya. Aku memang membawa pesanan bunga Asoka namun bukan untuk ku tata kembali pada sebuah vas bunga yang biasanya aku isi dengan air, namun untuk ku letakkan di sisi kanan tangan lelaki itu. Saat itu aku benar-benar merasa kecewa pada semua hal yang berkaitan dengan lelaki paruh baya itu. Namun, di sisi lain saat itu pula ada rasa sedikit bahagia dalam hatiku ketika melihat matanya kembali terbuka setelah sekian lama tertidur. Kata suster yang berjaga selama dua minggu aku tidak mengunjunginya, kondisi beliau sudah berangsur membaik. Saat itu beliau juga memandangiku entah apa yang dipikirkannya sampai air matanya menetes. Hanya beberapa kalimat panjang yang saat itu mampu aku ucapkan  Mungkin ayahku memaafkanmu, namun ibuku atau mungkin bahkan saudara perempuanku belum tentu melakukan itu jika mereka mengetahui hal sebenarnya. Hari ini biar aku akhiri begini saja. Karena, bukan hanya tentang kematian ayahku yang membuatku merasa tertekan. Aku banyak sekali menerima tekanan sejak saudara perempuanku menghilang lalu ditambah ayah yang justru benar-benar hilang dari kehidupanku. Oh, ya. Tadi aku juga bertemu anak laki-laki mu, Atlas, untuk terakhir kalinya. Aku juga berpamitan kepadanya bahwa aku akan pergi. Namun, tidak ku beri tahu siapapun kemana aku akan pergi. Pikiranku benar-benar merasa terganggu sejak aku mengetahui bahwa penyebab kematian ayahku adalah keluarga anda. Sampai jumpa di waktu yang entah kapan itu. Semoga anda dan keluarga anda selalu bahagia meski harus mengorbankan orang lain yang tidak bersalah.

#See_u

Loss Feeling Is Called Time Where stories live. Discover now