SATU

3.4K 242 102
                                        

Halo, appa kabar?

Lumayan lama ya kalian nunggu cerita ini? Maaf baru bisa aku up sekarang.

Aku harap kalian sudah baca cerita LANAZWA sebelum baca cerita ini, karena cerita ini lanjutan dari LANAZWA.

Hanya ngasih tau kalau ABOUT AZKADIBA juga bisa kalian baca versi au di Instagram aku aul_albirru, di sana kemungkinan besar bakalan sering up dari pada versi wattpad.

Sebelum baca mari pencet bintang dulu, jangan jadi pwmbaca yang tak kasat mata, ya😁

(HAPPY READING)

🎨🎨🎨

Rutinitas Azka setiap pulang dari kafe adalah mengunjungi makam sang Ummah, sebelumnya ia sudah membeli bunga tulip putih kesukaan Ummah nya itu. Sesampainya di pemakaman Azka berjalan menuju sebuah makam yang terlihat sangat terawat, ia duduk di sisi makam itu dan meletakkan bunga yang tadi ia beli.

Tagannya mengusap lembut nisan yang bertuliskan nama sang Ummah, mata cowok itu berkabut kala mengingat bagaimana proses Nazwa dulu dimakamkan. Kepalanya tertunduk, air di pelupuk berhasil keluar dan membasahi tangan yang masih mengusap batu nisan itu.

"Mah, Abang sekarang udah lulus kuliah. Rayyan sama Zayyan juga tumbuh jadi anak yang baik, mereka sama kaya Mah dulu." Suaranya mulai parau, cowok itu tak sanggup meneruskan ucapannya.

Bayang-bayang waktu ia kecil kembali berputar di kepalanya, senyuman indah Nazwa masih terekam jelas dalam ingatannya hingga membuat hatinya kembali sesak. Tangisan Azka kembali tumpah, hanya di pusaran sang Ummah ia bisa menunjukkan sisi terlemahnya. Azka butuh Nazwa, ia masih butuh pelukan hangat itu setiap malamnya.

"Mah, maaf kalau Abang masih sering nangis sendiri di kamar. Abang nggak sekuat itu, Abang juga masih butuh pelukan Mah," adunya dengan nada lirih. "Tadi di cafe Abang liat ada satu keluarga yang lagi quality time, persis kaya kita dulu. Abang mau masa itu kembali lagi, Abang mau Mah ada di tengah-tegah kami lagi. Mah, Azkia, Rayyan, sama Zayyan sering ngadu ke Abang kalau mereka kangen Mah, tapi Abang nggak bisa apa-apa selain ngasih mereka pelukan," lanjutnya dengan mata yang semakin merah.

"Tolong datang ke mimpi Abang, Mah, peluk Abang walau cuma di mimpi." Dada Azka semakin sakit, cowok itu terdiam saat mengutarakan permintaannya tadi yang entah akan terkabulkan atau tidak.

Notifikasi dari ponselnya memecah keheningan, Azka merogoh saku hoodie yang ia pakai dan melihat siapa yang sedari tadi mengirimkannya pesan. Tangan cowok itu langsung menyeka air mata yang sedari tadi sudah membasahi pipinya lalu membalas pesan yang dikirimkan kembarannya itu.

"Mah, Abang pulang dulu, ya? Mau jemput Kia bawel," ujar Azka seraya terkekeh pelan.

Sebelum meninggalkan pemakaman cowok itu kembali melafalkan do'a untuk sang Ummah, setelah itu ia berdiri dan meninggalkan pemakaman itu dengan langkah beratnya.

Tanpa Azka ketahuan seseorang sedari tadi memperhatikannya, dia mendengar semua keluh kesah yang tadi Azka utarakan di pusaran sang Ummah. Dia Maulana, sang Baba.

Maulana sengaja datang ke makam sang istri untuk melepas rindunya, namun tak disangka ia mendapati anak sulungnya yang tengah mengadu dengan derai air mata yang membuat hati Maulana semakin teriris.

Pria itu membiarkan Azka mengeluarkan semua keluh kesahnya, ia tidak ingin mengganggu anak sulungnya itu. Hingga Azka pergi barulah Maulana berani melangkah mendekati makam Nazwa, makam yang terlihat cantik itu membuat Maulana tersenyum tipis.

Ia letakkan bunga tulip putih yang tadi beli tadi di samping bunga yang Azka letakkan, tidak ada air mata yang menyertai kedatangannya kali ini. Maulana hanya ingin melepas rindunya saja, pria itu hanya diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

ABOUT AZKADIBA (Versi Au Ada Di Instagram Aul_albirru) Stories to obsess over. Discover now