Helo helo ges.. Kembali lagi sama ane disini mweheh
Cerita ini adalah karya yang ke dua yang di publish, padahal sebelum" ini kedua juga tapi di unpublish.
Langsung aje, kuy baca ceritanya, btw udah follow belum?
Kalo udah, terimakasih banyak....., kalo belum, yaudah follow dulu.
Jangan lupa tinggalin jejak ye.. Jangn di baca aja di vote & komen juga..
Happy reading...
.
.
.
.
.
.
.
.
Disebuah desa terpencil, terdapat seorang lelaki yang memiliki nama panggilan Alvin, saat ini ia sedang diperjalanan pulang menuju rumahnya.
Dibawah terik sinar matahari, dan diatas pasir yang rasanya begitu panas menyengat. Ia berjalan dengan sendal jepit yang bolong dibagian tumitnya, sambil menenteng plastik hitam yang berukuran sedang untuk memuat buku raportnya, bukan hanya hari ini. Bahkan setiap hari ia selalu menjadikan kantong plastik itu sebagai tasnya, karena ia tidak memiliki uang untuk membeli benda itu.
"Eh .... anak haram! Panas ya... Makanya punya bapak, biar bisa minta sepeda!" ledek salah seorang teman sekolahnya, yang menggunakan sepeda gunung. Ia adalah Zahi, anak dari saudagar kaya-raya di desa ini.
Beberapa temannya yang berada dibelakang pun menertawakannya.
"Stop panggil gue anak haram! Gue punya bapak!" murkanya, telinganya selalu panas ketika orang sekitar memanggilnya dengan sebutar Anhar.
"Kalo punya bapak. Kenapa lo ga minta sepatu, tas, sepeda, buku. Baju aja kumal banget, haha," jawab Miko yang juga temannya. Dia juga merupakan anak dari seorang sang juragan empang.
"Bapak gue udah meninggal!" ucapnya, lalu pergi dari sana..
"Bohong, kalo meninggal, kenapa kuburannya ga ada?"
Alvin pun mempercepat langkahnya agar cepat sampai rumah. Ia tak memperdulikan teriakan teman-temannya di belakang yang terus mengejeknya karena tidak memiliki seorang ayah.
Ia juga tidak tau bentuk rupa ayahnya seperti apa, karena ibunya selalu menghindari perbincangan itu. Kata ibunya, bapaknya meninggal. Karena dulu, ditempat mereka tinggal terjadi tsunami. Dan foto-foto pun tidak ada yang tertinggal satu pun. (Katanya...)
Sesampainya dirumah, ia pun mengangkat sedikit pintu yang terbuat dari bambu itu agar bisa terbuka.
Setelah ia masuk, ia langsung kekamarnya dan menaruh kantong plastik tadi di atas kasurnya yang lusuh, dan tidak ada empuk-empuknya. Kemudian, ia mengisi air dalam gelas, lalu meminumnya, untuk penyanggah rasa laparnya.
Dirumah ini Alvin hanya tinggal berdua bersama ibunya yang bernama Sarah. Rumah mereka pun jauh dari kata bagus, karena terbuat dari susunan bambu saja. Dan rumah mereka tidak memiliki lampu ataupun listrik. Setiap malam, mereka hanya menggunakan lampu tembok untuk penerang saat makan saja, setelah itu dipadamkan kembali supaya tidur dengan nyenyak.
Bukan hanya listrik, makan pun mereka kadang-kadang. Kadang sehari semalam makan hanya sekali, itu pun berbagi bersama sang ibu. Kadang pula mereka menahan lapar hingga esok tiba, dan berhutang beras di warung, pada saat mendapatkan gajih barulah mereka membayar hutang itu.
YOU ARE READING
Al My Twins (On Going) {Lagi Hiatus, Tolong Jangan Di Jiplak! Dosaa}
General FictionHallo semuanya.... Sebelum baca follow akun aku dulu ye.. Dicerita kali ini, mengisahkan tentang anak kembar yang terpisah, dan memiliki kehidupan yang jauh berbeda. Yang satu di kota, yang satu di desa. Suatu saat Alvan yang merupakan anak kota, i...
