Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

Blurb

2K 33 0
                                        

Hai, aku kembali ✋

Membawa kisah remaja seperti cerita-cerita sebelumnya.
Jujur, aku lagi kangen ni, nulis cerita tema SMA gini.
Btw, jangan lupa mampir, ya ;)

Selamat membaca ...

_____

Laki-laki berkeperawakan tinggi dengan seragam SMA, kini tengah duduk di atas semen, tepatnya di rooftop rumah kosong milik pamannya dulu. Keadaannya begitu memprihatinkan. Pasalnya, ia baru saja selesai berkelahi dengan musuh kelompoknya, hingga wajahnya kini babak belur. Tak ada yang tahu ke mana ia pergi, ketika perkelahian itu dibubarkan oleh suara kencang sirine polisi. Bahkan ketiga sahabatnya saja tak tahu keberadannya kini.

Irisnya terus menatap langit sore dengan warna jingga di sana. Tak ingin pergi, hingga rasanya nyaman menyaksikan hal itu dengan angin yang berhembus ke tubuhnya. Seragam putih sudah ia lepas, menyisakan kaos hitam polos pas badan. Ternyata, ada sesuatu yang merembas hingga rasanya perih tak terelakan.

Tangannya terayun mengangkat kaos, hingga terlihat darah mengalir dari sebuah goresan di samping perutnya.

"Shit!" umpatnya kesal, ketika darah itu masih terus mengalir dengan cukup deras.

Wajahnya berubah menjadi pucat. Rasanya begitu sakit hingga menusuk ke ulu hati. Tak ada yang bisa ia mintai tolong, karena tidak ada siapa-siapa di sana.

Kemudian ia meraih tas ransel yang sejak tadi tergeletak begitu saja. Lantas, ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang di seberang sana.

"Pada ke mana si, gak bisa dihubungin gini?"

Karena kesal tak ada yang mengangkat, ia sengaja mengirim sebuah voice note agar orang yang ia hubungi itu dapat mendengar suaranya. Ia tak bisa apa-apa sekarang, untuk berdiri saja rasanya tak sanggup. Apakah setelah ini ia akan mati?

Kalau iya, anggap saja kematiannya ini sebuah penanggung jawaban dari rasa sakit orang-orang yang pernah ia buat kecewa.

"Tolong, gue gak sanggup!"

Setelahnya, netra itu terkatup rapat dengan deru nafas yang semakin menipis. Pasokan udara seakan menyesakkan, hingga tak ada celah untuknya mengambil nafas banyak.

Exchange (End)Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora