Single ready to Mingle

1K 75 58
                                        

Karena tidak ingin di jodohkan, Hinata minggat. Bekerja sebagai asisten koki di resto fine dinning yang lumayan terkenal di Kota. Niat hati ingin meneruskan cita-cita jadi juru masak yang sukses, masa harus jadi istri langsung saat tamat kuliah, Hinata tidak sudi.

Tapi nasip berkata lain. Baru beberapa bulan bekerja, restonya bagkrut, Hinata di PHK, tabungan menipis, harus pandai-pandai untuk bertahan hidup walaupun ingin menangis.

Membuka tempat makan sederhana ( Sebut saja Warteg ), yang kebanyakan hanya bapak-bapak dan bujang lapuk yang datang. Mau pulang tapi gengsi sama orang tua dan takut langsung di tunang.

Menjadi kasir IndoApril memang tidak berat, di banding kerja dengan ayahnya yang tidak punya rasa prikeanakan. Tapi selama bekerja Naruto bukannya untung, malah buntung terus karena di kecoh pelanggan, terpaksa harus ganti rugi tiap hari.

**********************************

Membuka usaha memang tidak mudah, apalagi tempat makan, harus betah dan tidak mudah menyerah. Begitu kata pepatah.

Hinata buktinya. Membuka warung makan kecil-kecil agar bisa bertahan hidup di ibukota, agar tidak menyerah dan pulang kerumah. Bulan pertama memang membuat merana, tapi untung saat-saat genting itu sudah berlalu.

Beruntung sekarang pelanggan lumayan banyak berdatangan. Dulu hampir Hinata menyarah, mengepak barang dan pulang kerumah ayah, tapi karena takut akan di kawinkan paksa, jadi terpaksa dia bertahan sampai hari ini.

Genap sudah satu tahun Hinata kabur dari rumah. Jangan kira ayah dan abangnya tidak meneror dan meminta gadis itu pulang, akan tetapi Hinata masih berat hati, karena ayahnya yang keras hati, tetap ingin dia menikahi pria pilihan Hiashi yang tidak Hinata cintai.

Jangankan cinta, kenal saja tidak, apalagi bertatap muka.

"Nat, biasa ya" Hinata tersentak dari lamunan malam yang tidak berguna. Di bangku panjang itu sudah duduk salah satu pelanggan setianya yang hampir datang setiap siang dan malam. Pria kasir IndoApril seberang warung makan Hinata.

"Ok mas, pake sambel nggak ?" Pria itu menangguk. Dan Hinata menyiapkan pesenan

"Mas Naru nggak kerja ?" Pria itu tidak mengenakan seragam kerjanya seperti biasa, dan itu tumben sekali pikir Hinata. Kerena biasanya Naruto akan datang saat memulai shift dan makan malam.

Pria itu mencomot gorengan tempe di depannya yang sudah lumayan dingin, maklum di goreng dari sore tadi, tapi masih enak, tentu saja karena buatan tangan Hinata.

"Nggak Nat, cuti dulu. Kerja terus, kaya kagak. Capek" Dengan mulut yang masih mengunyah gorengan itu, Naruto menjawab Hinata.

"Ganti rugi lagi ya ?" Hinta terkekeh saat Naruto mengangguk mengiyakan dengan tampang suram.

"Au nih Nat, apes banget rasanya, nggak untung malah buntung mulu. Kapan bisa halalin kamu kalau kayak gini terus"

Guyonan pria itu hanya di anggap angin, karena sudah biasa begitu. Rata-rata makhluk berbatang yang datang ke warungnya pasti menggoda Hinata seperti itu, ya walaupun Naruto lebih sering sih.

Gadis itu meletakan sepiring nasi yang sudah lengkap dengan lauk dan sayur sesuai pesanan di depan Naruto, tidak lupa segelas teh tawar anget.

Ayam goreng, tempe orek, tumis kangkung dan sedikit sambal selalu jadi menu pria itu, Hinata sudah hapal betul.

Menu pria itu akan berubah kalau mendekati pertengahan bulan, biasanya hanya telur dadar dengan tumis sayuran.

"Makan dulu mas, biar fokus"

SINGLE READY TO MINGLEWhere stories live. Discover now