Bangun

175 38 2
                                        

Sebuah Rumah Sakit kota di salah satu kamar inap, seorang pemuda tengah tertidur dengan pulasnya di ranjang. Bunyi bib berdenting setiap detiknya diiringi napas yang teratur.

Langit sudah mulai menampakkan sang mentari dan cahayanya menerangi ruangan tapi pemuda itu tetap setia dengan tidur panjangnya.

Tak lama beberapa langkah kaki terdengar tak jauh dari ruang inap berada. Pintu terbuka memperlihatkan enam pemuda berwajah sama memasuki ruangan.

Dua diantaranya membawa sesuatu seperti makanan rumahan, kemudian diletakkannya di atas nakas di samping ranjang pasien.

Salah seorang pemuda dengan baju coklat atau Gempa menuju ranjang dan mengambil kursi lalu duduk di samping ranjang.

Matanya menatap saudara-saudaranya sejenak kemudian kembali beralih ke pemuda yang sedang tertidur tanpa tahu kapan akan bangun.

Ia menghela napasnya, "Duri masih belum mau bangun, ya?" tanyanya bertanya pada diri sendiri.

Mendengar kata-kata darinya, beberapa pemuda yang sedang sibuk sendiri mengunci atensi padanya.

Kemudian, pemuda penyuka biru atau Taufan mendekati Gempa dan melontarkan kata-kata penyemangat, "tenang aja Gem, jangan pernah berhenti berharap, mungkin Duri masih perlu waktu buat sendiri," ujarnya dengan senyum.

Gempa tersenyum mengikuti nasihat saudaranya. Kakaknya benar, apapun yang terjadi jangan berhenti berharap dan berdoa semoga adik mereka bangun.

Saat hari itu tiba dan  ia membuka matanya, yang akan adiknya lihat pertama kali adalah kakak-kakaknya.

Sedangkan di sisi ruangan lain, seorang pemuda dengan ciri khas merah hitam itu menatap dua pemuda yang merupakan adiknya. Meski pendiam ia terlihat mengkhawatirkan adiknya yang masih nyaman berkeliaran di alam mimpinya.

Sama seperti keduanya, Halilintar atau sang kakak sulung juga berharap hal yang sama agar sang adik membuka matanya.

Sedangkan Ice, Solar, dan Blaze, sudah keluar duluan meninggalkan ketiganya setelah memberitahu Halilintar.

Tak lama kemudian, Halilintar memilih mendekat ke keduanya dan menegur, "ayo keluar, biarkan dia istirahat," ujarnya dan diangguki oleh keduanya.

Setelah Gempa dan Taufan keluar, tersisa Halilintar seorang, ia mendekati Duri dan mencium keningnya sembari berbisik, "kami merindukanmu, cepat bangun ya."

Kemudian, Halilintar pun keluar dan menutup pintu dengan pelan. Kini yang tersisa di sana hanya ia seorang. Angin bertiup membuat gorden bersibak. Tak lama, tangan yang sudah lama tidak membentuk reaksi bergerak samar dan lama-lama menimbulkan gerakan biasa di susul netra hazel yang terbuka perlahan.

Pemuda itu menyesuaikan cahaya yang masuk kematanya, di dalam kebingungannya yang ditangkapnya pertama kali adalah langit-langit berwarna putih. Kepalanya ditolehkan sebisanya karena merasakan sakit langsung menghantam kepalanya.

Kemudian pemuda itu langsung bangun dari tidurnya dan melepaskan masker oksigennya dengan susah payah sambil memegangi kepalanya yang masih menyisakan sakit dan sadar saat ada perban yang lingkari kepalanya.

Di tengah ia yang sibuk meringis memegangi kelapanya yang masih sakit, suara pintu terbuka membuatnya tersentak dan langsung menoleh dan mendapati Taufan yang juga langsung membeku di tempat.

"Si-siapa?" tanya Duri. Lebih seperti gumaman hingga tak terdengar.

Tanpa meminta izin, Taufan segera menerjang Duri dan memeluknya membuat empunya kaget bertambah bingung. Taufan menangis sejadinya menghiraukan keterkejutan Duri.

Tak lama beberapa langkah kaki datang dari luar dan mengalihkan atensi pemilik netra hazel dan reaksi yang diberikan oleh beberapa pemuda yang masuk juga memiliki reaksi yang sama.

"Duri!"

Kini mereka tengah mengelilingi ranjang Duri, Taufan sudah melepaskan pelukannya, selanjutnya, berbagai pertanyaan dilayangkan setelahnya, tapi anehnya tak ada jawaban yang dilontarkannya olehnya. Semuanya tentu khawatir dengan diamnya.

Namun, ketika kata-kata akhirnya keluar dari bibir Duri, itu mengguncang mereka semua.

"Siapa kalian?"

Bersambung....

Denting Familiar Mga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon