00. | Prolog

121 15 4
                                        

~Happy Reading~

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

~Happy Reading~

♦ • ♦ • * • ♦ • ♦

Sialan.

Wanita itu dengan santainya berputar di lantai dansa. Ia berdansa dengan gaun mengembangnya serta senyum yang merekah di wajahnya. Kakinya bergerak dengan lembut dan tenang mengikuti alunan nada. Sedangkan pasangan dansanya juga tampak elok dengan tuxedo putihnya.

Seandainya aku tak mengenal mereka, mungkin aku sudah terpana dengan dansa mereka. Namun sayangnya, aku justru mengenal dekat dengan mereka sehingga aku merasa jijik melihat mereka berdansa. Setiap kali mereka berputar, sama halnya dengan lingkaran kekacauan yang mereka buat. Mereka terlalu genius untuk merancang semuanya. Satu hal yang membuat ku heran adalah mengapa raja tampak begitu santai. Mengapa raja tidak terusik dengan perbuatan mereka yang terpampang jelas saat ini. Atau mungkin raja hanya pura-pura tidak melihat walau ia sudah tahu semuanya.

Situasi lainnya juga membuat ku merasa risi. Para bangsawan di sekeliling ku, bercengkerama hangat walau aku tahu pembahasan mereka tidaklah hangat melainkan panas. Sedari tadi telinga ku mendengar para bangsawan itu saling membicarakan keburukan satu dengan yang lain. Aku tak peduli karena itu tidaklah penting. Sesuatu hal yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya menghilangkan senyum bahagia di wajah pasangan indah itu.

Di tengah-tengah otakku yang sedang berpikir, tanpa sengaja pupil ku bergeser ke seorang pangeran yang tampak menawan. Ia mengenakan pakaian bangsawan biasa, tak begitu mencolok tapi sangat pas di tubuhnya. Kemudian pupil ku bertemu pandang dengan maniknya, segeralah aku mengalihkan pandangan. Entah mengapa wajahku tiba-tiba memanas. Karena sudah terlanjur malu, aku pun beranjak pergi dari tempat dudukku. Aku memilih untuk keluar dari aula dansa yang terasa sesak oleh para bangsawan gila.

Bangsawan-bangsawan itu sebagian memang gila, ada yang gila harta, gila kepopuleran, dan tentu saja gila kekuasaan. Lama-lama aku bisa muak di dalam sana. Lagipula tak ada yang sedang mencari ku. Jadi sebaiknya, aku berada di taman kesukaan ku.

Belum lama aku berada di taman itu, seseorang menghampiri ku. Sepertinya ia merasa suntuk di dalam sana atau merasa muak seperti ku. Entahlah, aku tak tahu. Ia menyapa ku dengan suara mendayu-dayu dan ku balas dengan senyum tipis. Ia ikut duduk bersama ku di kursi taman. Kami pun berbincang santai di malam yang bertakhtakan rembulan.

♦ • ♦ • ♦

‎"Diam dan menyerahlah Putri!" seru seorang prajurit berjubah gelap, "serahkanlah dirimu supaya rakyatmu tidak akan ku hancurkan."

‎Putri itu tersenyum miring, "kau mengancam ku dengan atas nama rakyat, CIH!"

‎Sosok berjubah lainnya mulai mengumpul menjadi satu, mereka melingkari dua putri yang berada di tengahnya. Mata mereka menatap buas layaknya singa yang siap memangsa.

‎Sedangkan para putri itu hanya bisa mengeratkan genggamannya pada pedang yang mereka temukan. Mereka saling membelakangi agar dapat saling melindungi dari serangan para sosok berjubah itu.

‎Pergolakan pun terjadi di tengah hutan yang cukup sepi itu. Dua perempuan melawan selusin prajurit berjubah gelap adalah perlawanan yang tidak seimbang. Sebab kini, dua putri itu kewalahan. Namun insting mempertahankan diri serta sedikit pelatihan yang mereka ikuti, membuat mereka terlihat lihai dengan bilah perak panjang itu.

‎"Aargh....!" salah satu dari putri itu kini tertusuk oleh pedang prajurit itu. Putri itu tertusuk pada perut bagian kanan saat melindungi saudarinya yang lebih dulu terluka pada lengan kanannya.

‎"Itulah akibatnya karena melawan. Jika kalian menyerahkan diri, tidak akan ada yang terluka."

‎"Mengapa tidak kita bunuh saja mereka?" seorang rekan prajurit lain bertanya pada pimpinan kelompok itu.

‎"Tidak, kita hanya diperintahkan untuk menangkap mereka hidup-hidup. Tak apa jika luka asalkan mereka masih hidup saat menghadapnya."

♦ • ♦ • * • ♦ • ♦

♦ • ♦ • * • ♦ • ♦

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
The Untold Of Kingdom  [On Going]Stories to obsess over. Discover now