Chapter 1 : Bom waktu

9 0 0
                                        

PALESTINA, 2023

Sebuah serangan lepas tepat pukul 4 pagi waktu setempat, bahkan sebelum adzan shubuh berkumandang disana. Serangan tanpa aba aba itu menewaskan sebanyak 27 orang. . Mereka masih mencoba melindungi tanah Nabi Shaleh A.S itu sendiri dengan sekuat tenaga walaupun mereka harus mati ditangan israel. Itulah prinsip mereka sampai akhir hingga, karena janji Allah.

Tubuh seorang laki laki asal Asia itu terbanting cukup jauh dari tempat awal ia berdiri akibat serangan dari tentara Israel. Sebuah peluru ikut menembus dagingnya dibagian lengan kirinya. Rasa sakit yang tak tertahankan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuatnya lemah tak berdaya. Napasnya tersenggal tak beraturan.Pandangannya lurus menghadap ke langit Palestina yang masih gelap.

"Ya Allah, izinkan hamba mati syahid" doa nya pasrah. Memang itu alasan seorang tentara asal indonesia yang bernama lengkap Arzan Darry Muhammad itu ada disini. Ia merelakan hidupnya untuk berjuang mengusir Israel dari tanah peninggalan nabi nya yang terdahulu. Dada nya mulai basah kembali, menandakan luka yang kemarin belum kering kini sudah mengeluarkan darah lagi. Arzan benar benar pasrah. Ia ikhlas jika ia harus dijemput saat ini juga.Ia ikhlas tidak menghembuskan napas terakhirya di tanah kelahiran nya, Indonesia. Ia ikhlas. Karena sejak awal tujuan ia kesini jika bukan memerdekakan Palestina, maka ia siap mati di tanah itu juga. Tatkala pandangannya mulai berkunang kunang karena darah yang terus merembes keluar dari dada dan lengannya, Arzan tersenyum.

La ila ha illalah..

Tepat setalah ia menyelesaikan kalimat suci itu, ia tak sadarkan diri. Bertepatan dengannya sebuah bom mulai menggelegar 100 meter dari tempat Arzan terbaring. Menandakan perang kembali dimulai.

***

Satu jam menjelang itu, sebuah pesawat mendarat mengangkut ratusan relawan asal indonesia lainnya. Puluhan medis serta tentara siap untuk membela Palestina saat itu juga. Tepat saat mereka baru saja menginjakkan kaki disana untuk pertama kalinya, mereka sadar. Ini bukanlah sebuah perjalanan yang menyenangkan. Begitu juga yang dirasakan oleh Tsabita Almahyra. Setelah perang batin selama seminggu dan sulitnya untuk menyakinkan orang tuanya jika ia akan pulang dengan kondisi yang selamat membuat nya sedikit takut tatkala ia benar benar menginjakkan kaki nya di tanah ini. Apakah ia akan pulang dengan selamat? Apakah tubuhnya akan tetap lengkap tatkala ia pulang ke Indonesia?

Berbagai pertanyaan itu memenuhi kepala Alma dan ia tak menyangka jika sudah 30 menit perjalanan setelah pesawat mendarat. Bus itu berhenti tepat didepan rumah sakit. Alma tidak tau apakah itu benar benar benar rumah sakit atau bukan, melihat kondisi bangunannya yang sudah tidak berbentuk. Dinding rumah sakit itu sudah mengukir banyak sekali lubang bekas peluru.

Alma beserta puluhan relawan medis lainnya pun turun. Sedangkan tentara dan yang lainnya melanjutkan perjalanan untuk ke kamp mereka masing masing.

Tanpa banyak tanya, Alma langsung mengikuti rombongannya yang ternyata langsung berbelok ke asrama mereka. Diluar dugaan Alma ia mengira jika asrama mereka akan lebih baik daripada konsisi rumah sakit yang baru saja ia lihat. Yang banyak bekas peluru atau bekas kebakaran serta banyak nya pasien yang butuh pertolongan medis. Ternyata asrama nya tak jauh beda dengan rumah sakit yang barusan ia lihat. Bangunan itu terdiri dari 3 lantai dan sebuah ruang bawah tanah. Alma masih belum yakin dengan apa fungsi ruang bawah tanah tersebut. Yang jelas di lantai pertama bangunan itu sudah dipenuhi oleh relawan beserta anak anak yang membutuhkan pertolongan. Beberapa dari mereka sudah terlelap, beberapa masih terjaga karena trauma akan bom yang tiba tiba meledak. Setidaknya Alma menghela napas lega saat ia satu bangunan dengan anak anak. Jika boleh jujur alma lebih senang merawat anak kecil dibandingkan orang dewasa. Setelah menaiki tangga barulah mereka sampai di lantai 2 dan menuju kamr masing masing. Kamar yang sederhana yang hany memiliki 2 kasur bertingkat dan 4 buah meja. Untuk kamar ukuran 4 orang, itu termasuk kecil. Namun alma tidak mempermasalahkan hal tersebut.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 25, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Foretine with You Where stories live. Discover now