Matahari mulai terbenam, aku menggendong tas sekolahku keluar dari ruangan kelas yang menyiksa. Matematika, jam terakhir yang membuat semua siswa di kelas menderita termasuk aku. Aku yang kelelahan segera berjalan menuju parkiran sepeda motor lalu pergi pulang. Setibanya di rumah, tanpa sempat mandi ataupun makan, aku segera pergi ke kamar dan tertidur.
"Ah sial, aku terlambat," ucapku setelah membuka mata dan kembali melihat dunia yang suram ini di pukul 8 pagi.
Aku harus segera berangkat sekolah. Gerbang akan ditutup pukul 8.30. Segera kutarik handuk dari lemariku dan beranjak dari tempat tidurku.
"Ah Panas," Sial aku lupa mengarahkan tuas showerku ke arah kiri, air yang keluar seperti membakar kulitku perlahan.
Kesal dengan shower aku memutuskan untuk tidak mandi dan hanya mencuci wajahku di wastafel.
"Jo... Ayo cepat nanti kau terlambat," teriakan ibuku menggema di penjuru rumah memberiku sinyal untuk segera berangkat.
Segera kupakai set seragam kuningku dengan celana berwarna coklat khas sekolahku. Kubawa tas sekolah lalu pergi dan pamit pada ibu,
"Berangkat ma," Ibu menjawabnya sembari membuat petis untuk dijual, lalu segera ku tancapkan kontak sepeda motorku dan segera berangkat. Setelah beberapa menit tibalah aku di perempatan besar di Keputran, dan kini aku berada di kawasan pasar tradisional Keputran yang sangat ramai di pagi hari. Bosan rasanya dengan suasana seperti ini setiap harinya, namun kurasa ragaku sudah menerima segala hal ini. Tak terasa lampu berubah hijau, dengan terburu-buru aku menyalip kendaraan di depanku agar aku bisa terbebas dari lampu merah berikutnya. Entahlah lampu hijau di sini terasa singkat sekali meskipun durasinya lebih dari tiga puluh detik. Akhirnya tibalah aku di sekolah, dan benar saja aku terlambat.
"Aduh, aku terlewat lima menit," ucapku.
Bergegas kuparkirkan motor dan berlari ke gerbang sekolah.
"Sudah jam berapa ini dek," tegur Satpam sekolahku yang berjaga di depan gerbang. Namanya Pak Norman dan aku kerap memanggilnya Pak Man. Kita sudah saling mengenal sejak lama karena dulunya aku bertetangga dengan beliau.
"Ya, maaf Pak Man... Buruan deh pak bukain pintunya, nanti keburu saya dimarahin, selagi baru terlambat 5 menit nih," sahutku. Berhubung aku dan Pak Man sudah kenal dekat, tak perlu berlama-lama beliau langsung membukakan pagar untukku.
Aku membatin, "enak juga ya kenal orang dalam, kalau tidak kenal bisa kena pelanggaran tadi."
Setelah aku masuk, sekolah terlihat sangat sepi. Ini terjadi karena para siswa sudah mengikuti kegiatan doa pagi bersama. Malu rasanya tiba-tiba bergabung ke tengah doa saat mereka sudah memulainya terlebih dulu, jadi lebih baik aku menunggu di kelas. Selagi menunggu siswa lainnya kembali, lebih baik kalau aku menceritakan diriku pada kalian, Namaku Jonathan Alexander, kalian bisa memanggilku Jojo atau Jonathan. Aku berusia tujuh belas tahun dan sekarang sedang duduk di bangku kelas 12 atau orang dulu menyebutnya kelas 3 SMA. Aku tinggal di Surabaya tepatnya di Kelurahan Dinoyo. Aku tinggal bersama ibuku, Ayahku telah lama meninggal sejak aku masih berusia empat tahun, sedih karena aku tidak ingat betul bagaimana wajah ayahku sebelum dia meninggal. Aku bersekolah di Sekolah Menengah Atas swasta di Surabaya, SMA DAPENA itulah nama sekolahku. Tidak terlalu terkenal tapi berkesan untukku yang sudah menempuh dua tahun lamanya di sekolah ini.
Kriiiiingggg... Bel sekolah berbunyi, sepertinya perkenalanku hanya sampai sini saja, aku harus keluar dari kelas ini dan kembali bersama dengan siswa lain yang ikut doa pagi. Saat berjalan keluar,aku berpapasan dengan seorang siswa perempuan, dia menggunakan headphone-nya dan seakan tak peduli dengan dunia sekitar. Terasa asing melihatnya, karena aku tak pernah melihat dia sebelum hari ini. Aku termenung selagi menoleh tipis ke belakang arah perempuan itu berjalan.
"Kok aku tidak melihatmu tadi," ucap Matthew tiba-tiba sambil menepuk pundakku.
"Oh, aku terlambat tadi, jadi sungkan buat ikut di tengah doa," sahutku.
Matthew adalah sahabatku. Kita sudah saling mengenal sejak kelas 1 SD, entah kebetulan atau tidak, kita selalu bersekolah di tempat yang sama, dan selalu sekelas sejak dulu. Sembari kami berjalan menuju ke kelas aku iseng menanyakan soal siswa perempuan tadi ke Matthew.
"Eh, kamu tahu tidak siapa siswa perempuan yang memakai headphone tadi? Sepertinya dia tidak ikut doa pagi juga tadi?"
"Hah yang mana memangnya kok aku tidak tahu?" jawab Matthew.
"Sudah lupakan saja, tidak penting juga," sahutku.
Setibanya di kelas kami segera duduk di bangku. Aku duduk bersebelahan dengan Matthew, maklum saja sahabat selamanya.
Tak lama menunggu, masuklah guru mata pelajaran pertama yaitu Matematika. Seperti biasa hari kamis, saatnya menangis. Bu Dennie guru Matematika sekolahku masuk dan aku sedikit terkejut saat siswa perempuan itu ikut masuk bersama dengan Bu Dennie dan diikuti Kepala Sekolahku, Pak Tony.
"Selamat pagi anak-anak," salam Pak Tony.
"Pagi Pak," sahut empat puluh siswa di kelasku.
Aku menduga kalau siswa perempuan itu adalah siswa baru di sekolah kita.
Benar saja Pak Tony berkata, "Di sebelah saya ini adalah teman baru kalian di kelas 12 ini, Can you introduce yourself?."
Siswa baru itupun melangkahkan kaki sedikit ke depan dan memperkenalkan dirinya.
"Hi, I'm Joxella".
Ups, perkenalan yang sangat singkat dan sedikit ketus, lalu mengapa dia menggunakan bahasa inggris? Untungnya aku fasih berbahasa inggris sekalipun dengan aksenku yang sedikit medok khas Surabaya, jadi aku masih bisa memahaminya.
"Jadi anak-anak Joxella ini berasal dari Korea Selatan, nama koreanya adalah Minjeongu dan mungkin sulit untuk diucapkan oleh kalian, jadi kalian bisa panggil dia dengan nama inggrisnya saja yaitu Joxella, saya harap kalian semua bisa menerima Joxella dengan baik seperti anggota kelas kalian lainnya. So, Joxella you can sit down ion the empty chair!"
Ah sudah kuduga dia pasti duduk di meja sebelahku dan dia pergi meninggalkan Pak Tony tanpa sepatah katapun.
"Sombong banget dah," bisik Matthew kepadaku, dan aku menanggapinya hanya dengan senyuman.
Tak lama Pak Tony pun pamit dan pergi meninggalkan kelas, sembari dilanjutkan oleh Bu Dennie menerangkan materi pembelajaran.
Sepanjang materi aku terus memandangi Joxella yang sibuk dengan ponselnya tanpa memerhatikan guru yang menjelaskan. Aku bingung entah dia memang tidak mau memerhatikan atau memang dia tidak tahu dengan penjelasan Bu Dennie yang menggunakan Bahasa Indonesia dicampur dengan Jawa jadi Indojawa.
"Ah, tidak penting lebih baik aku belajar saja"
Setelah pelajaran pertama selesai dan berganti pelajaran, berlanjut bel berbunyi Kriiiiiinggg..., Nah ini saatnya mengisi perutku yang sudah meronta-ronta. Aku bergegas mengeluarkan bekalku begitu juga dengan Matthew.
"Bawa apa kau Mat?" tanyaku.
"Seperti biasa Jo, nugget andalan," jawab Matthew sambil membuka kotak bekalnya.
Saat kami makan kebetulan hanya ada kami bertiga di dalam kelas; aku, Matthew, dan Joxella. Biasanya memang seperti ini karena kebanyakan teman-teman sekelas kami lebih memilih membeli makanan di kantin yang bervariasi ketimbang membawa bekal dari rumah.
"Kayaknya nambah member nih pecinta masakan rumah," gurau Matthew sembari melihat ke arah Joxella.
Aku menjawab, "Ah udah tidak baik membicarakan orang."
Dan memang benar kalau Joxella juga membawa bekal makanan saat jam istirahat. Terlihat ada seporsi tteobokki yang masih hangat dan aromanya menyebar ke seluruh sudut kelas. Dia makan dengan tenang menggunakan sumpit dan sesekali memainkan ponselnya.
Di tengah heningnya kelas, GUBRAKKK... Tiba-tiba ada seseorang tersandung di depan kelas. Dia adalah Delvano, sahabatku sejak smp yang sangat humoris, sabar, dan tak mudah marah. Tubuhnya tinggi menjulang dan kurus.
"Aduh, jalan itu pakai mata, nooo," ucapku.
"Ga lihat kali ini lantainya basah jadi licin," sahut Vano sambil berjalan menghampiri mejaku dan Matthew.
Secara tak terduga dia menoleh ke arah Joxella lalu berkata, "Hey, you murid new itu kan... Hi, I'm Delvano nice to meet you hehe," sapa Vano dengan aksennya yang amburadul.
"Oh, hi, " sahut Joxella dengan singkatnya.
"Eh no, udah jangan diganggu, gapaham dia sama ocehanmu itu, hahhahahha," sahut Matthew.
Vano tertawa tipis sambil melirik sinis ke arah Joxella, lalu pergi duduk ke bangkunya.
KRIIIIIINGGGGG....
Bel kembali berbunyi dan tak lama seluruh siswa mulai kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran. Lalu, KRIIIIIIINGGGG...., Nah saatnya pulang, setelah itu aku langsung bergegas mengambil tasku dan meninggalkan kelas bersama dengan Matthew dan Vano. Kami bertiga segera menuju parkiran sepeda motor dan mengendarai motor kami masing-masing. Sekeluarnya dari Parkiran aku melihat Joxella berjalan kaki ke arah Jalan Sulawesi, jalan di sebelah kiri sekolah. Sebenarnya aku ingin mengantarnya pulang, tapi rasanya sungkan karena kita belum saling mengenal, ketika aku menyalipnya betapa terpesonanya aku saat melihatnya di spion sepeda motorku, terlihat seorang perempuan yang sangat cantik dengan mata sipitnya, lesung pipi dan gingsul pads giginya, dan dia adalah Joxella. Sepanjang jalan pulang wajahnya selalu membekas di ingatanku, bahkan kemacetan jalan raya Surabaya saat jam pulang sekolah sampai tidak terasa karena aku sibuk memikirkan pesonanya tadi.
Aku berkata dalam hati, "Gila, dari spion aja secantik itu apalagi kulihat langsung."
Setibanya di rumah, aku langsung membersihkan diriku dan melepas penat di atas kasur. Entah ini hanya perasaanku atau bukan, sekalipun aku sudah tertidur peristiwa tadi bahkan sampai terbawa ke mimpiku.
BYURRRRR...
"Aduh," aku terbangun dengan kaget saat ibuku sudah memandikanku di atas tempat tidur.
"Kamu loh tidur sambil ketawa-ketawa sendiri kayak orang gila. Daripada kesambet ibu bangunin aja."
Dengan mata lelah aku terbangkit dari kasurku lalu pergi ke kamar mandi. Aku segera mencuci wajahku, saat aku menatap ke cermin aku seolah melihat Joxella dengan senyum manisnya menatap ke arahku. Aku pun tersenyum ke arah kaca dan dengan sekelibat bayangan ibuku tiba-tiba ada di belakangku dan menjewer telingaku.
"Haduh lama-lama jadi gila kamu ini, apa sih yang ada di pikiranmu nak? Kok kayaknya happy banget sampai ketawa nyengir gitu."
Aku mengelak dan berkata, "Ah tidak apa-apa, bu."
Aku segera kembali ke kamar lalu duduk di meja belajarku, aku teringat akan mimpiku untuk bisa sukses di luar negeri. Ingin sekali rasanya bisa membanggakan kedua orang tuaku.
Ayahku pernah berpesan, "Nak, sudah saatnya kita bangkit dari keadaan ini. Rajin belajar dan harus ada yang bisa ke luar negeri dari keluarga ini. Ayah sudah gagal mencapainya dan hanya menjadi pegawai pabrik biasa."
Setelah merenung beberapa saat ponselku berbunyi CETINGG...., aku bergegas mengeceknya dan seseorang mengechatku lewat Whatsapp. Aku tidak mengetahui siapa yang mengirim pesan dan menanyakan identitasnya. Betapa herannya aku ternyata dia adalah Joxella dan lebih terherannya lagi ia bisa mengetik mengggunakan bahasa Indonesia.
"Hai, aku Xella... Salam kenal ya. Kamu Jojo kan yang tadi ada di kelas," chatnya.
Aku pun membalas, "Oh ya hai juga! Bagaimana kamu tahu namaku dan kamu bisa mengetik Bahasa Indonesia?"
"Haha, bagaimana bisa aku tidak tahu namamu, kan temanmu tadi memanggil dengan nama Joko kan?" jawabnya.
"Hah, Joko tadi kamu bilang Jojo sekarang Joko hahahaha bagaimana sih?" tanyaku.
"Astaga aku salah ketik, maaf aku tidak terbiasa dengan keypad qwerty sebelumnya aku menggunakan hangeul di Korea. Oh ya soal mengapa aku bisa Bahasa Indonesia, itu karena sebelum ke Indonesia, aku sudah melalui tahap pembelajaran Bahasa Indonesia jadi sekarang saya bisa berbahasa Indonesia, namun aksen saya sangat buruk," balas Joxella.
"Oh, baiklah," jawabku yang singkat menutup pembicaraan yang singkat pula.
Jawaban singkatku bukan tidak bermaksud apa-apa, tapi karena aku sudah salah tingkah dan senyum-enyum sendiri hanya karena kesalahan dia mengetik jojo menjadi joko, entahlah biasanya aku tidak pernah segila ini sebelumnya. Tak terasa Azan berkumandang dan hari mulai petang. Kulalui hari ini hanya dengan berpikir dan termenung. Bahkan aku melupakan PR dan juga tugas yang belum kukerjakan, aku hanya merasa tak sabar untuk menyambut hari esok dan bertemu dengan Joxella di sekolah.
Malam telah tiba, segera aku pergi ke meja makan dan mengajak ibu untuk makan bersama, kulihat di meja tersaji sepiring tahu dan semangkuk petis udang buatan ibuku. Ibu sangat suka dengan petis, hampir semua makanan pasti dimakan dengan petis, bahkan nasi putih saja sekalipun. Petis buatan ibu enak rasanya, karena ibu membuatnya secara organik tanpa campuran bahan lain selain udang dan penyedap rasa. Aku pun makan bersama dengan ibu dan terjadilah obrolan santai dengannya.
"Gimana rasanya seminggu jadi kelas 12? Sebentar lagi kamu ujian lho!" tanya ibu.
"Ah biasa saja ma, belum terasa bedanya masih, hahaha... Ujian aja masih lama ma masih 10 bulan lagi," jawabku.
"Wah, ya jangan diremehkan loh Jo! Ujian itu penting, 10 bulan cepat loh nak," sahut ibuku.
"Sudah ma, tenang saja. Oh iya, Ma tadi di sekolah ada anak baru pindahan dari korea, cewek namanya Xella, antik anaknya hahahaha," aku menimpali.
"Ah, yang benar kamu, masa asli dari korea mirip aja kali. Cantiknya seberapa sih, cantikan juga mamah, hehehe," gurau ibu.
"Iya mah beneran dari korea, Kepala Sekolah sendiri yang bilang, kalau soal seberapa cantik ya jauh cantikan mama lah. Mama kan perempuan tercantik di dunia ini, hahaha," gurauku.
Aku suka dengan suasana keluarga kecilku, ibuku sangat mengerti aku dan menyayangiku. Ia tak pernah marah padaku. Kalaupun marah anggap saja cuma gurauan, haha. Setelah makan bersama aku pun pergi ke kamar dan kulihat jam, ternyata sudah pukul 9 malam, saatnya aku untuk pergi tidur.
"Hai Jo, nih aku membawakanmu ramyeon buatanku, cobalah!" Joxella memberikanku sewadah ramyeon.
Aku berterima kasih padanya dan segera mencicipi masakannya. Dan WOW rasanya benar-benar enak untukku yang baru mencoba ramyeon untuk pertama kalinya.
"Mau kusuapin kah? Sepertinya kamu kesulitan memakai sumpit?" tanya Joxella padaku.
"Ah, apakah tidak merepotkanmu, La?" tanyaku sungkan.
"Ah, gapapa," jawab Joxella sembari menyuapkan sesumpit ramyeon ke mulutku.
PLUKKK...
AH TIDAK...
Ramyeon itu terjatuh ke celanaku karena terdorong oleh sumpit Joxella.
"Aduh, maaf banget Jo aku tidak sengaja menjatuhkannya, sini biar kubersihin," kata Joxella.
Aku memakluminya dan berkata, "Gapapa santai aja, ini bisa dilap kok."
Joxella mengambil tisu di meja dan membersihkan tumpahan ramyeon tadi di celanaku. Aku merasa tidak enak ketika dia membersihkan celanaku. Terkesan merendahkannya, tapi dia tidak membolehkanku untuk mengelapnya sendiri. Joxella menarik lagi sehelai tisu dan secara mengejutkan dia membersihkan mulutku dari sisa-sisa saus ramyeon yang menempel di mulut.
"Aduh, tidak perlu repot-repot la, aku bisa bersihin ini sendiri," kataku sembari menghalangi tangannya yang ingin mengelap mulutku dengan tisunya.
"Sudah ah, gapapa, Masa cemot-cemot begini, kan gak kelihatan ganteng mulutnya kena saus merah-merah seperti itu! " jawab Joxella sambil menepis tanganku dan membersihkan mulutku.
Aku hanya bisa membiarkannya sambil menatapinya dengan rasa kagum akan kecantikan fisik dan hatinya yang begitu tulus, setelah membersihkan mulutku, Joxella menatapku dengan tatapannya yang begitu dalam, sorot matanya tertuju tepat ke kornea mataku dan memberikanku efek gerakan alamiah yang membuat mulutku tersenyum kepadanya, dan dia membalas senyumanku pula dengan lesung pipinya yang melekuk saat dia tersenyum.
BYURRR...
ADUH MANDI LAGIII, benar saja ibuku memandikanku sebelum waktunya lagi.
"Sudah jam berapa ini? Masih tidur saja! Mana senyum-senyum sendiri lagi! Gimana indah mimpinya? Ayo bangun! Cepat mandi sana terus sarapan," tegur ibuku dengan wajahnya yang nampak kesal padaku.
Aku beranjak dari kasur dan merasakan aura semangat yang besar dari dalam diriku untuk berangkat ke sekolah
"Aduh kurang 30 menit sebelum gerbang sekolah ditutup"
Aku pun berangkat tanpa sarapan karena jika aku sarapan sudah pasti aku akan terlambat dan berakhir di BK, karena penjaga gerbang hari ini bukan Pak Man. Segera kuberangkat ke sekolah dan tak lupa pamit ke ibu. Kutancap gas melaju kencang ke sekolah. Jalanan hari ini terasa sedikit lempeng, karena aku tidak lewat Pasar Keputran lagi, aku malas menghadapi macet di pagi hari sekalipun rute ke sekolah tercepat adalah lewat Pasar Keputran. Seperti yang kuduga, di jalan yang lempeng tadi aku berpikir, Mengapa ketika kita bermimpi indah, mimpi itu pasti akan terasa sangat singkat.
"Hmm, kok singkat banget ya, padahal tadi udah romantis banget dan kenapa dia tiba-tiba ada di mimpiku ya? Apakah ini pertanda? Ah, perasaanku saja kali ya, gak mungkin dia ada perasaan sama aku, dia saja ga kenal sama aku, " kataku dalam hati.
Tak terasa aku sudah sampai di sekolah dan masih jauh dari kata terlambat. Segera kuparkir sepedaku di parkiran dan pergi masuk ke sekolah. Kebetulan ketika aku akan masuk ke gerbang, kulihat Joxella baru saja datang dengan berjalan kaki karena memang dia menyewa apartemen di dekat sekolah. Tanpa pikir panjang aku langsung menyapanya dan mengajak dia pergi ke kelas bersama.
"Hai Xell, mau pergi absen bersama?" tanyaku antusias.
"Ohh, boleh! Kamu Jojo, kan?” jawabnya.
"Iya, aku Jojo, rupanya aksen bahasa Indonesiamu tidak terlalu buruk," sahutku.
"Ah, masih jauh dari bagus kok, tetapi kalau soal mendengarkan orang berbicara aku mengerti betul apa yang mereka maksud. Tapi entah mengapa banyak sekali bahasa aneh yang tidak pernah kupelajari dari kamus, apa kamu tahu Jo?" tanyanya padaku sambil berjalan menaiki tangga.
Aku pun menyusulnya dan menjawab, "Hmm, sebenarnya itu karena mereka di daerah ini menggunakan bahasa campursari, jadi bahasa Indonesia tadi dicampur dengan bahasa jawa, ditambah dengan aksen daerah sini," jelasku dengan antusias.
"Ah, ada-ada saja, kok bisa dalam satu negara bahasanya beda-beda, hahahaha," gurau Joxella yang memecahkan suasana.
Tibalah kita di tempat absen. Aku segera menghampiri buku absen dan menuliskan namaku, lalu tak lupa aku juga menuliskan nama Joxella dibawah namaku di buku absen.
"Aku bisa tulis sendiri namaku, tidak perlu repot-repot," sela Xella saat aku menuliskan namanya.
Aku menjawab tidak apa-apa karena aku memang ingin menunjukkan perhatianku padanya. Setelah itu aku langsung mengajak Joxella untuk pergi ke kelas, karena kelas kita jauh dari tempat absen, aku memutuskan untuk mengobrol santai dengan Joxella,
"Oh iya, aku mau tanya apa alasanmu pindah ke Indonesia? Bukankah di korea lebih enak,” tanyaku.
"Sebenarnya aku pindah ke Indonesia karena aku sudah tidak nyaman dengan suasana dan kultur di korea. Jadi aku ingin mencari suasana baru di negara lain dan aku dengar Indonesia adalah kota yang nyaman," jawab Joxella.
Setelah obrolan singkat itu kita telah sampai di kelas dan duduk di bangku masing-masing. Obrolan dan ramah tamah tadi seketika berhenti saat sudah di kelas. Selagi kelas masih sepi aku mengambil kesempatan untuk memandangi Xella, aku berkata dalam hati,
"Kok bisa yah ada orang secantik dia, ramah lagi orangnya. Gimana caraku buat mendekatinya ya?"
OYYY...
Seseorang menepuk pundakku dan dia adalah Matthew.
"Hayo, ngeliatin apa kowe?" tanya Matthew sambil tertawa.
"Ah, gak ada kok cuma liatin pemandangan kelas," elakku. Joxella mengamati perbincanganku dan tertawa tipis sambil menunduk ke bawah.
KRIINNNGGGG....
Bel sekolah berbunyi tanda pelajaran dimulai, hari ini tidak ada doa pagi bersama karena kemarin sudah dilakukan. Mata pelajaran pertama disambut dengan masa lalu. Benar masa lalu adalah Sejarah. Pak Santoso memasuki ruangan lalu menyampaikan materi.
"Oke anak-anak, hari ini akan ada tugas besar berkelompok untuk pemenuhan nilai asesmen kalian, saya akan membagi kalian dalam kelompok berpasangan urut sesuai nomor absen kalian. Contohnya absen 1 dengan 2, 3 dengan 4, dan seterusnya."
Aku nomor absen 17 dan Joxella nomor absen 18 dan kami pun sekelompok. Materi yang ditugaskan adalah Sejarah Kota Surabaya. Setiap kelompok harus membuat video dokumenter tentang eksplorasi sejarah Surabaya. Lalu Pak Santoso menyuruh kami untuk berkumpul dengan kelompok mereka. Aku berdiam agak lama untuk melihat respon dari Joxella, apakah dia akan ke bangkuku untuk mendiskusikan materinya atau dia justru menungguku.
Tak berselang lama Xella berdiri dan membawa bukunya ke bangkuku, sedangkan Matthew teman sebangkuku telah pergi untuk pergi dengan kelompoknya sendiri. Xella duduk di sebelahku dan kami terpaku dalam keheningan untuk sementara waktu. Xella sibuk dengan handphonenya dan aku masih bingung untuk mengawali diskusi. Hatiku tiba-tiba berdegup kencang, aku tidak bisa mengontrol diriku dan tiba-tiba Xella membuka pembicaraan,
"Ini kita mulai dari mana, jo? Aku kurang tahu soal Kota Surabaya jadi tolong bantu aku untuk mengerjakan ini ya,"
"Oh tenang aja pasti kubantu kok, ini kan kerja kelompok, jadi kita harus kerja sama," sahutku.
"Ini, aku cari di google sejarah Surabaya yang paling terkenal itu Peristiwa 10 November, ini perang di Surabaya ya?" tanya Xella.
"Oh iya itu tentang perang warga Surabaya melawan penjajah dan dimulai sejak 10 November 1945", jelasku.
"Bagaimana kalau kita ambil tema ini saja?" tanya Xella.
Aku membolehkannya dan menyarankan agar kita melakukan observasi langsung ke tempat bersejarah yang berkaitan dengan materi yang akan dibahas.
"Gimana kalau kita ke Tugu Pahlawan saja La?" tanyaku.
"Bukankah di google sudah lengkap, untuk apa kita pergi observasi langsung kalau informasinya sama saja?" bantah Xella.
Aku berusaha meyakinkannya agar bisa pergi untuk melakukan observasi langsung, karena aku ingin mengambil kesempatan untuk bisa lebih dekat dengannya karena kesempatan tidak datang dua kali.
"Beda tahu kalau kita ke tempatnya langsung, percaya deh," paksaku agar Xella mau pergi melakukan observasi.
"Ya sudahlah kalau begitu, kapan kita akan melakukan observasi?" tanya Xella.
"Bagaimana kalau minggu besok saja, hitung-hitung sambil self healing," ajakku dan Xella menyetujuinya.
Jam pelajaran berganti, hingga akhirnya waktu pulang pun tiba. Saat perjalanan pulang aku iseng untuk mengajak Xella pulang bersama, aku pun pesimis kalau dia pasti menolaknya karena apartemennya dekat dengan sekolah.
"Mau pulang bersama?" tanyaku.
Awalnya Xella menolak tawaranku dengan alasan yang sudah kuduga kalau apartemennya dekat, namun pada akhirnya setelah aku sedikit membujuknya kalau aku ingin mengajaknya pergi jalan-jalan untuk melakukan observasi akhirnya dia mau untuk pulang bersamaku. Xella pun naik ke motorku dan aku segera tancap gas untuk pergi keliling-keliling Surabaya. Sebenarnya aku hanya ingin mengajaknya jalan-jalan dan menikmati waktu bersama, tapi kalau aku berkata seperti itu pasti dia akan merasa risih karena kita baru saja kenal.
Saat di perjalanan, Xella bertanya padaku, "Keluargamu ada dimana?"
Aku sedikit kaget dengan pertanyaan itu, karena rasanya aneh tiba-tiba menanyakan soal keluarga. Aku pun menjawab dengan santai, "ya di rumahku lah.”
Xella tertawa sambil menepuk pundakku lalu berkata,
"Ah, aku juga tahu itu Jo, kalau tidak di rumah terus dimana, hahahaha.”
Aku pun ikut tertawa dan mulai merasa nyaman dengan dia baik itu dalam mengobrol ataupun bersenda gurau. Xella ternyata benar-benar humoris dan mudah bergaul, hanya saja ini pengalaman pertamanya di luar negeri, oleh karena itu dia masih kurang nyaman dengan suasana ini.
Setelah perjalanan beberapa menit, kita melewati statue kota Surabaya di sebelah Kebun Binatang Surabaya. Xella pun bertanya kepadaku, "Itu apa jo, kok ada patung hiu sama buaya... Apa dulu di sini ada perang hiu dan buaya?"
Sial aku sudah tau pasti dia akan bertanya seperti itu dan membuat pernyataan yang aneh. Aku pun menjawab dengan santai, "Ehmmm, jadi dulu itu ada Hiu sama Buaya yang membuat wilayah kekuasannya masing-masing, terus salah satu dari mereka melanggar wilayahnya akhirnya terjadilah perang itu."
Xella masih bingung dan terus bertanya, "Lalu, apa hubungannya dengan Surabaya? Itukan binatang?"
"Jadi ikan hiu di sini sebutannya ikan sura terus kalau buaya itu baya, begitu La,"
Tiba-tiba ditengah keasikan ngobrol, aku tidak melihat kalau ada polisi tidur di depanku.
GLUDAK...
Motorku tergoncang terkena polisi tidur. Aku kaget akan dua hal setelah kejadian ini, yang pertama aku kaget dengan polisi tidur dan kedua aku kaget karena Xella yang panik tiba-tiba memelukku dari belakang karena kaget.
"Aduh, maaf La... Aku ga kelihatan tadi, hehehe," ucapku meminta maaf karena sudah mengagetkan Xella.
"Tidak apa-apa sih, cuma aku kaget banget, tolong hati-hati please," jawab Xella sambil mengetuk helmku dari belakang.
Entahlah hari ini aku merasa seperti sangat akrab dengan Xella. Sepanjang perjalanan kita mengobrol dan tertawa bersama.
"Surabaya aku rasa makin lama makin panas deh, dari tadi kita berkeliling panasnya seperti membakar kulitku," keluh Xella.
Aku sebenarnya sudah biasa dengan cuaca saat itu karena bisa dibilang tidak sepanas biasanya, tapi aku memaklumi kalau Xella tidak betah karena di Korea cuacanya lebih sejuk dibandingkan Surabaya.
"Iya juga, bagaimana kalau kita cari minuman dingin?" tanyaku.
Xella terlihat tidak suka dan berkata, "Aduh panas seperti ini, kita jangan minum es nanti kamu pusing gimana, apalagi kamu kan nyetir nanti tiba-tiba pusing, jangan cari bahaya deh!"
Aku merasa sangat diperhatikan lewat kalimat demi kalimat yang diicapkan Xella, aku merasa nyaman dengan karakternya yang humoris dan perhatian. Berhubung aku sudah terbiasa minum es aku tetap bersih keras untuk minum es degan terdekat, "Sudah tenang saja, aku sudah terbiasa kok, kamu tenang aja ya"
Xella pun menyahut, "Ya sudah, nanti kalau pusing minggir aja dulu deh!" wajahnya nampak khawatir denganku.
Aku mengangguk sambil tersenyum lalu tak lama terlihat ada warung es degan di pinggir jalan. Kubelokkan motorku untuk mampir dan memuaskan dahaga.
"Bu, es degan dua, ya," pesanku ke ibu penjual es degan.
Aku mengambil kursi plastik dan menyuruh Xella untuk duduk, begitu pula aku. Tak berselang lama ibu penjual mengantarkan pesananku. Segera Kuseruput es degan itu dengan semangat.
"Ah segarnya," ucapku.
Xella menjawab, "iya juga, Jo panas-panas minum es degan segar sekali rasanya, aku jadi rindu dulu di korea aku sering pergi bersama keluargaku untuk membeli minuman hangat saat musim dingin."
Wajahnya seketika berubah, sorot matanya menjadi redup dan bibirnya terlihat cemberut.
Aku menyahutinya dengan gurauan kecil dan bermaksud menghiburnya, "Ya, kalau kamu rindu kan bisa pulang La...tinggal membuat surat izin saja atau kalau perlu aku buatkan portal nih biar bisa langsung ke korea haha"
Xella tersenyum sedikit dan menunduk ke bawah dan kembali menikmati es degannya.
"Berapa bu semuanya ?" tanyaku ke ibu warung.
"Sepuluh ribu mas semuanya," jawab si ibu.
Aku mengeluarkan uang dan membayarnya. Xella terlihat kaget dan berkata, "Murah sekali ya minuman seperti ini di Indonesia, sepuluh ribu rupiah itu hanya sekitar 860 won, bahkan kita belum bisa dapat minuman dengan harga segitu di korea."
Aku tertawa karena kekonyolan Xella, pasti jelas berbeda antara harga di Korea dan Indonesia, aduh bisa saja anak satu ini. Karena hari sudah menjelang sore, Xella pun mengajak untuk pulang.
"Ayo Jo, sudah mulai gelap kita pulang saja, kamu pasti capek kan belum mandi, belum makan, belum kerja pr, ya kan?"
"Ya sudah La, ayo pulang!" jawabku.
Aku pun segera naik ke motor disusul dengan Xella, di tengah terbenamnya matahari aku bersyukur pada Tuhan akan hari ini, hari di mana aku benar-benar merasa senang dan tak ingin hari segera berakhir, sesekali terlintas di pikiranku bagaimana kalau aku pacaran sama Xella ya? Rasanya sudah lama semenjak aku tidak mau menaruh perasaanku dengan perempuan. Di tengah pergumulan tiba-tiba Xella menyampaikan sesuatu, "Jo, terima kasih ya sudah menemaniku jalan-jalan hari ini. Akhirnya aku dapat pengalaman berharga pertamaku di Indonesia, aku harap kita akan terus seperti ini ya?"
Hatiku seketika terenyuh mendengar kata-kata tersebut, benar-benar aku tidak menyangka kalau Xella menghargai setiap hal-hal kecil yang kulakukan untuknya. Setelah itu akupun menjawab dengan lembut, "Gapapa kok, aku cuma ingin membuat kenangan indah di perantauanmu, aku tidak ingi kamu terlarut dalam kesendirian hanya karena kamu sulit bergaul"
Xella menjawabku, "Sebenarnya aku tidak susah bergaul, hanya saja aku benar-benar memilih siapa yang akan kujadikan teman baik, ini adalah negara baru, kultur baru, jadi aku tidak bisa sembarangan memilih teman yang berbeda kultur denganku, daripada nantinya bisa menimbulkan hal yang tidak diinginkan, dari sejak awal aku mengajakmu berkenalan lewat chat, aku merasa kalau kamu bisa menjadi temanku yang baik, entah darimana perasaan itu, intinya hal itu muncul setelah kita berkenalan."
Aku merasa tersipu mendengar itu, tiba-tiba nada bicaraku menjadi gagap dan tidak jelas, hatiku berdebar kencang. Aku berusaha menjawab pernyataan dari Xella, "Ehmm, sebenarnya aku hanya berusaha menjadi diriku yang bisa menerimamu, aku juga tidak mengharapkan feedback apapun dari hal tersebut, itu semua pilihanmu."
Xella terheran dan bertanya, "Apa? feedback maksudmu bagaimana?"
Ah sial aku salah kata, "Lupakan saja, Oh iya kita sudah sampai."
Sesampainya di Apartemen aku menurunkan Xella di gerbang masuk dia turun lalu berkata, "Terima kasih ya, Jo maaf sudah merepotkanmu jadinya kamu pulang terlalu sore."
Aku tersenyum dan mengangguk, "Iya sama-sama, ya sudah aku tinggal pulang ya, jangan lupa besok minggu kita observasi oke!"
"Aduh sepertinya aku akan lupa, hahaha bercanda," sahut Xella sambil tertawa dan melambaikan tangannya.
"Hati-hati di jalan ya, bye!"
Aku tersenyum lalu pergi pulang ke rumah. Saat perjalanan ke rumah, hatiku berdegup kencang, tubuhku seperti merasakan semangat yang menggebu-gebu, aku tidak menyangka bisa seakrab itu dengan Xella yang baru saja kenal denganku. Aku merasa kalau aku adalah spesial di matanya, tapi kuusahakan untuk menyingkirkan perasaan berlebihan itu, karena aku tidak bisa terlalu gegabah dalam mengambil keputusan, ikuti saja alurnya dan nikmatilah.
Tak terasa tibalah aku di rumah, tidak seperti biasanya aku melihat ada sebuah mobil terparkir di depan rumahku. Aku berpikir mungkin ada tamu di rumah, tetapi saat aku masuk ternyata ibuku sedang duduk berdua dengam seorang pria yang usianya antara 40 sampsi 45 tahun.
Ibuku langsung berdiri dan berkata padaku, "Nak, kenalkan ini Om Sendy dia dulunya adalah bos di tempat ayah bekerja."
"Oh, iya halo om kenalkan aku Jojo," jawabku sambil menyalami Om Sendy.
Dia tersenyum tipis padaku dan berkenalan denganku. Karena tak ingin berlama-lama di sana aku memutuskan untuk segera pamit pergi ke kamar dengan alasan karena aku ingin segera bersih-bersih diri dan mengerjakan pr sepulang sekolah. Setibanya di kamar, segera kulepaskan tasku dan sejenak kurebahkan badan ke atas kasur. Kutatap langit-langit sambil berpikir apakah ibuku akan menikah lagi, jujur saja aku tidak bisa mengalihkan hatiku untuk ayah baru. Bagaimanapun dia tidak sedarah denganku, mungkinkah dia akan menganggapku layaknya anak kandung.
Sebenarnya aku sudah tahu dengan Om Sendy, dulu ayah sering menghubunginya saat bekerja, karena almarhum ayah bekerja sebagai kepala bagian pemasaran produk Finna di Surabaya. Dia belum pernah menikah sampai sekarang. Saat ini perusahaannya sudah jadi perusahaan yang besar serta terkenal dan Om Sendy pastilah sangat kaya raya. Mobilnya yang terparkir di depan rumah saja mobil mewah. Tetapi untuk apa memiliki ayah angkat yang kaya kalau dia sendiri tidak menyayangiku layaknya anak kandung. Segera kusingkirkan pikiran yang aneh-aneh karena mungkin saja dia hanya datang untuk bertamu.
CETIINGG...
HPku berbunyi, kulihat ternyata Xella mengirimiku pesan, "sudah sampai rumah, Jo?"
Bibirku otomatis tersenyum sejenak di tengah peliknya pikiran yang sedang bergumul di kepalaku.
Segera kubalas pesannya, "sudah kok, ada apa La?"
"Tidak apa-apa, aku hanya khawatir kamu tiba-tiba pusing karena tadi minum es," jawab Xella seketika membuatku tertawa kencang karena dia masih sibuk memikirkan tentang minum es di siang hari dapat membuat pingsan.
Sambil tersenyum dan menahan tawa aku pun membalas pesan dari Xella, "Astaga, bisa-bisanya kamu masih memikirkan es degan tadi, tenanglah aku sudah biasa dengan es di cuaca panas.”
Di tengah asyiknya berbalas pesan kudengar ada suara mesin mobil menyala di depan. Kulihat dari jendela kamar ternyata Om Sendy sudah pulang. Aku tetap berada di kamar dan tidak menghiraukannya dan lanjut berbalas pesan.
Xella bertanya sesuatu padaku, "Hmm, menurutmu apa makanan Surabaya yang enak, aku bosan memasak masakan korea di rumah, sesekali aku ingin mencoba makanan lokal daerah sini tapi aku tidak tahu di mana membelinya."
"Banyak sih La, hanya saja mungkin akan lebih baik kalau kita mencobanya langsung, Mau?" tanyaku.
Xella membalas dengan tawa. "Hahahaha, pasti kamu mau ajak jalan-jalan lagi ya, bisa-bisanya?"
Aku tersenyum dan sedikit tidak enak karena mungkin membuat Xella tidak nyaman dengan ajakanku, "Hehe, kalau kamu keberatan tidak apa-apa kuberi tahu saja makanan Surabaya yang enak."
"Ah tidak apa-apa kok kalau mau jalan-jalan aku bisa saja kapanpun asal jangan terlalu siang, aku tidak tahan dengan cuacanya, haha sorry," jawab Xella lewat pesan suara.
Aku kaget Xella mengirimkan pesannya lewat Voice Note padahal aku sendiri tidak pernah menggunakan Voice Note sekalipun berbalas pesan dengan sahabat dekatku.
Tiba-tiba ibu masuk ke kamarku dan mengajakku makan malam. Di meja makan kulihat ada sepanci rawon dan sepiring tempe goreng.
"Kapan masak rawon, Ma kok tadi tidak kelihatan?" tanyaku sambil mengambil piring dan sendok untuk makan malam.
"Ya tadi siang Nak, kamu kan sekolah jelas aja ngga kelihatan," sahut ibuku.
Kami pun segera makan, di tengah makan malam ibu berkata kepadaku,
"Nak, mama tahu kalau kamu masih belum bisa menerima Om Sendy, mama juga tidak akan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan, karena mama juga ingin kamu bisa ikut bahagia lewat keputusan mama, jadi doakan saja yang terbaik."
Mendengar perkataan itu aku berhenti sejenak dan meletakkan sendokku, Aku pun berkata kepada ibu, "iya ma aku tahu itu, tetapi apa alasan mama mau mencari suami baru? Bukankah mama berjanji kalau tidak akan menikah lagi kecuali aku sudah menikah dan mama akan mencari suami sebagai peneman hari tuamu?"
Setelah berkata demikian aku seketika kehilangan selera makanku dan segera menyingkirkan piringku dari hadapanku.
"Jangan gitu toh, nak... Mama juga ingin mencarikanmu sosok seorang ayah dalam masa perkembanganmu menuju dewasa supaya kamu bisa terarah hidupnya nak, Om Sendy itu juga berkecukupan jadi kedepannya kehidupan kita akan lebih enak dibanding sekarang!" jawab Ibu sambil menepuk pundakku.
Aku merasa kecewa dengan jawaban Ibu, karena telah melanggar janjinya pada Ayah jika Ayah meninggal ibu tidak akan menikah lagi hingga aku sudah menikah. Tapi apa boleh buat aku hanyalah remaja yang akan dikatai sok tau dan kurang ajar ketika membantah. Akhirnya aku pun hanya menjawab dengan senyuman dan berkata, "ya sudah ma, aku doakan yang terbaik untukku dan mama.”
Setelah itu segera kuhabiskan sisa makananku meski sudah tak selera, karena aku berprinsip kalau semua yang aku dapatkan dan aku nikmati hari ini itu didapat dengan perjuangan. Setelah menghabiskan makananku segera aku pamit untuk pergi ke kamar karena ingin belajsr dan mengerjakan PR.
Setibanya di kamar aku langsung mematikan lampu kamar dan menarik selimut dan segera pergi tidur. Aku seakan sudah tidak berniat untuk mengerjakan apapun setelah mengobrol tentang ayah baru tadi. Aku merasa kecewa dengan niat ibu untuk menikah lagi. Sosok yang kudambakan akan menjadi sosok paling setia di muka bumi seketika hangus dalam sekejap. Di tengah gelapnya kamar tidurku, Aku jadi merindukan ayahku, terlintas momen-momen membahagiakanku dengan ayah saat masih SD. Kami sering pergi memancing bersama, makan makanan enak, jalan pagi, dan lomba burung.
Semua itu membekas di hatiku. Aku masih belum rela hati ku yang diisi oleh ayah kandungku akan digantikan oleh sosok orang lain yang belum kukenal. Hingga larut malam aku tidak bisa tertidur karena memikirkan hal tadi, akhirnya aku memutuskan untuk bermain hp sebentar. Terlihat di berita kalau korea sedang mengalami krisis moneter. Banyak warga korea yang kabur dan meninggalkan negaranya untuk pergi ke negara lain yang lebih makmur, sejenak aku berpikir kalau Xella adalah bagian dari peristiwa ini, tapi aku tidak menghiraukannya karena itu adalah urusan pribadinya.
CETIINGG...
Aku melihat notifikasi di akun sosial mediaku. Ada seseorang mengikuti akun instagramku. Nicknamenya @XXL4, mempunyai lima ribu pengikut, dan mengikuti empat ratus. Kulihat bionya Minjeong-i, sudah kuduga itu pasti Xella. Dia juga mengirimiku DM untuk memintaku mengikutinya kembali, aku cukup senang karena Xella mengajakku mutualan denganku meski aku hanyalah manusia dengan seratus pengikut di instagram. Segera kuikuti kembali akun Xella dan segera kuletakkan handphoneku karena sudah malam. Aku pun tertidur dengan nyenyak.
Aku terbangun, kulihat jam di handphoneku saat ini masih pukul 5 pagi. Selagi hari ini adalah hari libur aku pun memutuskan untuk tidur lagi, karena ibu biasanya tidak akan membangunkanku saat hari minggu seperti ini.
"Ah silaunya," tiba-tiba aku terbangun karena cahaya matahari yang sangat terang menembus jendela kamarku dan menyilaukan mata.
Kulihat jam di handphoneku lagi, sial aku bangun kesiangan padahal aku berjanji untuk mengajak Xella mengobservasi Tugu Pahlawan hari ini. Terlihat notifikasi pesan dari Xella yang menanyakan.
"Jo, apakah hari ini jadi untuk melakukan observasi, jika iya aku akan bersiap-siap."
Aku segera membalasnya dan menyuruhnya agar bersiap-siap. Aku segera mandi dan pergi sarapan dengan ibuku.
"Ma, jojo tinggal dulu ya mau mengerjakan tugas kelompok dengan teman-teman di Tugu Pahlawan," pamitku pada ibu.
Ibuku mengangguk dan bertanya, "Sampai jam berapa nak?"
Aku tidak berjanji akan jam pulangku tapi aku hanya berkata kalau aku tidak akan pulang sampai larut malam. Saat aku ingin segera berangkat, ibu tiba-tiba memanggilku sambil membawa dompet. Ibu memberikan uang senilai tiga ratus ribu rupiah padaku, ibu berkata jika uang itu adalah pemberian Om Sendy kemarin saat bertamu. Akupun mengambilnya dan berterima kasih pada ibu. Aku pun mengirim kabar pada Xella untuk segera bersiap di depan apartemennya, karena aku dalam perjalanan untuk menjemputnya.
Sesampainya di depan apartemen Xella, aku melihatnya sudah siap berdiri di depan gerbang masuk apartemen. Tiba-tiba Xella menghentikanku dan menyuruhku untuk parkir ke dalam apartemen, aku pun kebingungan lalu bertanya.
"Loh, kenapa La kan kita langsung berangkat, jadi untuk apa aku parkir ke dalam?"
Xella datang menghampiriku dari tempatnya berdiri sambil berkata, "Kita naik transportasi umum saja, kan lebih hemat nantinya hahaha."
Aku pun mengangguk dan segera memarkirkan kendaraanku di dalam apartemen. Setelah itu aku segera mengambil tas bawaanku, lalu pergi menghampiri Xella. Kebetulan di depan Apartemen persis terdapat halte untuk Bus Kota Surabaya yang bisa disebut juga Bus Trans Suroboyo atau Trans Semanggi. Nama semanggi diambil dari nama makanan khas Surabaya yaitu Pecel Semanggi yang berbahan dasar daun semaanggi. Kita pun duduk di halte sambil menunggu bus akan menjemput kita.
"Hmm, aku tahu kenapa kamu ingin naik kendaraan umum, kamu sering lihat bus kota ini lewat di depan apartemenmu kan?" kataku pada Xella.
Ia tersenyum sambil menepuk pundakku dan berkata, "Ah kamu tahu saja, aku penasaran rasanya naik transportasi umum di sini, kulihat-lihat bus kota di sini bentuknya bagus dan bersih, jadi pingin aja mau naik, hehehe."
Tak berselang lama tibalah Bus Suroboyo yang menjemput, segera kita naik dan membayar karcis. Lagi-lagi Xella terkejut dengan harga di sini, "Hah, yang benar saja kita hanya membayar lima ribu saja dalam sekali perjalanan?" ucapnya sambil menutup mulutnya karena shock dengan harga yang murah.
Aku tertawa mendengar hal itu, lalu kita pun segera menuju ke kursi dekat jendela. Setelah bus berjalan aku bergurau dengan Xella, kami tertawa sepanjang perjalanan di tengah bus yang cukup sepi.
"Melihat suasana seperti ini, jadi teringat film-film di drama korea...yang ada pelajar yang jatuh cinta saat bertemu orang yang disukainya di dalam bus hahahaha," candaku.
Xella pun tertawa dan berkata, "Biasanya saat si pria berdiri, bus mengerem mendadak hingga si pria jatuh ke hadapan perempuan yang disukainya, ah sangat basic untuk adegan drama korea romantis."
Karena sudah dekat, aku memutuskan untuk berdiri dari kursi dan menekan tombol berhenti, dan betapa terkejutnya aku tiba-tiba pak supir mengerem dengan sangat keras hingga aku terjatuh ke hadapan Xella. Tangan kananku menyangga badanku ke kursi tempat Xella duduk sedangkan tangan lainnya berada di jendela bus, dan posisiku jatuh tepat menghadap ke wajah Xella. Saat itu kita saling bertatapan dan karena aku merasa tidak enak, aku segera berdiri dan membenarkan penampilanku, lalu aku meminta maaf pada Xella karena ketidaksengajaanku.
"Aduhh, maaf ya La! Aku tidak sengaja"
Xella hanya tersenyum dan mengatakan, "tidak apa-apa kok, aku juga kaget soalnya, haha."
Kitapun berjalan menuju pintu dan meninggalkan bus. Akhirnya kita tiba tepat di depan Tugu Pahlawan, dan saat ini masih pukul 9 pagi sehingga cuaca masih nyaman dan belum terlalu panas. Setelah masuk ke dalam Area Tugu Pahlawan, terpampang jelas sebuah monumen setinggi 43 meter di area rerumputan yang sangat luas, Xella bergegas mengeluarkan kameranya dan melakukan aktifitas wajib ketika jalan-jalan, yakni dokumentasi.
Aku teringat terakhir kali mengunjungi tempat ini dua tahun lalu saat masih awal masuk SMA, begitu pula dengan Xella, ia nampak begitu kagum dengan penampilan Tugu Pahlawan secara langsung. Kita pun berjalan-jalan mengelilingi taman di sekitar Tugu Pahlawan. Tak lupa kita juga berfoto bersama, persis di depan sisa bangunan setelah perang 10 November.
Setelah puas berkeliling area terbuka Tugu Pahlawan, Xella mengajak untuk mengunjungi tempat lain.
"Ayo Jo, kita cari tempat bersejarah lainnya yuk, aku sudah dapat beberapa footage dari Tugu Pahlawan kok buat nanti diedit jadi cuplikan Dokumenter."
Setelah mendengar hal itu, aku menolak permintaan Xella untuk pindah, dengan alasan karena kita belum mengeksplorasi ke dalam Museum 10 November yang menyimpan berbagai peninggalan perang 10 November yang penting.
"Loh, ternyata masih ada lagi toh di dalam,ya sudah ayo gas aja ke dalam," ucap Xella dengan semangat.
Aku bertanya pada Xella, "kamu bawa kartu pelajar tidak, kalau tidak gapapa... Aku lupa mengingatkanmu juga tadi"
Xella tampaknya bingung lalu berkata, "Hah, buat apa emangnya?"
Aku pun mengeluarkan kartu pelajarku dan tanpa berkata-kata aku langsung mengajak Xella ke loket Tugu Pahlawan. Aku pun menunjukkan kartu pelajarku ke penjaga loket dan benar saja, untuk pelajar seperti kita, gratis untuk masuk ke dalam museum Tugu Pahlawan.
YOU ARE READING
DREAMATE
FantasyGenre : Romance / Fantasy "Aku" terjebak di dalam mimpinya yang panjang, di sana dirinya bertemu dengan seorang siswi baru yang cantik bernama Xella. Ia jatuh cinta dengannya dan singkat waktu mereka telah menjalin hubungan sebagai pacar. Namun di...
