Part 20 - Keychain ~ You Always In My Mind

Start from the beginning
                                        

"Begitulah" jawaban Aidhira yang seadanya itu membuat Rio tidak dapat menebak hal lainnya ataupun mampu menganalisa pikirannya yang berkaitan dengan sesuatu yang lebih penting dan baru pertama kalinya ini Rio berhasil menatap kedua manik mata Aidhira dengan jelas meski sebentar. Manik mata dengan warna kuning kecokelatan yang sedikit cerah, seperti arbei, sangat indah menurutnya. Setelahnya, Aidhira kembali pada dompetnya yang kini ia memasukkan ke dalam ransel kecilnya tersebut.

Seketika Rio merasakan kedamaian yang muncul begitu saja didalam hatinya. Ada perasaan nyaman yang baru disadari setiap kali bersama Aidhira.

Malam yang begitu tenang, membuat keduanya hampir melupakan waktu. Udara dingin yang berhembus kencang dibawah langitnya malam membuat orang-orang lebih memilih berdiam di dalam rumah atau sekadar mencari kehangatan di cafe-cafe pinggir jalan. Keduanya masih bertahan menyusuri jalanan kota ini yang mulai sepi, beberapa kendaraan yang melintas di jalan besar juga semakin sedikit yang terlihat disana.

Langit malam itu benar-benar kelam tanpa cahaya bintang, dan sesekali terlihat kilatan cahaya membelah, mengisyaratkan bahwa sebentar lagi akan turun hujan.

Mengingat keychian tadi, membuat Rio jadi teringat dengan sahabat yang selama ini dirindukannya.

"Dulu sekali. Aku punya seorang sahabat. Temperamennya begitu buruk. Selain arogan, dia juga penutup, suka menjauhkan diri dari orang lain" Rio terkekeh sebentar, sebelum kemudian melanjutkan ucapannya..

"Tapi, dia sangat pintar, juga lihai dalam segala hal. Dan hal yang paling kusukai, dia terdominasi oleh bakatnya, yang mampu menguasai semua teknik bertarung, termasuk taekhwondo, bahkan dia yang mengajariku, dia juga yang selalu melindungiku semenjak kami masih kecil" saking rindunya Rio yang begitu dalam pada sahabatnya itu, dia sampai tanpa sengaja bercerita sambil menatap lurus jalanan didepannya, seakan pandangannya kini menerawang jauh disana, seperti melihat sosok sahabatnya itu.

"Saat di bangku sekolah dasar dulu, kami sudah saling mengenal dengan sangat baik. Orang tua kami juga merupakan sahabat karib. Itulah yang membuat kami sering dipertemukan.." suara Rio seperti tercekat ditenggorokan sebelum kemudian dia menelan salivanya yang sedikit dipaksakan dan meneruskan kalimatnya,

"Saat itu, satu-satunya teman yang kumiliki cuma dia. Tidak ada yang lain" bersamaan dengan hembusan yang dikeluarkannya, mata berserinya mulai mengaburkan pandangan didepannya. Rio seakan tanpa sengaja telah mencurahkan seluruh isi hati dan pikirannya pada Aidhira hari ini

Aidhira yang mendengarnya pun mulai terpana. Dalam sekejap mata merasa iba. Sebenarnya Aidhira belum terbiasa mendengarkan kisah orang lain, apalagi orang yang barusaja dikenalinya yang baru akrab beberapa waktu lalu, seperti Rio sekarang ini, terlebih mengenai kisah masa lalunya.

Tapi entah mengapa, yang Rio curahkan hari ini terasa begitu menyakitkan dalam hatinya, padahal Aidhira juga tidak mengenal sosok yang dimaksud Rio ini juga tidak ada hubungan dengannya.

"Sayangnya, sejak kejadian tiga tahun yang lalu, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya sampai sekarang" Rio melanjutkan ucapannya sambil berusaha menahan bulir mata yang akan segera jatuh seperti Rio tidak ingin benar-benar kehilangan sosok sahabatnya itu.

Aidhira yang mendengarnya kembali dibuat tersentak. Ini seperti bukan sebuah curahan biasa, tapi menurutnya ini terasa sangat tidak asing baginya. Entah mengapa, ada sesuatu yang mengganjal didalam hati kecil Aidhira, membuatnya turut teringat kejadian yang juga terjadi pada kekasihnya tiga tahun silam..

Langkah Rio semakin pelan, Aidhira pun turut memelankan langkahnya menyeimbangkan langkahnya Rio, hingga akhirnya mereka benar-benar berhenti.

Pria itu menunduk, seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Lalu, dia mengeluarkan tangannya dari dalam saku celana dan menengadahkannya menghadap langit, seolah ingin merasakan udara dingin yang pelan-pelan semakin menusuk hingga Rio rasakan sampai pada tulang tangan yang kini ia ingin rasakan.

"Apa kau pernah, merasakan betapa tersiksanya saat seseorang yang begitu berarti bagimu meninggalkanmu?"

Luapan kepedihan dari perkataan Rio itu seketika, membuat kedua bola mata Aidhira membulat sempurna. Seperti Aidhira merasakan perasaan yang sama seperti yang Rio rasakan sekarang. Perasaan yang begitu pedih serta menyesakkan, bahkan merasa apa yang telah dikatakan Rio hari ini sudah sangat mewakili perasaannya saat ini. 

Tidak ada jawaban yang ingin Aidhira sulutkan karena ada begitu banyak rahasia dalam hidupnya yang masih belum diketahui oleh Rio atau orang lain sekalipun.

Aidhira yang masih diposisinya hanya mampu bergeming tanpa berniat menggerakkan bibirnya untuk menanggapi pertanyaan Rio, membuat Rio kemudian menoleh ke arahnya karena merasa tidak menerima jawaban apapun darinya.

Tapi Aidhira masih tetap diam. Membuat Rio menjadi penasaran..

"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Rio memecah keheningan. Aidhira menerima tatapan Rio tapi Aidhira seperti tidak bisa berkata apapun.

"Apakah perkataanku mengganggu pikiranmu?"

Lagi-lagi, tidak ada jawaban dan kini Aidhira malah tertunduk. Membuat Rio lengah dan Rio perlu memberi waktu.

Setelahnya. Tidak ada suara apapun lagi yang keluar dari mereka, selain hanya terdengar suara langkah mereka yang terus berjalan, deru kendaraan yang melewatinya pun cukup menyaingi heningnya suasana kota di malam itu serta desiran angin yang semakin kencang juga tak kalah menerpa wajah mereka. Rio tahu bahwa wanita di sampingnya ini sedang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya.

Suasana canggung itu masih bertahan tanpa ada yang berniat mengakhirinya hingga seketika kemudian berubah, saat seseorang tiba-tiba saja berlari menerobos jalan di tengah mereka dan menyenggol Aidhira, lantas membuat wanita itu tentu kehilangan keseimbangannya, lalu tergelincir di lantai trotoar hingga memasuki arena jalanan ber-Aspal, bersamaan dengan itu, datanglah sebuah mobil jip yang tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi....

Tiinn! Tiiinnn! Tiinnn!

Sopir mobil jip itu berusaha memberikan peringatan supaya Aidhira segera menyingkir. Beruntung, Rio dengan cepat meraih tangan Aidhira saat nyaris benar-benar ketabrak dan menariknya ke bahu jalan.

Citttttt! Brakkk!

Terdengar suara decit rem dari mobil jip itu yang kemudian menabrak tong sampah di dekat Aidhira. Sopir mobil jip itu terlihat mengeluarkan kepalanya di jendela mobil sambil menatap tajam ke arah Aidhira.

"Hei! Kau sudah bosan hidup, ya?! Sial sekali!" teriaknya, lalu kembali menghidupkan mobil jip itu dan berlalu begitu saja.

Sementara, Rio hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menarik hembusan kasar melihat tingkah sopir mobil jip tersebut. Seandainya si sopil mobil jib itu tahu jika dirinya adalah polisi, mungkin dia tidak akan berani berbicara kasar seperti tadi.

Rio kembali mengalihkan pandangannya ke arah Aidhira yang kini terlihat masih sedikit terkejut.

"Kau tidak apa-apa?"

"A-Aku, tidak apa-apa. Te-terima kasih"

"Hufft! Hampir saja orang itu menabrakmu. Aku tidak yakin dengan izin mengemudinya! Akan kuurus nanti jika sampai aku bertemu dengannya" seru Rio yang masih terlihat kesal dengan sopir mobil jip tadi.

"Rio"

Rio menoleh kearah Aidhira saat wanita itu memanggil namanya dengan suara yang terdengar lirih.

"Apa kau mau ikut aku ke suatu tempat?"

Rio sejenak nampak tertegun. Ada rasa canggung menguasainya saat mendengar tawaran Aidhira itu. Meskipun ada perasaan ragu, tapi Rio tetap memberi anggukannya, menyetujui tawaran tersebut.

***

~TO BE CONTINUED~

You Always In My Mind ~||^ (TERBIT)Where stories live. Discover now