Gea hampir saja menjerit kaget. Begitu membuka pintu kamar mandi, Ajeng sudah berada di depan wastafel, tanpa sehelai benang pun.
"Mbak Ajeng ngapain di sini?" Gea tergemap bingung. Sebelah tangannya masih menggenggam kenop pintu. "Kamar mandinya buat Mbak kan yang di lantai satu!"
"Tomi lagi make yang di bawah, jadi aku ke atas," jawab Ajeng.
Rasa bingung Gea berubah jadi sebal sekarang. "Mbak Ajeng nunggu Tomi aja, dia kan mandinya cepet. Kamar mandinya mau aku pake. Kamar mandi atas buat aku sama Angga. Mbak Ajeng yang di bawah. Kan kamarnya Mbak juga di lantai satu? Awal-awal kan Angga juga sudah bilang—"
"Iya, iya, pelit banget sih, orang aku juga cuma make sebentar!" Ajeng melongok ke dalam ruang shower dan menarik handuknya dari atas rak besi.
"Lho, bukan pelit. Masalahnya aku kan juga mau mandi, mau berangkat kerja."
"Iya, ini pergi! Nggak usah apa-apa dibikin ribut deh!" Ajeng selesai membebatkan handuk ke tubuhnya, lalu berjalan keluar kamar mandi sambil menderap.
Gea, yang sempat terhuyung karena bahunya ditabrak ketika lewat, hanya bisa bengong selama beberapa saat di ambang pintu. Punggungnya panas dingin.
***
Tina justru terbahak-bahak mendengar cerita Gea di kantor. Perempuan berambut ikal panjang itu bahkan sampai perlu memegangi perut karena geli.
"Eh, nggak ada yang lucu, ya," Gea berkata sebal. Ia mencubit lengan sahabatnya. "Nggak lucu tahu! Bayangin gimana kagetnya aku liat dia telanjang bulat gitu! Untung aku yang masuk kamar mandi duluan. Biasanya Angga yang mandi duluan, cuma hari ini aku mendadak rajin aja. Heh, ketawa mulu nih anak!"
Tina berusaha meredakan kekehan tawanya dengan fokus menatap laporan yang dibuatnya di laptop. Ia meringis pada Gea. "Sori, cerita rumah tanggamu selalu lucu-lucu, sih. Kayak adegan-adegan di sinetron. Kalau di TV judulmu bakal jadi: Istri Iparku Tinggal Serumah Denganku."
"Istri Kakak dari Suamiku Menjadi Benalu Rumah Tangga," Gea mengoreksi.
Tina tergelak lagi sementara Gea cemberut. Kedamaian di rumahnya terusik sejak satu bulan lalu. Tadinya Gea hidup tenang bersama Angga di rumah mereka sendiri. Suaminya membuat rumah dua tingkat dengan banyak kamar karena mereka berencana punya tiga anak.
Lebih juga boleh, seloroh Angga di bulan-bulan awal pernikahan mereka.
Sekarang pernikahan Gea dan Angga sudah memasuki tahun kedua, tapi alih-alih anak, yang datang mengisi kamar-kamar kosong tersebut justru orang lain.
Semuanya dimulai dari meninggalnya Reno, kakak Angga, yang memang sudah menjalani cuci darah selama satu setengah tahun. Reno meninggalkan istri dan dua anak yang masih kecil, Tomi, tujuh tahun, dan Vino, empat tahun.
Iba pada menantunya, Ajeng, yang menjanda di usia semuda 27 tahun, Mami memberi usul agar mereka tinggal bersama dengan Angga.
Diminta secara pribadi oleh ibunya sendiri, Angga tidak bisa menolak.
Maka jadilah di rumah mereka bertambah empat anggota keluarga yang baru. Mami, Ajeng, Tomi, dan Vino.
Gea awalnya tidak keberatan sama sekali. Ia ikut sibuk mengurus pemakaman Reno begitu mendapat kabar duka. Ia melihat betapa terpukulnya Mami kehilangan putra pertama. Ia mendengar dan melihat bagaimana keponakan-keponakannya menangis bingung menatap ayah mereka yang tidur diam dalam peti putih berselimut selubung transparan. Rasa syok melumpuhkan Mami dan Ajeng, jadi yang kelabakan berkoordinasi dengan lingkungan setempat perihal pemakaman adalah Angga dan Gea.
Jika ada yang bisa Gea lakukan untuk meringankan beban keluarga suaminya, ia bersedia melakukannya. Maka dari itulah Gea langsung setuju ketika Angga membahas permintaan Mami untuk tinggal bersama mereka beserta Ajeng dan anak-anaknya. Gea senang bisa membantu.
Namun setelah satu bulan tinggal bersama mertua serta istri almarhum kakak iparnya, Gea sedikit menyesali keputusannya.
YOU ARE READING
Perfect Match
RomanceSejak kedatangan Ajeng dan anak-anaknya di rumah, hidup Gea jadi tidak damai lagi. Ia merasa perempuan itu menggoda suaminya. Masalahnya, Ajeng selalu dibela oleh Mami-mertua Gea. Ketika Gea mulai berpikir bahwa semua hanya perasaannya belaka, seran...
