Penglihatannya silau terkena cahaya. Padahal, hal yang terakhir ia ingat adalah ia sedang tidur selepas menghabiskan waktu untuk memandikan anjing kesayangannya, Nemo. Tanpa ia sadari, Ibunya sudah menyalakan lampu kamarnya.
"Putra" suara ibunya terdengar samar-samar.
Putra kembali ke kesadarannya setelah ibunya menggoyangkan badannya.
"Ayo bangun. Udah sore," Ibunya menggoyangkan badannya dengan lembut. Meyakinkan bahwa Putra sudah sepenuhnya sadar.
"Iya, bu. Ini Putra udah bangun,"
"Cepet ke bawah. Ibu udah bikin makan malam. Makan sama Papa." Ibunya turun ke ruang keluarga.
Putra terduduk di kasurnya. Kepalanya pening bukan main setelah bangun dari tidur sorenya. Anjingnya memasuki kamarnya dan langsung loncat ke kasur. Menghampiri Putra.
***
Di meja makan, Papa sudah menghabiskan suapan terakhir makan malamnya. Ibu melihat Putra turun dari kamarnya. Lalu, langsung menyiapkan makan malam untuk Putra.
"Makan, Nak. Ibu bikin makanan kesukaanmu, nih," kata Ibu sambil tersenyum menyiapkan ayam goreng di atas piring Putra.
Air muka Putra berubah tidak enak. Putra merasa bosan dengan makanan yang sama disetiap hari yang sama. Ibu selalu menyiapkan makanan sesuai dengan jadwalnya. Senin makan mie, Selasa makan daging, Rabu makan nasi goreng, dan hari ini, Kamis, jadwalnya makan ayam. Walaupun begitu Putra tetap makan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Papa Putra melihat perubahan air muka Putra. Tapi, Papa tidak menggubris dan menyimpan piring bekas makanannya diatas wastafel lalu kembali duduk di meja makan.
"Kamu malam ini mau keluar?" tanya Papa ke Putra yang sedang enggan menyuap makanannya.
"Mau ketemuan sama Nadin, Pa. Aku jemput dia di tempat kerjanya. Rencananya kita mau ngopi," jawab Putra, ketus, mengucapkan semua jawaban yang mungkin akan ditanya papanya.
Mata Papa melihat Ibu dengan harapan. Ibu membalasnya dengan menggelengkan kepala. Namun, Papa membalikkan tatapan Ibu dengan mengerenyitkan dahi.
"Tra ..." Papa ingin memulai pembicaraan. Namun, perkataan Papa dipotong oleh Ibu dengan cepat.
"Hati-hati di jalannya. Pulangnya jangan terlalu malam. Titip salam buat orang tua Nadin ya,"
Putra membalas dengan anggukan tanpa mengalihkan pandangan dari makanannya untuk menutupi kebosanannya dari makanan itu.
Papa menyenderkan badannya menahan kekesalannya. Lalu berdiri dan menyalakan TV untuk menonton berita.
"Seenggaknya kriminal ini lebih jelas tujuannya," gumam Papa.
Papa terdiam. Sadar akan perkataannya yang buruk. Menyesal.
Putra adalah anak semata wayang di keluarga ini. Butuh waktu 7 tahun untuk ibunya bangkit dari kesedihan sejak 3 kali keguguran saat mengandung kakak-kakak Putra. Sejak Putra lahir, ibu dan papanya sangat melindungi Putra. Termasuk, melindungi perasaan Putra dari kesedihan dan rasa lelah.
Akibatnya, di umur 24 tahun ini, Putra sudah 2 kali pindah tempat kuliah. Hingga akhirnya 2 tahun terakhir ia memutuskan untuk menganggur karena setiap kali Putra cerita ke ibunya soal perkuliahan yang menurut Putra melelahkan, Ibu Putra selalu menyetujui keinginan Putra untuk pindah kampus ke tempat yang lebih "nyaman" menurutnya.
Putra menyudahi setengah dari makannya.
"Bu, aku mau pake mobil Papa ya," pinta Putra ke ibunya.
"Emang mobil kamu kenapa?" tanya Papa sambil tetap memandang TV yang sedang menampilkan berita perampokan.
YOU ARE READING
Semata
General Fiction"Semua ini salah mereka karena sayang padaku." Putra tertunduk. Disebuah ayunan yang mengayun pelan, Irya mendengarkan cerita Putra dengan saksama. Terucap dalam benaknya mengapa ada orang yang tidak ingin disayang oleh orang tuanya. Keinginan Irya...
