P R O L O G.

5 1 1
                                        

Jakarta, 23 April 2011



__________


"Sudah berapa kali saya bilang, jangan keluar rumah kalau bukan perintah dari saya!" suara bentakan Nagara membuat tubuh Libra bergetar kencang, bocah berusia 7 tahun itu sangat ketakutan hingga berhasil memecah suara isakan tangis yang sejak tadi ia tahan.

Tanpa ampun, Nagara memukuli punggung Libra dengan kayu rotan yang ia buat sendiri untuk menghukum putera sematawayang nya itu. Gara terlihat tidak peduli pada tubuh Libra yang sudah banyak bekas luka. Setiap hari Gara selalu memukuli Libra. Entah dengan tangan kosong atau alat-alat keras yang ada di sekitar nya.

"sakit," rintih Libra, dia tidak bisa lagi menahan rasa sakit di tubuh mungil nya. Tetes demi tetes air mata mulai berjatuhan membasahi lantai ruang kerja Gara. Posisi push up yang sudah Libra lakukan selama kurang lebih satu jam, juga membuat tangannya terasa sakit. Kini, semua nya terasa begitu menyakitkan untuk Libra.

Mendengar suara rintahan dari anak nya, Gara malah mendang tubuh Libra hingga terjatuh.

"laki-laki itu ngga boleh lemah!" bentak Gara, ia berjongkok di samping tubuh Libra yang tergeletak lemas diatas lantai dingin. Seperti belum puas, Gara menggendong tubuh Libra untuk dibawa ke kamar mandi. Gara memaksa Libra tiduran di dalam bath up mandi. Kemudian ia menyalakan air dingin hinggal air tersebut menyentuh kulit leher Libra. Libra hanya diam sambil memandangi ayah nya dengan tatapan sendu.

"tenggelamkan kepala kamu," suruh Gara.

Tanpa ada nya penolakan sedikit pun, Libra menenggelamkan kepala nya. "kamu baru boleh mengambil napas, ketika sudah dapat izin dari saya. Paham?" tanya Gara.

Libra mengangguk, lemah.

Di dalam bath up yang dingin, sebisa mungkin Libra menguatkan diri nya agar tidak hilang kesadaran. Jujur, napas anak itu sudah hampir habis karena Gara yang masih belum memberi izin diri nya mengambil napas walau hanya tiga detik. Waktu terus berlalu, sampai akhirnya masuk di menit ketiga, Libra memilih pasrah.

Kesadarannya menghilang total. Dia tidak bisa lagi menahan rasa sesak di dada nya.

"ini hukuman untuk kamu, anak nakal." Itu adalah kalimat terakhir yang Libra dengar dari Gara sebelum ia memejamkan kedua mata nya.



   __________ Bertemu di bab selanjut nya 🤍

   __________ Bertemu di bab selanjut nya 🤍

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Libra di bulan AprilStories to obsess over. Discover now