Sebilah pisau itu tergeletak dilantai, darah mengalir bak air terjun menuju arah kedua sepasang kaki yang hanya terbalutkan kaos kaki berwarna coklat.
Pemuda itu kesulitan mencerna keadaan apa yang tengah ia alami, peluhnya semakin deras menghujam tiap inci tubuhnya, kedua kakinya terasa berat untuk sekedar bergerak meminta pertolongan ataupun memeriksa hal mengerikan yang dilihat oleh kedua matanya.
"J-jisung-a~" Tanpa sadar ia bergumam demikian.
Ketakutannya semakin mencekik lehernya, hingga ia kesulitan bernafas kala melihat tubuh yang dipanggil 'jisung' itu mengejang beberapa detik hingga seperkian detiknya tubuh kurus kering yang terdampar begitu tak berhatinya mendadak membisu seperti orang yang sudah kehilangan nyawa.
Ketakutan, kesedihan, kesakitan, kerinduan dan panik beradu menjadi satu di jiwa pemuda itu saat ini.
Niatnya ingin memperlihatkan oleh-oleh jambore yang baru saja ia dapat hasil dari memberanikan diri mengikuti kegiatan kelas tiga wajib itupun lantas pupus begitu saja bagaikan sari-sari bunga dandelion yang berterbangan tak tentu arah dan berhamburan dari intinya.
Sekelabat memori-memori sebelum ia berangkat pun tiba-tiba saja menerjang ingatan pemuda itu, sangat jelas tergambar seulas senyuman yang sangat teduh dan menenangkan namun saat ini rasanya gambaran senyuman itu sangat mampu membunuh jiwa pemuda itu dalam sekali hantaman.
Penyesalan, ya penyesalan.
Penyesalan memenuhi raganya, mengapa? Kenapa? Kosa kata itu muncul disaat penyesalan menyadarkannya bahwa semuanya sudah sangat terlambat.
Beberapa saat kemudian pemuda itu terjatuh, kedua lututnya sudah tak sanggup lagi menahan beban yang dipikul nya, ranselnya yang sangat berat itu bahkan mengalahkan rasa yang saat ini tengah pemuda itu rasakan.
ARGHHHHH!
Seorang wanita berpakaian super glamor dengan rambut yang disanggul keatas menunjukkan bahwasanya ia bukanlah dari kalangan masyarakat biasa itupun terdengar begitu tercengangnya.
Kedua tangannya yang bergetar hebat menutupi mulutnya dengan kedua mata yang hampir menujukkan urat-urat kecilnya.
"K-kau membunuh adikmu?"
Ucapan wanita itu berhasil menyadarkan pemuda tersebut, namun pemuda itu entah mengapa malah berpasrah seolah benar-benar ialah yang melakukan hal keji ini.
"Anak iblis!" Wanita itu mengumpat begitu kejamnya.
Bersambung...
*semoga idenya lancar jaya, gak Writblock ಥ_ಥ
VOUS LISEZ
GUTTED || W. Nct Dream✔️
NouvellesAda kalanya pemuda itu juga merasa tak adil karena harus menerima ini semua, namun saat kedua lutut itu bersimpuh tepat dihadapannya, apa yang bisa ia lakukan? Start: march/10/24 End: april/06/24 ⚠️ plagiarism is strictly prohibited ⚠️
