بسم الله الرحمن الرحيم
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!
BACA YAA, PWISS JANGAN DI SKIP!💗
Halo, selamat datang di cerita pertama akuu! Sebelumnya perkenalkan nama aku Alin, atau kalian bisa panggil aku Bubun atau apalah asal jangan author/mimin hehe, maksut aku nyuruh manggil Bubun itu biar lebih akrab aja mwehehe:p anw, itu bukan nama asli aku ya, itu nama adik akuu yang paling aku sayang ehehe.
Oh, ya! aku cuma mau bilang kalau cerita ini murni hasil dari kepala aku sendiri yaa. So, kalau kemungkinan ada nama tokoh yang sama, atau sesuatu kejadian yang sama, itu benar-benar tidak di sengaja. Aku tekankan juga, kalau cerita ini hanya FIKSI BELAKA. Jadi, untuk kalian yang kemungkinan berfikir "muslim kok percaya gituan" mohon kerja samanya, aku cuma ngarang, ada enggaknya Wallahu'alam, hanya Allah yang tahu.
Aku minta tolong sama kalian, sebelum baca untuk klik tombol vote, dan spam komen biar akuu makin semangat updatenya ◜‿◝
Syukron khairan.
Wa jazakumullah khairan untuk kalian yang mau baca♡♡
Selamat membaca!
Suasana gedung sekolah bisa terbilang cukup ramai pada saat ini. Para siswa-siswi ber-toga, bersama keluarganya, banyak yang datang untuk menghadiri acara kelulusan Madrasah Tsanawiyah di tahun ini.
Di barisan paling depan, tempat wisudawan dan wisudawati duduk, tepatnya di pojok, ada tiga orang wanita yang sedang duduk sembari mengobrol ringan.
Ketiganya sama-sama sedang menunggu orang tua masing-masing untuk datang ke-acara kelulusan mereka pada tahun ini.
"Kamu deg-degan, nggak, sih?" tanya seorang gadis berhijab abu-abu, namanya Fatimah Azahra. Atau lebih akrab dipanggil dengan sebutan Zahra.
"Banget! Mana sebentar lagi kita udah SMA yah, perasaan kemarin baru aja MPLS." seru lawan bicaranya seraya mengigit bibir bawahnya. Gadis ini bernama Syifa, lengkapnya Syifaiha Anindy.
"Sha," gadis bernama Zahra itu, ia menyenggol lengan temannya yang tampak seperti sedang celingukan mencari keberadaan seseorang.
Kalisha Salshabilla Humairah. Itu nama lengkap perempuan yang saat ini sedang mencari keberadaan ayah dan ibunya.
Perempuan yang memiliki mata kecoklatan, hidung bangir, bibir berwarna pink kecil, dan kulit putih bening layaknya seorang warga ginseng itu menoleh kesamping.
"Pasti kamu lagi deg-degan, 'kan? Sama kayak aku dan Syifa, lah, ya?"
"HAH?!" Kalisha. Gadis itu mengangakan mulutnya tak dapat mendengar jelas ucapan yang dilontarkan Zahra. Pasalnya, di gedung itu benar-benar ramai orang yang berdatangan ke acara wisuda.
Zahra menggelengkan kepalanya tak berniat mengulang ucapannya, gadis itu kembali fokus pada guru yang sebentar lagi ingin memulai acara kelulusan.
Drttt... Drrttt...
Umma Lisha
Itulah tulisan yang muncul di layar ponsel Kalisha. Yang menelponnya saat ini adalah ibunya, tandanya ibunya ingin mengabari kalau ia sudah berada di depan gedung.
YOU ARE READING
Gus Kafa Untuk Kalisha
Teen Fiction[SEBELUM BACA JANGAN LUPA FOLLOW YA!] Ini kisah seorang gadis polos bernama Kalisha. Gadis cantik berbulu mata lentik yang memiliki angan-angan ingin menuntut ilmu di pondok pesantren setelah menyelesaikan madrasah Tsanawiyah nya. Namun, bagaimana k...
