[01]

21 1 1
                                        


[01]


2023
.

Sebuah koran terlempar diatas pangkuannya, mendistraksi suasana tentram nan damai dalam kegiatan me time di halaman belakang hingga ia harus menahan decakan dan memilih memutar bola mata membelakangi Mama yang langsung mendarat duduk di kursi seberang dengan batas meja bundar.

Satu nama terpampang apik membuatnya mau tak mau membaca detail headline berita. Sayang sekali hari sore setelah pekerjaan packing barang olshop baru dibereskan, lalu rencana bersantainya hancur begitu saja.

Pradipta Danasura Arshaka.
Pemuda Forbes under 30 Asia 2023 kategori retail & E-commerce

Sembari meneliti kata demi kata, berkali-kali ia melirik foto separuh lampiran koran. Rupa Pradipta. Wajah tampan itu terlihat jelas oleh siapapun yang membeli koran. Selesai di paragraf terakhir. Ia melipat koran kembali dengan gerakan anggun yang kerap kali diajarkan keluarganya sedari kecil lantas dengan gentar perempuan itu menatap takut wanita paruh baya dihadapannya. Bahkan tangan itu sudah bersedekap menatap balik padanya.

"Sudah kamu baca?"

"Sudah Ma." Kedua tangannya bergerak menggosok lengan atas hingga bawah, mendadak bulu kuduknya merinding sembari runtutan kalimat yang tak berkesudahan lolos dari Mama.

"....mpan. Orang yang melamar kamu 7 tahun lalu sudah sukses bahkan sampai masuk koran. Kenapa sih Nak, kamu dulu menolak lamarannya?"

Here. We. Go. Again. Ia berdecak, menyilangkan kaki dan bersandar ke punggung kursi.

"Sarah Karmila Atmaja. Tidak sopan, turunkan kakimu. Memangnya kamu berbicara dengan siapa sekarang. Jangan tinggi hati."

Pelan-pelan ia turunkan kaki lantas kembali duduk tegak. Sekujur wajah Mama sudah merah padam. Dapat ia rasakan tatapan dari para pekerja mulai menghujam punggungnya, persetan dengan gosip yang muncul sebentar lagi pada telinga pembantu demi pembantu mengenai sikap, tingkah laku, atau apapun itu. Toh, pada akhirnya bisikan itu akan terus bergulir sampai ke telinga tetangga di kompleks meskipun sudah ditegur untuk tidak menyebarkan apapun.

Kini sudah terhitung ke-21 pertanyaan 'Mengapa tidak menerima lamaran seorang Pradipta?' itu muncul dari Mamanya. Siapa sangka dia akan begitu populer setelah 7 tahun berlalu. Sarah mengembuskan napas sejenak, merangkai kata juga kalimat yang sopan untuk ia lontarkan pada Mama.

"Ma, lagipula sekarang kita masih berhubungan baik dengan keluarganya kan, ya meskipun Pradipta hampir putus hubungan dengan keluarganya. Tapi itu bukan lagi urusan kita." Sarah mengambil napas, memberi jeda sejenak. "Kami juga bahagia di jalan masing-masing, dia sudah beristri dan akan melahirkan seorang anak. Sedangkan aku juga sudah punya usaha di bidang fashion, olshopku juga laris manis setiap hari dan kebutuhan kita juga lebih dari cukup setelah Papa meninggal, dan toko di Surabaya juga masih berjalan dengan bantuan kita berdua. Terus, Rena juga bersekolah dengan baik. Nggak ada lagi yang diperlukan kan..."

Wanita paruh baya didepannya memijat pangkal hidung tak habis pikir dengan tujuan Sarah membuat Pradipta mundur dari rencana pernikahan yang diaturkan secara tidak langsung oleh kedua keluarga. Dia memang tak sekaya dan seprofesional sekarang. Namun, Wanita tua ini sudah melihat potensi yang dimiliki lelaki itu bahkan jauh saat dia mendirikan perusahaan start-up 1 tahun selepas Pradipta mundur dari lamaran dengan Sarah. Walaupun sudah dipikirkan hingga jenjang pernikahan, dan tidak ada masalah sekalipun dengan kedua pihak. Namun, suatu hari Pradipta mengemukakan alasan jujur darinya. Mencintai perempuan lain katanya. Lalu memohon maaf dan berjanji akan mengganti kerugian untuk wedding organizer dan membayar seluruh rangkaian acara akad sampai resepsi. Yang memang kontan ia kirimkan ke rekening Papa. Ya, meskipun tidak langsung lunas. Namun, janji itu benar saja ia tepati beres di tahun 2020. Selama permohonan maaf pihak keluarga Pradipta, Sarah hanya terdiam monoton seakan tau peristiwa ini akan terjadi. Ia bahkan menerima dengan legowo, seminggu setelah itu wajahnya menjadi semringah dan langsung berencana membuka olshop di marketplace. Walaupun setelah itu berita duka menyembul dipermukaan, Papa meninggal karena serangan jantung. Merokok setiap hari ternyata menimbulkan cukup banyak masalah di umur tua. Sesudahnya Sarah berhenti total dari bisnis toko yang baru saja ia luncurkan dan tutup temporer dalam kurun waktu yang belum ditentukan, pun gadis itu membubarkan sementara rekrutan karyawan. Lalu beralih membantu bisnis yang ditinggalkan Papa. Baru setahun berlalu, setelah dikira semua sudah mulai stabil Sarah meminta izin untuk membuka kembali usahanya.

"Mama cuma sedih, kamu sudah umur 28-" Sarah mengangkat telapak tangannya.
"Ralat....27 Ma."

"Itu nggak ada bedanya Nak. Kamu harus segera menikah. Mama takut makin bertambah usia nanti nggak ada yang mau sama kamu--" kini berganti Mama mengangkat tangannya, menghentikan Sarah yang siap protes pada kalimat 'Nggak ada yang mau sama kamu.'

"Mama belum selesai ngomong, dengerin dulu sampai akhir..." wanita paruh baya itu menghela napas, wajahnya berubah sendu. "Mama tau kamu mau nemenin Mama yang sudah berumur 57 tahun ini, tapi kalau Mama meninggal tanpa tau kapan kamu nikah itu bikin Mama makin sakit hati karena nggak sempat melihat kamu bersama seseorang yang baik untuk memulai hidup baru..."

Diam. Keheningan mulai mengarungi keduanya. Sarah lebih memilih untuk menunduk tanpa berucap apapun. Mulutnya terkunci rapat selepas Mama mengatakan begitu banyak kekhawatiran padanya. Satu-satunya suara yang timbul diantaranya hanya Bi Ina sedang menyapu halaman dengan sapu kerik sembari curi pandang, mengintai majikan ibu-anak tengah membicarakan apa.

Tentunya Mama atau siapapun tidak akan pernah tau alasan Sarah membatalkan pernikahan dengan rencana yang sangat matang itu. Dan Sarah pun tak berniat untuk membicarakan hal yang sia-sia, merugi.

*

Halo.... pembacaku yang budiman....

Aku Qey.

Ini karya pertamaku, mungkin akan ada banyak revisi, saran atau bisa jadi kritik. Aku akan selalu menerima kritikan kalian asalkan sopan ya. Kritik konstruktif.

Dan semoga kedepannya karyaku semakin ramai dan baik disetiap chapternya...😋😋

See you...

Vote and comment sangat berarti buatku...

Luv you...

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 18, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

REDUM [Terkungkung dalam Temaram]Stories to obsess over. Discover now