1. Informasi Sampah (1-7)

53 10 1
                                        

Satu gigitan roti tawar masuk ke dalam mulutnya. Mada terus memperhatikan banyak mobil dengan jenis juga warna yang berbeda-beda masuk ke dalam istana di komplek itu. Hanya rumah mewah, namun terlalu besar untuk disebut rumah untuk warga sekitar. Maka mereka menyebutnya istana.

Istana itu baru terjual minggu lalu dan sejak saat itu banyak mobil membawa furnitur baru dan membuang furnitur lama yang telah tersedia saat para penghuni baru istana itu membeli istana tersebut. Banyak mobil berlalu lalang sejak saat itu. Mada terus memperhatikan, di kalangannya yang tergolong paling rendah di komplek itu, ia bersama dengan rekan setaranya banyak mendiskusikan tentang istana yang terbeli oleh keluarga baru itu. Keluarga kaya mana lagi yang akan menguasai komplek ini? Ia tidak tau, firasatnya buruk, itu juga disetujui oleh rekannya yang lain di markas perkumpulan mereka. Belum ada yang mengenal dari mana keluarga baru ini berasal. Namun berita burung mengabarkan bahwa keluarga itu dipimpin nenek-nenek tua yang rentan.

Mada menatap pucuk istana itu. Menatap ke arah jendela paling atas. Mungkinkah nenek-nenek tua yang rentan itu akan tinggal di sana karena ialah pemimpin keluarga itu. Ia tidak yakin. Dan karena seorang wanita tua yang menjadi pemimpin keluarga kaya yang akan menduduki istana di komplek itu. Semua orang dibuat heran. Bagaimana bisa nenek tua itu bertahan?

Semua orang pasti menyadari itu juga. Seluruh penduduk di sekitar, bahkan penghuni rumah mewah yang berhadapan langsung dengan istana itu terheran-heran. Itu hal yang tidak mungkin. Sesuatu yang hebat pasti terjadi di dalamnya. Pembahasan itu pun menjadi topik hangat di markas perkumpulan Mada bersama rekan setaranya, juga bagi tetangga lain.

Satu laki-laki seumuran dengannya keluar untuk menutup gerbang dengan tangannya sendiri saat seluruh mobil telah masuk. Ia yakin anak laki-laki itu bukan pembantu atau semacamnya, ia pasti bagian dari keluarga itu. Jelas, ia memakai pakaian mahal, sepatunya mengkilat, meski dengan pakaian yang membalutnya itu dapat dikatakan mencolok, wajahnya nampak linglung. Ia kebingungan, itu pasti.

Mada masih tetap memperhatikan anak laki-laki linglung itu hingga gerbangnya tertutup, dikunci dari dalam. Ia mendengar sendiri suara gemboknya. Saat itu ia menyadari, tidak ada penjaga untuk rumah itu, mereka tidak memperkerjakan satpam atau penjaga untuk istana mereka. Keanehan itu membuatnya makin kebingungan. Baru kali ini ia melihat sendiri orang kaya raya yang nampak tidak takut jika kekayaannya itu dicuri. Bagaimana dengan supir? Mungkin mereka masih memperkerjakan supir. Tidak ada orang kaya yang mau menyetir, semua terlalu sibuk dengan dunia keuangan mereka.

Rotinya itu habis, hanya satu lembar ia mengambilnya dari gubuknya. Walau disebut gubuk oleh tetangga lain di komplek itu, sebenarnya rumah milik Mada adalah rumah paling standar yang dapat ditinggali oleh satu orang. Bahkan rumah itu sebenarnya dapat dihuni oleh dua sampai tiga orang lain lagi mengingat kamar yang masih tersisa. Namun tetangga di komplek itu tetap menggolongkan rumahnya sebagai gubuk. Alhasil ia memperkerjakan pembantu dan memperbolehkan mereka untuk mengisi kamar kosong di rumahnya. Ia, Mada, bukan pemuda yang miskin! Hanya saja ia salah memilih tempat tinggal dimana isinya adalah orang-orang yang terlalu elit. Ia hanya salah memilih lingkungan.

Pekerjaannya saat ini adalah pengacara. Bagaimana mungkin dirinya ini disebut sebagai orang miskin, kan? Namun lagi-lagi, ini karena lingkungan tempat tinggalnya terlalu elit.

Ia akhirnya sampai di rumah, ingin membawa satu bungkus roti tawar untuk dimakannya sambil berjalan mengelilingi komplek itu. Udara sore membuatnya ingin keluar rumah, dan karena itu juga-mungkin-ia disebut golongan paling rendah di komplek itu. Semua golongan atas tidak pernah jalan kaki sepertinya untuk keluar rumah. Jalanan area komplek selalu sepi, hanya para pembantu dan pesuruh dari rumah-rumah di komplek itu saja yang mengisi jalanan, juga tentunya mobil-mobil mewah yang keluar.

Mada akan pergi ke markas mereka. Mengabari seluruh rekannya apa yang ia temukan hari ini, bahwa rumah itu tidak memperkerjakan seorang satpam atau seorang penjaga! Sambil membawa bungkus roti dengan satu tangan lainnya memegang satu lembar roti yang tengah ia makan, ia membuka pintu markasnya. Sebenarnya itu adalah rumah milik Sriandean, seorang perempuan seumurannya yang satu tingkat lebih 'kaya' dibandingkan dirinya dan Jagad. Sebenarnya juga anggota mereka hanya bertiga.

SANGKAWhere stories live. Discover now