Angin malam berembus lembut, mengelus rambut panjang Kejora yang tergerai bebas. Ia duduk diam di tepi sungai, membiarkan dinginnya udara menusuk kulitnya, seolah tak lagi peduli. Di hadapannya, permukaan air berkilau, memantulkan cahaya bulan dan bintang-bintang yang bertaburan di langit malam. Tapi tak ada keindahan yang bisa meredakan kekosongan di dadanya malam itu.
Tatapan Kejora kosong, menembus gelap, seperti menatap sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain, masa lalu, kenangan, luka. Perlahan, setetes air mata jatuh. Lalu yang kedua. Dan seterusnya.
“Bunda…” bisiknya, nyaris tak terdengar. “Jora nggak sanggup lagi… Jora mau ikut Bunda…”
Suaranya pecah, tenggelam bersama isak yang ia tahan begitu keras. Malam itu, dunia terasa terlalu sunyi. Dan Kejora terlalu lelah.
Hidup tak pernah memberinya pilihan yang adil. Sejak kepergian ibunya, semuanya terasa runtuh. Kejora mencoba kuat, mencoba tersenyum, mencoba untuk tetap bernapas namun sampai kapan? Sampai kapan harus pura-pura baik-baik saja?
Bukankah Tuhan adil? Lalu kenapa hidupnya dipenuhi luka?
**
Sementara itu, di sisi kota yang sama namun dalam dunia yang berbeda, Alex keluar dari sebuah bar yang bising. Musik berdentum di belakangnya, tawa-tawa mabuk terdengar sayup. Tapi tidak ada satu pun yang membuatnya merasa hidup.
“Bro, gue keluar dulu. Cari udara.” Suaranya datar saat memberi tahu temannya.
Langkah kakinya membawanya menyusuri trotoar kosong, lalu tanpa sadar, menuju tepi sungai. Tempat yang entah mengapa terasa lebih jujur daripada ruangan penuh orang yang pura-pura bahagia.
Matanya menangkap sosok seorang gadis duduk sendiri, membelakangi dunia. Rambut panjangnya bergoyang diterpa angin. Ia tampak begitu… hancur.
Alex mendekat perlahan. Bukan karena penasaran. Tapi karena ada sesuatu dalam dirinya yang merasa, gadis itu butuh seseorang. Sama seperti dirinya malam itu.
Ia duduk di sampingnya, menjaga jarak, tapi cukup dekat untuk terdengar.
“Haaah…” desahnya panjang. “Akhirnya bisa bernapas.”
Kejora menoleh sekilas. Tak berkata apa-apa. Lalu berdiri, hendak pergi.
Namun tiba-tiba, Alex menggenggam tangannya.
“Temenin gue sebentar aja…” katanya lirih. “Gue nggak mau sendiri malam ini.”
Kejora terdiam. Ia bisa saja pergi. Ia tidak mengenalnya. Tapi entah kenapa… genggaman tangan itu terasa hangat. Bukan dalam arti fisik tetapi hangat seperti… kehadiran.
Perlahan, ia melepaskan tangan Alex dari genggamannya. Namun bukan untuk pergi. Ia kembali duduk. Di tempat yang sama.
“Gue Alex Alevis,” katanya pelan. “Panggil aja Alex.”
Kejora menoleh sedikit, lalu tersenyum tipis. Senyum yang begitu kecil, tapi bagi Alex… cukup untuk membuat napasnya terhenti sejenak.
Cantik banget… batinnya.
“Nama lo siapa?” tanyanya.
“…Kejora.”
Alex mengangguk. “Nama lo secantik orangnya,” ucapnya jujur, sambil menatap bintang-bintang di atas.
Kejora tak menjawab. Tapi matanya mulai terasa lebih tenang.
Dan di malam yang dingin itu, dua orang asing yang sama-sama patah, duduk bersebelahan tanpa banyak kata. Kadang, kesedihan tak butuh nasihat. Kadang, hanya butuh seseorang… yang mau duduk di samping, dan tidak pergi.
YOU ARE READING
I hope my life has a happy ending
Teen Fictionkisah Kejora Aldenia yang hidup nya gelap berantakan dan kejam tiba tiba Alex Alevis datang memberikan cahaya untuk Kejora.
